Cimplo dan Bulan Safar: Tradisi Lama Indramayu yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Min.co.id | Indramayu — Ada makanan yang hadir bukan sekadar untuk mengenyangkan perut. Di Indramayu, cimplo menjadi salah satunya. Makanan berbentuk menyerupai apem itu kerap muncul ketika bulan Safar tiba, disajikan bersama kinca gula merah dan kelapa parut.

Bagi sebagian masyarakat, kemunculan cimplo pada bulan tersebut tidak dapat dilepaskan dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Ada kebiasaan membuat dan membagikannya kepada tetangga sebagai sedekah yang dalam tradisi lama disebut berkaitan dengan ikhtiar memohon keselamatan.

Ki Tano, warga Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, menuturkan cerita tersebut berasal dari pengetahuan yang diterimanya dari orang-orang tua.

Menurut cerita yang ia dengar, Safar dahulu dikenal sebagian masyarakat sebagai bulan Bala, yakni masa yang dipercaya berkaitan dengan datangnya berbagai musibah. Karena itu, masyarakat melakukan berbagai ikhtiar, salah satunya membuat cimplo kemudian membagikannya kepada orang lain.

“Kalau cerita orang tua dulu, bulan Safar itu disebut bulan Bala. Ketika masuk bulan itu masyarakat membuat cimplo untuk disedekahkan dan dibagikan, katanya sebagai ikhtiar supaya terhindar dari bala,” kata Ki Tano.

Namun, cerita tersebut tidak serta-merta dimaknai bahwa cimplo memiliki kekuatan tertentu untuk menolak musibah. Bagi masyarakat yang masih mempertahankan kebiasaan itu, membuat makanan dan berbagi kepada sesama lebih ditempatkan sebagai bentuk sedekah yang disertai doa.

Kebiasaan tersebut kemudian dikenal sebagai sedekah cimplo. Cimplo yang dibuat di rumah biasanya dibagikan kepada tetangga, saudara, atau warga di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Dari Apem hingga Cimplo

Cerita mengenai cimplo juga tidak berdiri sendiri. Dalam penuturan Ki Tano, makanan tersebut memiliki keterkaitan dengan apem yang sudah lama dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa.

“Orang tua dulu bilang cimplo itu apem. Jadi asalnya dari apem, hanya di sini dikenal dengan sebutan cimplo. Itu cerita yang saya dengar dari orang-orang tua,” ujarnya.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, apem juga kerap dikaitkan dengan istilah afwan atau afuan yang dimaknai sebagai permohonan maaf atau ampunan. Namun, pemaknaan tersebut merupakan bagian dari tafsir budaya dan tradisi yang berkembang di masyarakat, bukan satu-satunya penjelasan mengenai asal-usul apem.

Apem sendiri memiliki jejak tradisi yang panjang di Jawa. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan tradisi apem adalah Ki Ageng Gribig melalui tradisi Yaqowiyyu di Jatinom, Klaten, yang berlangsung pada bulan Safar.

Sementara itu, cimplo memiliki cerita lokal yang berkembang di tengah masyarakat Indramayu. Hubungan cimplo dengan bulan Safar menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tradisi yang Mulai Berubah

Seiring perubahan zaman, kebiasaan membuat cimplo pada bulan Safar tidak lagi dilakukan secara merata. Sebagian masyarakat masih mengenalnya, sementara sebagian lainnya mulai meninggalkan praktik tersebut.

Ki Tano mengatakan, perubahan itu merupakan hal yang wajar. Meski praktiknya mulai berkurang, cerita mengenai cimplo dan bulan Bala masih tersimpan dalam ingatan sebagian masyarakat.

“Kalau sekarang tidak semua orang masih melakukan seperti dulu, tapi cerita tentang cimplo dan bulan Bala masih ada. Orang tua dulu mengajarkan bahwa kalau bulan itu datang, kita banyak berdoa dan bersedekah,” tuturnya.

Bagi Ki Tano, keberadaan tradisi tersebut tidak harus ditempatkan sebagai perdebatan mengenai benar atau salah. Yang lebih penting, menurutnya, generasi sekarang masih mengetahui bahwa ada warisan cerita dan kebiasaan yang pernah hidup di tengah masyarakat Indramayu.

“Yang kita ceritakan ini sejarah dan cerita dari orang-orang tua dulu, jadi masing-masing mungkin punya cerita yang berbeda. Yang penting generasi sekarang tahu bahwa cimplo punya cerita dan tradisi yang sudah lama dikenal di masyarakat,” pungkasnya.

Pada akhirnya, cimplo bukan hanya soal makanan yang disiram kinca dan disantap bersama. Di balik bentuknya yang sederhana, terdapat cerita tentang sedekah, doa, kebersamaan, serta cara masyarakat masa lalu memaknai datangnya bulan Safar.

Ketika tradisi itu perlahan berubah, cimplo setidaknya masih menyisakan satu hal: sebuah cerita yang menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat Indramayu.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara dengan Ki Tano, warga Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu

Komentar

News Feed