PLN NP Indramayu Arahkan TJSL 2026 ke Pemberdayaan Masyarakat

Min.co.id | Indramayu –Di sebuah ruang pertemuan hotel di Pamanukan, Kamis (16/4/2026), bukan hanya angka dan laporan yang dibahas. Di balik paparan presentasi dan data evaluasi, tersimpan harapan tentang bagaimana listrik yang menyala di rumah-rumah warga juga bisa menerangi kehidupan mereka di luar itu.

PT PLN Nusantara Power (NP) Unit Pembangkitan (UP) Indramayu menggelar rapat evaluasi program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) 2025 sekaligus merancang arah kerja tahun 2026. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi: sejauh mana program perusahaan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat di sekitar wilayah operasional PLTU Indramayu di Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra.

Di hadapan para pemangku kepentingan, mulai dari Camat Sukra Sigit Widiyanto, Camat Patrol Bagus Asep Trisnadi, hingga para kepala desa penyangga, diskusi berjalan lebih dari sekadar formalitas.

Di balik laporan persentase dan capaian program, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah bantuan yang diberikan benar-benar mengubah kehidupan warga?

Manager Business Support PLN NP UP Indramayu, Agus Kurniawan, menegaskan bahwa TJSL bukan program satu arah, melainkan hasil kerja bersama berbagai pihak.

“Kami mengajak semua stakeholder untuk bekerja sama agar program TJSL lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Kalimat itu menggambarkan satu hal sederhana namun penting bahwa pembangunan sosial tidak bisa berjalan sendiri.

Selama ini, program TJSL masih banyak didominasi kegiatan infrastruktur dan bantuan karitatif. Namun di balik angka-angka itu, perusahaan mulai melihat kebutuhan yang lebih besar: pemberdayaan yang mampu bertahan lama.

Asman SDM, Umum dan CSR PLN NP UP Indramayu, Puri Handoko, menjelaskan bahwa alokasi TJSL 2025 masih didominasi infrastruktur sebesar 31,7 persen, disusul kegiatan karitatif 29,1 persen, pemberdayaan 23 persen, dan pengembangan kapasitas 15,3 persen.

Memasuki 2026, PLN NP UP Indramayu mulai menggeser fokus dari bantuan sesaat menuju program yang lebih berkelanjutan. Di antaranya pengembangan UMKM, pemberdayaan nelayan, pertanian, penanaman mangrove, hingga pemanfaatan FABA untuk masyarakat.

Bahkan, program pelatihan welding bersertifikat BNSP bersama BLK menjadi salah satu langkah nyata membuka peluang kerja baru bagi warga sekitar.

“Golnya, program TJSL ini manfaatnya bisa berkesinambungan dan mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Puri.

Di balik istilah TJSL, ada wajah-wajah yang lebih nyata nelayan yang berharap hasil laut lebih baik, petani yang ingin lahan lebih produktif, hingga pemuda yang mencari keterampilan untuk masa depan.

Rapat evaluasi itu pun tidak lagi sekadar forum administratif, tetapi menjadi ruang untuk merangkai ulang hubungan antara perusahaan dan masyarakat.(adv)

Komentar

News Feed