Min.co.id |Jakarta – Dari ruang kendali pembangkit hingga teknologi hidrogen hijau, Indonesia menunjukkan wajah baru pengelolaan energi di hadapan delegasi Bangladesh. Menteri Energi dan Mineral Bangladesh Iqbal Hassan Mahmood bersama delegasi mengunjungi Unit Pembangkitan (UP) Muara Karang, Jakarta, Rabu (26/8/2026), untuk melihat langsung pengalaman PLN Nusantara Power mengelola pembangkit sekaligus menyiapkan teknologi energi rendah karbon.
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi agenda melihat fasilitas pembangkitan. Pertemuan kedua pihak membuka ruang pertukaran pengalaman mengenai keandalan pembangkit, efisiensi operasi, teknologi energi bersih, hingga tantangan yang muncul dalam proses transisi energi.
Bagi Bangladesh, pengalaman Indonesia menjadi salah satu referensi untuk melihat bagaimana pengelolaan pembangkit tetap berjalan di tengah tuntutan penggunaan teknologi yang lebih efisien dan rendah emisi.
Sementara bagi PLN Nusantara Power (PLN NP), kunjungan tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan kemampuan pengelolaan pembangkit dan inovasi yang dikembangkan perusahaan di tengah perubahan sektor energi global.
Selama berada di UP Muara Karang, delegasi Bangladesh melihat secara langsung fasilitas pembangkitan serta berbagai inovasi yang dikembangkan PLN NP.
Pembahasan mencakup pengalaman operasional pembangkit, upaya meningkatkan keandalan dan efisiensi, serta pengembangan teknologi yang diarahkan untuk mendukung sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengatakan kunjungan tersebut menjadi ruang bagi Indonesia dan Bangladesh untuk bertukar pengalaman di bidang ketenagalistrikan.
“Kami menyambut baik kunjungan Menteri Energi dan Mineral Bangladesh beserta delegasi ke UP Muara Karang. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk saling bertukar pengalaman, mulai dari pengelolaan dan peningkatan keandalan pembangkit, inovasi teknologi, hingga pengembangan energi bersih,” ujar Ruly dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, hubungan yang telah terjalin antara kedua negara diharapkan dapat berkembang menjadi bentuk kolaborasi yang memberikan manfaat bagi Indonesia maupun Bangladesh.
Hubungan PLN NP dengan Bangladesh sebenarnya bukan baru dimulai melalui kunjungan Menteri Energi dan Mineral tersebut.
Pada 2023 dan 2024, PLN NP telah terlibat dalam proyek pemeliharaan dan Major Inspection Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) berkapasitas 150 megawatt (MW) di Bangladesh.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pijakan dalam hubungan kedua pihak. Keahlian yang diperoleh dari pengelolaan pembangkit di Indonesia kemudian dibawa ke proyek di luar negeri.
Bagi PLN NP, pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi perusahaan di sektor ketenagalistrikan internasional.
Selain pembangkit, perhatian delegasi Bangladesh tertuju pada pengembangan energi bersih.
Salah satu fasilitas yang diperkenalkan adalah Green Hydrogen Plant (GHP) Muara Karang. Fasilitas ini dikembangkan sebagai bagian dari eksplorasi PLN NP terhadap teknologi energi yang dapat mendukung proses transisi menuju sistem energi rendah karbon.
Melalui proses elektrolisis dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan, hidrogen hijau diproduksi sebagai salah satu alternatif energi yang tengah dikembangkan untuk mendukung agenda pengurangan emisi.
Pengembangan GHP Muara Karang juga ditempatkan PLN NP dalam kerangka dukungan terhadap target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Bagi delegasi Bangladesh, keberadaan fasilitas tersebut memberikan gambaran bahwa pembahasan ketenagalistrikan tidak hanya berkutat pada pembangkit dan pasokan listrik, tetapi mulai bergeser menuju teknologi energi masa depan.
Iqbal Hassan Mahmood mengapresiasi pengalaman PLN NP dalam pengelolaan pembangkit dan pengembangan inovasi energi.
Menurutnya, pengalaman Indonesia dapat memberikan pembelajaran bagi Bangladesh, terutama ketika kedua negara sama-sama menghadapi tantangan dalam menjaga keandalan energi sekaligus beradaptasi dengan agenda transisi energi.
“Hubungan Indonesia dan Bangladesh telah terjalin sangat baik, dan sektor energi menjadi salah satu ruang penting untuk memperkuat hubungan tersebut,” kata Iqbal.
Ia juga menilai pengalaman kerja sama PLN NP di Bangladesh menjadi bukti bahwa hubungan kedua negara di bidang energi telah menghasilkan kolaborasi konkret.
Iqbal berharap hubungan tersebut dapat diperluas, tidak hanya dalam pengelolaan pembangkitan listrik, tetapi juga pada pengembangan energi bersih dan teknologi energi masa depan.
Kunjungan delegasi Bangladesh ke Muara Karang memperlihatkan perubahan kebutuhan sektor energi yang kini semakin kompleks.
Keandalan pembangkit tetap menjadi kebutuhan utama, tetapi efisiensi, digitalisasi, pengurangan emisi, dan pengembangan teknologi energi bersih juga semakin mendapat perhatian.
Dalam konteks itu, pengalaman PLN NP mengelola pembangkit sekaligus mengembangkan teknologi energi hijau menjadi modal untuk membuka peluang kerja sama internasional.
Namun, peluang kerja sama lebih lanjut tetap membutuhkan pembahasan mengenai aspek teknis, keekonomian, teknologi, serta kebutuhan masing-masing negara.
Pertemuan di Muara Karang setidaknya memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan Bangladesh di sektor energi memiliki ruang untuk berkembang dari sekadar kerja sama operasional menuju pertukaran pengetahuan dan pengembangan teknologi.
Bagi Indonesia, pengalaman tersebut dapat menjadi pintu untuk memperluas kompetensi sektor ketenagalistrikan ke pasar internasional. Sedangkan bagi Bangladesh, kunjungan itu menjadi kesempatan melihat secara langsung bagaimana Indonesia mengelola pembangkit sekaligus mulai menyiapkan teknologi untuk menghadapi era energi rendah karbon.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Diskominfo Jatim,Diolah Redaksi










Komentar