Min.co.id | Indramayu – Di setiap syukuran, sedekah bumi, hingga hajatan masyarakat Indramayu, tumpeng hampir selalu menjadi pusat perhatian.
Bentuknya yang menjulang ke atas sering dipandang hanya sebagai sajian tradisional. Padahal, di balik nasi yang mengerucut itu tersimpan pesan kehidupan yang diwariskan para leluhur tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Seiring berkembangnya zaman, makna filosofis tumpeng mulai memudar. Tidak sedikit masyarakat yang mengenalnya sebatas hidangan pelengkap upacara adat. Padahal, setiap bentuk dan susunannya mengandung ajaran yang mengingatkan manusia agar menjalani kehidupan dengan lurus, penuh rasa syukur, dan selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Budayawan sekaligus pelaku tradisi Kabupaten Indramayu, Rawin, mengatakan tumpeng merupakan simbol kehidupan yang sarat nilai spiritual. Menurutnya, istilah tumpeng diyakini berasal dari ungkapan Jawa “tuntunan sing lempeng”, yang berarti tuntunan hidup yang lurus.
“Di bagian paling atas atau puncak tumpeng itu menjadi lambang bahwa Gusti Allah adalah tujuan utama manusia. Jadi, tumpeng bukan sekadar makanan yang disajikan dalam acara adat, tetapi menjadi pengingat agar hidup selalu berada pada tuntunan yang benar,” ujar Rawin saat diwawancarai.
Puncak Tumpeng, Lambang Tujuan Hidup Manusia
Rawin menjelaskan, bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas melambangkan perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, dalam berbagai tradisi Jawa, pemotongan tumpeng selalu diawali dari bagian puncaknya sebagai simbol bahwa segala pencapaian hidup harus bermuara kepada Sang Pencipta.
Menurutnya, filosofi tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak hanya mengejar keberhasilan duniawi, tetapi juga harus menjaga nilai-nilai ketuhanan dalam setiap langkah kehidupannya.
Gunung sebagai Simbol Kemakmuran dan Harapan
Selain bermakna spiritual, bentuk tumpeng juga menyerupai gunung yang sejak dahulu dimaknai sebagai lambang kemakmuran, kesuburan, dan sumber kehidupan.
Bagi masyarakat agraris, gunung menjadi tempat lahirnya mata air, tumbuhnya pepohonan, serta sumber penghidupan bagi manusia. Filosofi tersebut mengingatkan bahwa seluruh rezeki yang diperoleh merupakan anugerah Tuhan yang wajib dijaga dan disyukuri.
“Gunung adalah lambang sumber kehidupan. Dari sanalah masyarakat belajar bahwa rezeki, kesuburan, dan kemakmuran merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga dan disyukuri,” katanya.
Menurut Rawin, gunung juga menjadi simbol harapan agar manusia terus berusaha meningkatkan kualitas hidup melalui kerja keras, doa, dan perilaku yang baik.
Lauk-Pauk Mengajarkan Manusia Bersyukur kepada Alam
Di sekeliling tumpeng tersaji beragam lauk-pauk, mulai dari telur, ayam, sambal goreng, hingga aneka sayuran dan hasil bumi lainnya. Bagi Rawin, seluruh pelengkap tersebut bukan sekadar hidangan, melainkan simbol kekayaan alam yang menopang kehidupan manusia.
Hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan yang disajikan bersama tumpeng menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam. Karena itu, alam harus dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara bijaksana.
“Lauk-pauk dan sayuran itu menggambarkan hasil bumi, hasil kebun, serta hasil ternak yang ada di bawah kaki gunung. Semua itu mengajarkan bahwa manusia hidup dari alam, sehingga wajib menjaga dan merawatnya dengan penuh rasa syukur,” tuturnya.
Warisan Budaya yang Sarat Nilai Kehidupan
Rawin berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak lagi memandang tumpeng hanya sebagai pelengkap seremoni adat. Menurutnya, warisan budaya tersebut mengandung nilai-nilai luhur yang tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Baginya, tumpeng mengajarkan manusia untuk selalu memiliki arah hidup yang benar, bersyukur atas setiap nikmat yang diterima, menjaga hubungan dengan Tuhan, menghormati sesama, serta merawat alam sebagai sumber kehidupan.
“Kalau filosofi tumpeng dipahami, maka tradisi bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga menjadi tuntunan hidup yang mengajarkan manusia agar selalu berada di jalan yang benar dan penuh rasa syukur,” pungkasnya.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara langsung dengan Rawin, budayawan dan pelaku tradisi Kabupaten Indramayu.










Komentar