Dari Desa Drunten Kulon, Kerajinan Bambu Nuriman Buktikan Tradisi Masih Hidup

Min.co.id | Indramayu – Di sebuah rumah sederhana di Blok Tegal Pelem, Desa Drunten Kulon, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, suara gesekan bambu dan aroma khas kayu yang dipanaskan menjadi teman setia Nuriman setiap sore. Di sela kesibukannya sebagai perangkat desa, pria ini tetap meluangkan waktu untuk menekuni hobi yang telah dicintainya sejak kecil: membuat kerajinan tangan berbahan bambu.

Berbekal ketelatenan dan kreativitas yang diasah secara otodidak sejak duduk di bangku sekolah dasar, alumni SMK Negeri 1 Mundu Cirebon jurusan Pelayaran itu kini mampu menghasilkan berbagai miniatur bernilai seni yang telah dikenal hingga luar Kabupaten Indramayu.

Setiap selesai bekerja di kantor desa atau selepas menunaikan salat Magrib, Nuriman kembali berkutat dengan bambu, lem, dan peralatan sederhana. Dari tangan dinginnya lahir beragam karya unik, mulai dari miniatur rumah, traktor, truk, mobil, perahu, hingga tulisan nama berbahan bambu dan kayu. Ia juga menerima pesanan mainan edukatif sesuai keinginan pelanggan.

Beberapa hasil karyanya bahkan telah dikirim ke berbagai daerah, termasuk Kabupaten Majalengka. Meski demikian, ia mengaku pemasaran masih menjadi tantangan terbesar dalam mengembangkan usahanya.

“Bikin kerajinan ini memang sudah jadi hobi saya sejak kecil, sampai sekarang masih saya tekuni karena memang senang membuatnya,” ujar Nuriman saat ditemui di kediamannya.

Dalam proses pembuatannya, Nuriman memilih menggunakan bambu apus atau bambu tali yang telah tua dan benar-benar kering agar hasil kerajinan lebih kuat dan tahan lama. Bambu dipotong sesuai kebutuhan, kemudian dipanaskan untuk menghilangkan serabut halus sekaligus memperkuat warna alaminya. Setelah itu, setiap bagian dirangkai menggunakan lem dan diberi lapisan pelindung agar tampil lebih rapi serta awet.

Ketekunan tersebut membuktikan bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari peralatan modern atau modal besar, melainkan dari kesabaran, ketelatenan, dan kecintaan terhadap sebuah karya.

Namun di balik prestasi itu, Nuriman berharap ada perhatian lebih terhadap para pengrajin lokal. Selama ini, promosi hasil kerajinan masih mengandalkan informasi dari mulut ke mulut maupun pelanggan yang pernah melihat langsung hasil karyanya.

“Kalau ada galeri atau tempat untuk memajang hasil kerajinan, tentu akan sangat membantu. Kami juga berharap bisa dilibatkan dalam pameran atau kegiatan UMKM supaya karya kami lebih dikenal,” katanya.

Menurutnya, potensi kerajinan tangan di pedesaan tidak kalah besar dibanding sektor lainnya. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, kerajinan bambu dapat berkembang menjadi produk unggulan desa sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Nuriman berharap Pemerintah Desa Drunten Kulon maupun Pemerintah Kabupaten Indramayu dapat memberikan ruang bagi para pengrajin untuk memamerkan hasil karya melalui galeri, stan pameran, ataupun berbagai kegiatan promosi UMKM.

Dukungan tersebut diyakini akan menjadi penyemangat bagi para perajin lokal untuk terus berkarya sekaligus melestarikan seni kerajinan tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.

Di tangan Nuriman, sebatang bambu bukan sekadar bahan alam. Ia menjelma menjadi karya seni yang menyimpan cerita tentang ketekunan, harapan, dan kecintaan terhadap warisan budaya. Dari sudut kecil Desa Drunten Kulon, lahir karya-karya yang membuktikan bahwa kreativitas masyarakat desa mampu berbicara hingga luar daerah.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi min.co.id
Sumber: Wawancara dengan Nuriman, pengrajin kerajinan berbahan bambu dari Desa Drunten Kulon, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu.

Komentar

News Feed