Min.co.id | Indramayu — Harapan meningkatkan hasil panen melalui penerapan teknologi pertanian mulai diperkenalkan kepada kelompok tani di Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Terisi bersama Yayasan Edufarmers Internasional menyosialisasikan program Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS), Senin (2/11/2026).
Program tersebut diperkenalkan sebagai salah satu upaya mendorong perubahan pola budidaya agar lebih modern dan produktif. Salah satu dasar pengenalannya adalah hasil demplot atau lahan percontohan di Desa Plosokerep yang menurut BPP Terisi menunjukkan peningkatan produksi sekitar 1,2 hingga 2 ton per hektare.
Sosialisasi yang berlangsung di Aula Kantor BPP Kecamatan Terisi itu diikuti perwakilan kelompok tani se-Kecamatan Terisi. Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Terisi Boy Billy Prima, S.STP., Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Terisi Kurnia Puspita Sari, S.P., serta Supervisor Area Yayasan Edufarmers Internasional, Tian Sofiani, S.P.
Koordinator Penyuluh BPP Terisi, Kurnia Puspita Sari, mengatakan pengenalan PM-AAS merupakan bagian dari sosialisasi program nasional kepada masyarakat pertanian. Tahap awal dilakukan melalui ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan kelompok tani (Poktan), yang selanjutnya diharapkan meneruskan informasi kepada anggota masing-masing.
“Ya, karena ini sebagai program nasional ya, jadi otomatis ini kita sosialisasikan ke semua petani atau masyarakat. Cuma yang pertama kita sosialisasikan ke semua Gapoktan dan kelompok tani terkait dengan PMAS ini,” tutur Nia.
Menurut Nia, kondisi lahan pertanian di Kecamatan Terisi cukup beragam. Meski demikian, hasil uji coba melalui demplot di Desa Plosokerep menjadi salah satu pertimbangan untuk memperluas pengenalan program tersebut.
“Memang kondisi lapangan di Terisi ini kan bermacam-macam. Cuma kita sudah melakukan demplot di Desa Plosokerep dan alhamdulillah berhasil. Ya ada peningkatan produksinya, rata-rata dari masing-masing satu hektare itu 1,2 sampai 2 ton,” kata Nia.
BPP Terisi berencana mendorong penerapan program secara bertahap di desa-desa. Para penyuluh pertanian akan dilibatkan untuk mendampingi petani sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan di lahan.
Nia menjelaskan, perwakilan Gapoktan dan Poktan dari setiap desa akan dilibatkan dalam pembuatan demplot. Luasan lahan percontohan nantinya dapat berbeda sesuai kondisi masing-masing kelompok.
“Ya, memang kita semua desa ini kita undang perwakilan masing-masing kelompok dan semua kelompok pun akan melaksanakan PMAS ini walaupun dengan luasan yang berbeda,” pungkasnya.
Sementara itu, Supervisor Area Yayasan Edufarmers Internasional, Tian Sofiani, S.P., menegaskan kegiatan tersebut akan dilanjutkan dengan penerapan di lapangan pada musim tanam pertama (MT1) di wilayah Kecamatan Terisi.
Tahap awal dimulai dengan survei lahan milik petani yang berpotensi dijadikan demplot. Setelah itu dilakukan pemetaan atau pembuatan poligon lahan, dilanjutkan pemberian sampel dekomposer dan pupuk, serta pendampingan bersama BPP.
“Mekanismenya yang pertama kita survei lokasi dulu di lahannya petani masing-masing, terus nanti dibikin poligon lahan, yang mana lokasi yang akan dijadikan demplot. Setelah itu nanti pemberian sampel, sampel dekomposer sama sampel pupuknya dari kita, nah terus dalam perjalanannya nanti ada pendampingannya,” ungkap Tian.
Tian menyebut Yayasan Edufarmers Internasional telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertanian sejak 2024. Berdasarkan pengalaman pendampingan yang dilakukan di sejumlah wilayah, ia menyatakan penerapan PM-AAS menunjukkan hasil positif dengan potensi peningkatan produksi sekitar dua ton per hektare.
Ia juga menyampaikan bahwa kendala yang ditemui selama pendampingan umumnya berkaitan dengan faktor cuaca.
“Hasilnya sih bagus, bisa meningkatkan sekitar 2 ton penghasilan petani per hektar sepanjang perjalanannya kita sudah dari 2024 dengan adanya pendampingan secara rutin. Sejauh ini sih masih aman gitu, tidak ada keluhan dari petani. Kalaupun ada keluhan itu biasanya dari cuaca. Kalau cuaca kan itu di luar kendali kita ya,” tutur Tian.
Bagi petani Terisi, tantangan berikutnya bukan sekadar mengenal sistem pertanian modern, melainkan membuktikan apakah metode tersebut dapat diterapkan sesuai kondisi lahan masing-masing. Hasil demplot Plosokerep menjadi modal awal, tetapi keberhasilan di wilayah lain tetap perlu dilihat melalui proses uji coba dan pendampingan.
Karena itu, pelaksanaan PM-AAS pada MT1 akan menjadi tahap penting untuk mengukur penerapan program di lapangan. Petani diharapkan tidak hanya menjadi penerima sosialisasi, tetapi juga memperoleh pendampingan yang memadai serta kesempatan membandingkan hasil metode yang diterapkan dengan pola budidaya sebelumnya.
Jika hasilnya konsisten dan dapat diterapkan sesuai kondisi lahan, program ini berpeluang menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di Kecamatan Terisi.(WH)










Komentar