Menolak Budaya Punah, Kardono Hidupkan Kembali Daluang dan Aksara Jawa Kuno

Min.co.id | Indramayu – Di sebuah sudut sederhana di Blok Mekarsari, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, ada seorang pria yang diam-diam sedang berjuang menyelamatkan warisan budaya Nusantara dari kepunahan.

Namanya Kardono. Ia bukan seorang profesor, bukan pula budayawan ternama. Pendidikan formalnya hanya sampai sekolah dasar (SD). Namun, dari tangan dan ketekunannya, budaya kuno yang mulai terlupakan masih terus bernapas.

Ketika banyak orang sibuk mengejar perkembangan zaman, Kardono justru memilih menoleh ke masa lalu. Ia belajar secara otodidak membuat kertas daluang tradisional, mengolah daun lontar sebagai media tulis, hingga mempelajari dan menerjemahkan aksara Jawa kuno yang kini semakin asing bagi generasi muda.

Kemampuan langka itu tidak diperolehnya dari bangku kuliah atau pelatihan khusus. Berbekal rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap budaya leluhur, Kardono mulai belajar secara mandiri sejak tahun 2019. Ia membaca, mencoba, dan terus berlatih hingga akhirnya mampu menguasai keterampilan yang kini nyaris punah.

Puncak dari ikhtiarnya itu terwujud pada tahun 2023 saat ia mendirikan Rumah Daluang, sebuah ruang sederhana di kediamannya yang menjadi tempat belajar sekaligus memperkenalkan kembali tradisi kuno yang pernah menjadi bagian penting dari peradaban Nusantara.

Saat ditemui di Rumah Daluang miliknya, Sabtu (13/6/2026), Kardono mengaku apa yang dilakukannya bukan demi popularitas. Ia hanya tidak ingin warisan budaya peninggalan leluhur hilang ditelan perkembangan zaman.

“Yang penting jangan malu belajar. Saya hanya lulusan SD, tetapi saya percaya siapa pun bisa memiliki kemampuan kalau mau belajar dan tekun,” ujar Kardono dengan penuh keyakinan.

Bagi Kardono, keterbatasan pendidikan formal bukan alasan untuk berhenti berkembang. Justru melalui kisah hidupnya, ia ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda, terutama mereka yang pernah putus sekolah atau memiliki keterbatasan ekonomi, bahwa semangat belajar tidak boleh padam.

Menurutnya, siapa pun dapat berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat jika memiliki kemauan dan ketekunan. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa ilmu dan kemampuan tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari ketulusan untuk terus belajar.

Di tengah kesibukannya melestarikan budaya, Kardono juga menaruh perhatian pada kondisi para pelaku seni dan budaya di daerah. Ia menilai masih banyak sosok berbakat di pelosok Indramayu yang menyimpan pengetahuan dan keterampilan warisan leluhur, tetapi belum mendapat ruang dan perhatian yang layak.

“Sebetulnya Indramayu kaya budaya. Masih banyak orang yang punya keterampilan seni dan budaya warisan orang tua dulu, hanya saja sering tidak terlihat dan belum banyak mendapat perhatian,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih aktif menjangkau dan merangkul para pegiat budaya hingga ke pelosok desa. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui seremoni atau festival tahunan, tetapi juga dengan menciptakan ruang belajar, wadah berkarya, dan kesempatan bagi para pelaku budaya untuk mewariskan ilmunya kepada generasi penerus.

Harapan Kardono sesungguhnya sangat sederhana. Ia tidak ingin ilmu yang dipelajarinya selama bertahun-tahun berhenti pada dirinya sendiri. Ia berharap akan lahir anak-anak muda yang tertarik mempelajari daluang, daun lontar, dan aksara Jawa kuno, agar identitas budaya daerah tetap hidup dan tidak terkikis oleh arus modernisasi.

Kisah Kardono menjadi pengingat bahwa di balik sunyinya desa-desa di Indramayu, masih ada penjaga-penjaga budaya yang bekerja tanpa sorotan. Mereka mungkin tidak memiliki gelar tinggi atau panggung besar, tetapi melalui tangan, kesabaran, dan kecintaan mereka terhadap warisan leluhur, identitas budaya bangsa tetap terjaga untuk masa depan.

Penulis: Ade Nur 
Editor: Redaksi
Sumber: Wawancara Langsung

Komentar

News Feed