Min.co.id | Indramayu – Tradisi tidak hanya mengajak masyarakat menengok masa lalu, tetapi juga menghadirkan kepedulian bagi kehidupan hari ini.
Hal itu terlihat dalam Munjungan Ki Buyut Kunang di Desa Ranjeng, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, ketika warga berkumpul untuk berziarah, mempererat silaturahmi, menikmati kesenian tradisional, sekaligus berbagi dengan 54 anak yatim.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (26/10/2026) tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk menjaga warisan leluhur sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial.
Di tengah rangkaian acara adat, santunan anak yatim menjadi salah satu wujud bahwa kebersamaan tidak berhenti pada perayaan, tetapi juga diwujudkan melalui perhatian kepada sesama.
Ketua Panitia Munjungan, Kaswad, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa Ki Buyut Kunang dipercaya sebagai leluhur sekaligus salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah keberadaan Desa Ranjeng.
“Buyut Kunang itu bisa dikatakan leluhur masyarakat Desa Ranjeng, keberadaannya dipercaya masyarakat merupakan salah satu tokoh yang mempunyai peran penting terhadap keberadaan Desa Ranjeng,” ujar Kaswad saat ditemui di lokasi kegiatan.
Menurutnya, Munjungan bukan semata-mata kegiatan ziarah. Tradisi tersebut juga menjadi ruang bagi warga untuk mempertahankan adat istiadat dan menjaga hubungan kekeluargaan, khususnya mereka yang merasa memiliki garis keturunan Ki Buyut Kunang dan tergabung dalam Paguyuban Anak-Putu Buyut Kunang.
“Tujuan yang pertama adalah ziarah bersama, kedua adalah untuk mempertahankan tradisi, selanjutnya adalah memberikan ruang kepada masyarakat untuk menjaga hubungan silaturahmi, terutama bagi mereka yang mempunyai darah keturunan Mbah Buyut Kunang, yang tergabung ke dalam Paguyuban Anak-Putu Buyut Kunang,” kata Kaswad.
Bagi masyarakat Ranjeng, pertemuan semacam ini menjadi kesempatan untuk memperkuat ikatan sosial yang telah terbangun dari generasi ke generasi. Tradisi yang terus dijalankan diharapkan tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dipahami maknanya oleh generasi penerus.
Rangkaian Munjungan Ki Buyut Kunang dimulai pada 25 Oktober 2026 melalui kegiatan karnaval. Agenda kemudian dilanjutkan pada Minggu pagi dengan pengumpulan tumpeng dan doa bersama di situs makam Ki Buyut Kunang.
Kegiatan tersebut dilengkapi pagelaran seni sandiwara oleh kelompok Lingga Buana. Pertunjukan itu menjadi hiburan bagi masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk tetap hadir di tengah perubahan selera hiburan masyarakat.
Namun, perhatian dalam kegiatan ini tidak hanya tertuju pada rangkaian adat dan pertunjukan seni. Panitia juga menyalurkan santunan kepada 54 anak yatim sebagai bagian dari kegiatan sosial yang menyertai Munjungan.
Kaswad mengatakan, pembiayaan seluruh rangkaian kegiatan berasal dari swadaya masyarakat. Dana yang terkumpul tidak hanya digunakan untuk mendukung acara adat dan hiburan, tetapi juga dialokasikan bagi kegiatan berbagi kepada anak-anak yatim.
“Sumber anggaran berasal dari swadaya masyarakat, dialokasikan untuk semua rangkaian kegiatan, tidak hanya yang bersifat hiburan semata, ada pemberian santunan kepada sebanyak lima puluh empat anak yatim. Tujuannya yaitu selain sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama juga untuk mengajarkan nilai-nilai yang positif kepada generasi muda selanjutnya,” tutur Kaswad.
Santunan tersebut memperlihatkan sisi sosial dari tradisi Munjungan. Di tengah upaya menjaga hubungan dengan leluhur, masyarakat juga diajak memperhatikan sesama yang membutuhkan dukungan.
Harapannya, kepedulian semacam ini tidak hanya muncul ketika kegiatan adat berlangsung, tetapi dapat tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan terhadap pelaksanaan Munjungan Ki Buyut Kunang juga disampaikan Pemerintah Desa Ranjeng. Kuwu Ranjeng, H. Suja, menyatakan bahwa pemerintah desa mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi yang telah mengakar di tengah masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Desa Ranjeng, kami mendukung penuh pelaksanaan kegiatan Munjungan ini,” ujar Suja setelah doa bersama.
Dukungan pemerintah desa dinilai penting agar tradisi lokal tetap memiliki ruang untuk berkembang. Meski demikian, keberlanjutan budaya juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda yang akan meneruskan warisan tersebut.
Pengenalan sejarah situs makam, pemahaman terhadap makna tradisi, serta keterlibatan anak muda dalam kegiatan adat dan kesenian dapat menjadi langkah untuk menjaga agar Munjungan tidak sekadar menjadi agenda tahunan.
Begitu pula dengan kegiatan santunan anak yatim. Nilai kepedulian sosial yang ditanamkan melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi teladan bagi generasi penerus untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih peduli dan saling mendukung.
Munjungan Ki Buyut Kunang menjadi momentum bagi masyarakat Desa Ranjeng untuk merawat ingatan tentang leluhur sekaligus memperkuat kebersamaan di masa kini. Doa bersama, pengumpulan tumpeng, pagelaran sandiwara, dan santunan anak yatim menyatukan unsur budaya dengan kepedulian sosial.
Tujuan yang ingin dijaga bukan hanya keberlangsungan upacara adat, tetapi juga nilai silaturahmi, penghormatan kepada pendahulu, serta kepedulian terhadap sesama.
Masyarakat berharap tradisi ini dapat terus dilaksanakan dengan melibatkan generasi muda, mendapat dukungan pemerintah desa, dan tetap memberi ruang bagi kesenian lokal serta kegiatan sosial yang bermanfaat.
Dengan demikian, warisan leluhur tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Munjungan diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah desa dengan kehidupan masyarakat saat ini, sekaligus menanamkan nilai kebersamaan dan kepedulian bagi generasi mendatang. (WH)










Komentar