Sabtu Malam di Desa Jangga: Pasar yang Pernah Ramai Itu Kini Berjuang Bertahan

Min.co.id | Indramayu – Satu per satu lampu mulai menyala ketika malam turun di Desa Jangga, Sabtu (25/7/2026). Di sepanjang jalan yang setiap pekan menjadi lokasi Pasar Mingguan, para pedagang sibuk menata dagangannya. Ada yang menggantung pakaian, menyusun sandal, menata mainan anak, hingga menggelar jajanan tradisional di atas meja sederhana.

Pembeli memang masih berdatangan. Anak-anak berlarian di antara lapak, sementara beberapa ibu terlihat memilih kebutuhan rumah tangga. Namun, suasana pasar malam yang dulu dikenal ramai itu kini tidak lagi seperti beberapa tahun lalu.

Beberapa bagian pasar tampak lengang. Lapak yang biasanya penuh kini mulai berkurang. Pedagang yang datang pun tidak sebanyak dulu.

Bagi warga Desa Jangga, pasar malam mingguan bukan sekadar tempat berbelanja. Pasar yang digelar setiap Sabtu malam itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama puluhan tahun. Warga dari desa sekitar juga biasa datang untuk mencari kebutuhan sehari-hari, mencicipi jajanan tradisional, atau sekadar berjalan-jalan bersama keluarga.

Kini, perubahan mulai terasa.

Kemudahan berbelanja melalui aplikasi digital dan toko daring disebut menjadi salah satu penyebab berkurangnya pengunjung. Banyak warga memilih membeli barang dari rumah karena dianggap lebih praktis.

Meski demikian, sebagian pedagang memilih tetap bertahan.

Di salah satu sudut pasar, Rojim tampak melayani pembeli yang datang melihat-lihat dagangannya. Pria yang mengaku telah berjualan lebih dari 30 tahun itu mengatakan suasana pasar sekarang jauh berbeda dibanding masa-masa ketika hampir seluruh jalan dipenuhi pengunjung.

“Saya sudah lebih dari 30 tahun jualan di sini. Dulu kalau malam Minggu begini ramai sekali. Sekarang masih ada pembeli, tapi memang tidak seramai dulu,” katanya.

Meski hasil jualannya tidak lagi sebesar beberapa tahun lalu, Rojim mengaku tetap datang setiap pekan. Baginya, pasar mingguan sudah menjadi bagian dari mata pencahariannya.

Tidak jauh dari lapak pakaian, aroma jajanan tradisional masih menguar dari deretan penjual makanan. Klepon, kue basah, gorengan, hingga aneka jajanan pasar tetap menjadi incaran pengunjung.

Lilis Junaenah, salah seorang warga yang ditemui di lokasi, mengaku sengaja datang untuk membeli seragam Pramuka anaknya.

“Saya cari seragam Pramuka buat putri saya,” ujarnya.

Sebelum pulang, ia mengaku juga akan membeli klepon yang dijual di pasar tersebut.

“Sekalian beli klepon. Anak-anak di rumah suka,” katanya sambil tersenyum.

Keberadaan jajanan tradisional menjadi salah satu alasan mengapa sebagian warga masih rutin datang ke Pasar Mingguan Desa Jangga. Bagi mereka, makanan-makanan itu menghadirkan rasa yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk membeli barang, tetapi juga menikmati suasana pasar yang masih menyisakan nuansa kebersamaan. Di tempat inilah warga saling menyapa, berbincang dengan tetangga, atau sekadar melepas penat setelah sepekan bekerja.

Meski tidak lagi seramai masa kejayaannya, Pasar Mingguan Desa Jangga tetap menjadi denyut ekonomi bagi pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari keramaian setiap Sabtu malam.

Sejumlah warga berharap pasar tradisional ini terus dipertahankan. Mereka menilai pemerintah desa bersama masyarakat dapat menghadirkan berbagai kegiatan, seperti hiburan rakyat, pertunjukan seni, atau promosi melalui media sosial agar pasar kembali ramai dikunjungi.

Di tengah pesatnya perkembangan belanja daring, Pasar Mingguan Desa Jangga masih berdiri. Tidak semegah pusat perbelanjaan modern, tetapi setiap Sabtu malam pasar ini tetap menghadirkan cerita tentang pedagang yang bertahan, pembeli yang masih setia datang, dan tradisi yang belum ingin hilang ditelan zaman.

Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Hasil pantauan langsung di Pasar Mingguan Desa Jangga, wawancara dengan pedagang dan pengunjung, Sabtu (25/7/2026).

Komentar

News Feed