Min.co.id | Majalengka = Sungai di Kabupaten Majalengka sedang menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan membersihkan permukaannya. Sampah yang masuk ke aliran sungai, bangunan liar di kawasan sungai hingga ancaman pencemaran menjadi persoalan yang mendorong sekitar 300 orang berkumpul dalam sebuah forum diskusi.
Seminar sehari bertajuk “Ngobrol Cai Merdeka” digelar Masyarakat Peduli Daerah Aliran Sungai (MPDAS) Majalengka bersama Forum Komunikasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Jawa Barat dan PORKOPALA.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya pemerintah, akademisi, dunia usaha, aktivis lingkungan dan masyarakat untuk membahas kondisi sungai serta persoalan yang muncul di sepanjang daerah aliran sungai di Majalengka.
Ketua penyelenggara seminar, Taufik Hidayat, mengatakan kegiatan itu berangkat dari persoalan yang masih ditemukan di lapangan, terutama sampah dan bangunan liar di kawasan sungai.
“Seminar ini dilandasi atas masih banyaknya sampah di aliran sungai serta banyaknya bangunan liar yang tidak terkendali. Karena itu, kami ingin membangun kesadaran dan mencari solusi bersama untuk menjaga sungai di Majalengka,” ujar Taufik.
Sekitar 300 peserta mengikuti diskusi tersebut. Mereka tidak hanya mendapatkan paparan mengenai pentingnya menjaga sungai, tetapi juga diajak membicarakan langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi persoalan lingkungan secara bersama.
Forum menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang. Di antaranya Ridwan Budiarto, S.Hut., M.P. dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jawa Barat, Guru Besar Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., Pipih Sopiah Anwarsyah, S.Pd.I. dari Politeknik Mardira Indonesia serta pengusaha Yosep Hendrawan, S.AP.
Turut hadir Direktur BUMDes Gunungkuning, aktivis lingkungan dan ahli persampahan Dr. Ir. Sapto Prajogo, M.Si., perwakilan Masyarakat Peduli DAS Agus, S.S.Pd., perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Majalengka Dini Mega Putri, S.Si., serta unsur Kodim 0617/Majalengka Kapten Inf. Aceng.
Diskusi kemudian berkembang pada sejumlah persoalan yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan sungai. Beberapa di antaranya adalah perlindungan daerah aliran sungai, pengendalian sampah, penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), rehabilitasi sempadan sungai, konservasi sumber mata air serta pengawasan terhadap pencemaran.
Peran masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Sebab, persoalan sungai tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pemerintah, tetapi juga perilaku masyarakat, kegiatan usaha dan pemanfaatan ruang di sekitar aliran sungai.
Dari forum tersebut muncul sejumlah gagasan mengenai perlunya pengawasan pencemaran, pengelolaan sampah yang lebih baik dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap kondisi sungai.
Taufik berharap pembahasan tidak berhenti sebagai catatan seminar.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar dan menghasilkan banyak referensi serta gagasan untuk sungai di Majalengka. Ini menjadi komitmen bersama Masyarakat Peduli Aliran Sungai Majalengka untuk sungai dan lingkungan,” ungkapnya.
Persoalan sungai pada akhirnya bukan hanya tentang air yang mengalir dari hulu ke hilir. Di dalamnya ada sampah yang dibuang, mata air yang harus dijaga, sempadan yang perlu dilindungi dan aktivitas manusia yang menentukan kualitas lingkungan.
Karena itu, “Ngobrol Cai Merdeka” mencoba membawa persoalan tersebut ke ruang yang lebih luas: mempertemukan berbagai pihak untuk membicarakan apa yang selama ini terjadi di sungai sekaligus mencari langkah yang dapat dilakukan bersama.
Sebab jika sungai hanya ramai dibicarakan ketika tercemar atau meluap, persoalan lingkungan akan selalu datang terlambat. Menjaga sungai justru membutuhkan tindakan sebelum masalah menjadi lebih besar.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Keterangan Ketua Panitia “Ngobrol Cai Merdeka” Taufik Hidayat










Komentar