Min.co.id | Indramayu – Di sebuah rumah sederhana di Blok Lebiyah, Desa Rancahan, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, Rawin duduk tenang sambil mengisahkan sebuah warisan budaya yang menurutnya mulai banyak disalahpahami. Bukan benda pusaka atau bangunan bersejarah yang ia ceritakan, melainkan makna di balik istilah sajen yang selama ini kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis.
Sebagai budayawan yang aktif melestarikan tradisi lokal, Rawin menilai sebagian masyarakat hanya melihat bentuk pelaksanaan tradisi tanpa memahami filosofi yang diwariskan para leluhur.
Menurut Rawin, istilah sajen memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada anggapan yang berkembang di masyarakat.
“Kalau dipahami maknanya, sajen bukan urusan mistis. Menurut pemahaman yang saya terima dari para leluhur, sajen dimaknai sebagai Sastra Jendra. Sastra berarti ajaran, sedangkan Jendra berarti luhur. Jadi sajen merupakan ajaran luhur yang diwariskan kepada generasi penerus,” ujar Rawin saat ditemui Min.co.id.
Ia menjelaskan, ajaran luhur tersebut berisi tuntunan tentang tata krama atau unggah-ungguh dalam kehidupan, mulai dari hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, sikap menghormati sesama manusia, hingga menjaga kelestarian alam sebagai tempat manusia menjalani kehidupan.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut selama ini hadir dalam berbagai tradisi masyarakat, seperti syukuran, sedekah bumi, ruwatan, maupun ritual adat lainnya. Dalam pandangannya, tradisi tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, bukan bentuk pemujaan kepada makhluk gaib.
Rawin mengatakan perubahan zaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Bentuk pelaksanaan tradisi boleh berkembang mengikuti kondisi masyarakat, namun nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap perlu dijaga.
“Yang terpenting bukan sekadar mempertahankan ritualnya, tetapi memahami nilai kehidupan yang diwariskan leluhur melalui tradisi tersebut,” katanya.
Di tengah arus modernisasi, Rawin berharap generasi muda tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap tradisi yang diwariskan nenek moyang. Ia mengajak masyarakat untuk mengenali sejarah, filosofi, serta makna budaya sebelum menyimpulkan sebuah tradisi sebagai sesuatu yang identik dengan praktik mistis.
Baginya, selama manusia tetap menjaga adab kepada Tuhan, menghormati sesama, serta merawat alam, maka ajaran luhur yang menurutnya terkandung dalam konsep Sastra Jendra akan tetap hidup sebagai pedoman kehidupan.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara langsung dengan Rawin, budayawan Kabupaten Indramayu.










Komentar