Min.co.id | Indramayu – Di balik susunan bunga, wedangan, kemenyan, hingga pisang raja yang kerap hadir dalam berbagai tradisi masyarakat Indramayu, tersimpan pesan kehidupan yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Namun, tidak sedikit masyarakat yang masih memandang umba rampe sebagai sesuatu yang berbau mistis.
Budayawan Indramayu, Rawin, menilai anggapan tersebut muncul karena belum banyak masyarakat memahami makna simbolik yang terkandung dalam setiap unsur umba rampe. Menurutnya, benda-benda yang digunakan dalam tradisi bukanlah sarana pemujaan kepada makhluk gaib, melainkan media penyampaian nilai moral, spiritual, dan tuntunan hidup.
“Selama ini banyak masyarakat yang salah mengartikan umba rampe sebagai sesuatu yang mistis. Padahal, menurut pemahaman yang kami warisi, semuanya merupakan simbol yang mengandung pesan kehidupan agar manusia selalu ingat kepada Gusti Allah serta menjalani hidup dengan kebaikan,” ujar Rawin saat diwawancarai.
Filosofi Lima Wedangan
Rawin menjelaskan, salah satu unsur yang selalu hadir dalam umba rampe adalah lima macam wedangan, yakni kopi manis, kopi pahit, teh manis, teh pahit, dan air putih.
Menurutnya, kelima minuman tersebut melambangkan perjalanan hidup manusia yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
“Hidup kadang manis, kadang pahit, kadang hambar. Semua itu menjadi pengingat agar manusia menerima setiap fase kehidupan dengan kesabaran serta terus berusaha berbuat baik,” katanya.
Kemenyan Dimaknai sebagai Lambang Doa
Bagian lain yang menurut Rawin paling sering disalahpahami adalah penggunaan menyan atau kemenyan.
Ia menjelaskan, dalam filosofi yang ia pahami, menyan dimaknai sebagai gondo arum atau keharuman. Asap yang membubung ke atas dipandang sebagai simbol doa yang dipanjatkan dengan hati yang bersih kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Kalau ada yang menggunakan kemenyan untuk hal-hal yang menyimpang, itu di luar makna filosofi yang saya pahami. Dalam tradisi yang kami pelajari, menyan hanya menjadi simbol doa yang tulus kepada Gusti Allah,” jelasnya.
Kembang Pitu sebagai Pengingat Memohon Pertolongan Tuhan
Rawin juga menerangkan makna kembang warna pitu atau bunga tujuh rupa.
Menurutnya, kata pitu dimaknai sebagai pitulungan atau pertolongan dari Tuhan. Sementara tujuh warna bunga menjadi pengingat agar manusia mengisi setiap hari dengan sikap penuh kasih sayang, keramahan, kepedulian, serta selalu memohon pertolongan kepada Allah SWT.
“Kembang pitu mengingatkan manusia agar setiap hari diisi dengan perilaku yang baik, saling menyayangi, dan tidak lupa memohon pertolongan kepada Gusti Allah,” tuturnya.
Pisang Raja Lambang Kerukunan
Selain itu, gedang raja atau pisang raja juga memiliki makna tersendiri.
Rawin mengatakan, susunan buah pisang dalam satu sisir yang tumbuh berdampingan dipandang sebagai simbol kehidupan yang rukun, saling mendukung, dan tidak saling menjatuhkan.
“Manusia diajarkan hidup berdampingan, saling menguatkan, tidak iri hati, dan menjaga kerukunan sebagaimana buah pisang yang tumbuh bersama dalam satu sisir,” katanya.
Warisan Nilai, Bukan Praktik Mistis
Di akhir keterangannya, Rawin berharap masyarakat tidak lagi memandang umba rampe hanya dari sisi mistis. Menurutnya, setiap unsur dalam tradisi tersebut merupakan simbol budaya yang memuat pesan moral, spiritual, dan nilai kehidupan yang masih relevan hingga kini.
“Kalau filosofi ini dipahami, masyarakat akan melihat bahwa umba rampe bukan tentang hal-hal mistis, melainkan warisan budaya yang mengajarkan doa, rasa syukur, kerukunan, dan tuntunan hidup yang baik,” pungkasnya.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara langsung dengan Rawin, budayawan Indramayu.










Komentar