Di Balik Kayon Wayang, Ki Tano Menjaga Warisan Falsafah Hidup Leluhur

Min.co.id | Indramayu – Di tangan Ki Tano, selembar Kayon atau Gunungan wayang bukan sekadar karya seni yang mengawali dan mengakhiri sebuah pertunjukan.

Di balik setiap goresan gambar, tersimpan petuah tentang kehidupan, keteguhan hati, hingga perjuangan manusia menaklukkan hawa nafsunya.

Melalui simbol-simbol itu, seniman asal Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, berupaya menjaga agar warisan filsafat Jawa tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.

Bagi sebagian orang, Kayon hanya dipandang sebagai pelengkap dalam pertunjukan wayang. Namun, menurut Ki Tano, setiap unsur yang tergambar di dalamnya memiliki makna yang saling berkaitan dan menjadi tuntunan bagi manusia dalam menjalani kehidupan.

“Wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Kayon mengajarkan bagaimana manusia mengenal dirinya sendiri, menjaga sikap, dan menjalani hidup dengan penuh kebijaksanaan,” ujar Ki Tano saat ditemui di kediamannya.

Di bagian tengah Kayon tergambar pohon yang menjulang tinggi. Menurut Ki Tano, pohon tersebut melambangkan kehidupan yang terus bertumbuh. Akarnya yang menghunjam ke bumi menggambarkan pentingnya memiliki pijakan yang kuat, sementara batang yang lurus menjadi simbol kejujuran, keteguhan, dan pendirian dalam menjalani hidup.

“Manusia harus seperti pohon. Akarnya kuat berpijak di bumi, tetapi cita-citanya mengarah ke langit. Artinya tetap rendah hati, namun memiliki tujuan hidup yang baik,” tuturnya.

Melilit batang pohon itu, terdapat seekor ular yang kerap disalahartikan sebagai simbol sesuatu yang menyeramkan. Padahal, dalam falsafah Jawa, ular justru melambangkan naluri, kekuatan, dan berbagai godaan yang akan selalu ditemui manusia sepanjang hidupnya.

“Ular itu bukan musuh. Justru menjadi pengingat bahwa hidup selalu menghadirkan cobaan. Yang terpenting adalah bagaimana manusia mampu mengendalikan dirinya, bukan dikendalikan oleh hawa nafsunya,” katanya.

Ki Tano menjelaskan, meskipun batang pohon dililit ular, pohon dalam Kayon tetap berdiri kokoh. Gambaran tersebut menjadi pesan agar manusia tidak mudah goyah oleh berbagai godaan, tetap berpegang pada prinsip, dan tidak kehilangan arah dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.

Di bagian puncak Kayon terdapat kepala buta yang menjadi simbol ego, kesombongan, dan amarah. Menurut Ki Tano, simbol tersebut mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan sifat buruk yang tumbuh di dalam dirinya sendiri.

“Kalau seseorang mampu mengalahkan ego dan hawa nafsunya, berarti ia sudah selangkah menuju kebijaksanaan. Itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan melalui Kayon,” jelasnya.

Sementara itu, dua ular yang berada di bagian bawah Kayon melambangkan keseimbangan hidup. Keduanya menggambarkan dua sisi yang selalu berdampingan, seperti baik dan buruk, siang dan malam, akal dan perasaan. Kehidupan, menurut Ki Tano, akan berjalan harmonis apabila manusia mampu menjaga keseimbangan di antara berbagai perbedaan tersebut.

Baginya, memahami Kayon tidak cukup hanya mengagumi bentuk dan keindahan lukisannya. Nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap simbol justru menjadi bekal agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan bijaksana, menjaga hubungan dengan sesama, menghormati alam, dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di tengah derasnya perkembangan zaman, Ki Tano berharap generasi muda tidak hanya mengenal wayang sebagai kesenian tradisional, tetapi juga memahami filosofi yang diwariskan para leluhur. Sebab, menurutnya, selama nilai-nilai itu tetap dipahami dan diamalkan, Kayon akan terus menjadi penunjuk arah bagi perjalanan hidup manusia.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara langsung dengan Ki Tano, pelukis dan pemerhati filsafat Jawa asal Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu.

Komentar

News Feed