Min.co.id | Indramayu – Ada cara berbeda yang dipilih FKPPI Kabupaten Indramayu untuk memaknai pertambahan usianya. Bukan sekadar berkumpul dalam suasana syukuran, tetapi terlebih dahulu menundukkan kepala di hadapan mereka yang telah lebih dulu berjuang, sebelum kemudian berbagi dengan mereka yang membutuhkan perhatian.
Peringatan HUT ke-48 Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) Cabang X.17 Kabupaten Indramayu berlangsung pada Sabtu (12/9/2026), dengan rangkaian kegiatan yang diawali upacara dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharma Ayu.
Dari tempat para pahlawan dimakamkan, rangkaian peringatan kemudian berlanjut ke Aula Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Indramayu.
Di tempat itu, perhatian FKPPI diarahkan kepada mereka yang masih menjalani kehidupan hari ini. Santunan diberikan kepada lanjut usia, anak yatim, dan veteran.
Perjalanan dari TMP Dharma Ayu menuju kegiatan sosial tersebut seolah membawa satu pesan sederhana: mengenang pengabdian masa lalu seharusnya tidak berhenti pada upacara dan tabur bunga.
Penghormatan kepada pahlawan juga dapat diteruskan melalui kepedulian terhadap sesama.
Bagi sebuah organisasi yang memiliki keterikatan sejarah dengan keluarga besar purnawirawan serta putra-putri TNI dan Polri, momentum HUT ke-48 menjadi kesempatan untuk kembali melihat arti pengabdian dalam konteks kehidupan masyarakat.
Sebab, zaman telah berubah. Perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk medan pertempuran. Di tengah masyarakat, pengabdian dapat mengambil bentuk lain—merawat persatuan, membantu mereka yang membutuhkan, menghormati para pejuang yang telah lanjut usia, serta memastikan anak-anak yang kehilangan orang tua tetap merasakan perhatian dari lingkungannya.
Di situlah kegiatan sosial dalam peringatan HUT FKPPI memiliki arti lebih dari sekadar rangkaian acara.
Santunan kepada lansia, anak yatim dan veteran bukan hanya tentang apa yang diberikan. Lebih jauh, terdapat pesan bahwa mereka tidak boleh merasa berjalan sendirian di tengah masyarakat.
Terutama bagi para veteran, perhatian tersebut juga menjadi pengingat bahwa perjuangan masa lalu tidak seharusnya terputus oleh pergantian generasi.
Sementara bagi anak-anak yatim dan para lansia, kepedulian yang diberikan menjadi bentuk sederhana dari semangat gotong royong yang masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia.
Memasuki usia 48 tahun, FKPPI dihadapkan pada tantangan untuk menjaga agar nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Bela negara pun tidak harus selalu dimaknai dalam bentuk yang besar. Menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, membantu sesama dan ikut menciptakan lingkungan sosial yang lebih baik merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.
Karena itu, peringatan HUT ke-48 FKPPI di Indramayu dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan simbolis: dari makam para pahlawan menuju mereka yang membutuhkan kepedulian.
Dari sana, makna pengabdian menemukan bentuknya.
Penghormatan kepada mereka yang telah berjuang menjadi lebih berarti ketika diteruskan dengan kepedulian kepada mereka yang masih membutuhkan uluran tangan.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Kegiatan HUT FKPPI Ke-48










Komentar