Di Balik Kepala Babi dan Kanvas Sunyi, Ray Mengku Sutentra Melawan Lupa dan Menggugat Zaman

Min.co.id | Indramayu – Di sebuah rumah sederhana di Desa Cikedung Blok 1, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, lahir karya-karya yang tidak sekadar memanjakan mata, tetapi juga mengajak publik merenung. Di tangan Ray Mengku Sutentra, S.S., seorang pegiat sastra, teater, pelestari manuskrip kuno, sekaligus Ketua Dewan Kesenian Indramayu, kanvas berubah menjadi ruang dialog tentang kegelisahan sosial yang semakin nyata di tengah kehidupan modern.

Di tengah kesibukannya menggerakkan komunitas budaya dan membina generasi muda melalui Rumah Teater Sawo Kecik, Ray kini tengah mempersiapkan sejumlah karya lukis beraliran surealisme yang rencananya akan dipamerkan pada akhir tahun 2026. Bagi Ray, lukisan bukan sekadar karya estetika, melainkan media untuk menyuarakan kritik, menyimpan memori, dan mengabadikan denyut zaman.

“Seni harus mampu berbicara tentang zaman. Seniman tidak cukup hanya menciptakan karya yang indah, tetapi juga perlu menghadirkan kesadaran terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekelilingnya,” ujar Ray saat ditemui di kediamannya, Sabtu (13/6/2026).

Salah satu simbol yang paling mencolok dalam karya-karyanya adalah kepala babi. Simbol tersebut kerap memancing rasa penasaran dan berbagai tafsir dari penikmat seni. Namun bagi Ray, gambar kepala babi bukanlah serangan terhadap individu atau kelompok tertentu.

Sebaliknya, simbol itu hadir sebagai representasi dari sifat-sifat negatif manusia, seperti keserakahan, kerakusan, kemunafikan, penyalahgunaan kekuasaan, dan naluri-naluri rendah yang sering kali menguasai kehidupan sosial.

“Kepala babi dalam karya saya bukan kritik kepada orang tertentu. Itu adalah simbol keserakahan, kerakusan, kemunafikan, penyalahgunaan kekuasaan, dan naluri-naluri rendah manusia yang terkadang menguasai kehidupan sosial kita,” jelasnya.

Lulusan bidang sastra tersebut memang dikenal sebagai sosok yang tidak membatasi diri pada satu cabang seni. Selain aktif dalam dunia teater dan penelitian manuskrip kuno, Ray juga menjadi salah satu penggerak pelestarian budaya lokal di Indramayu. Baginya, seni rupa memiliki kekuatan yang sama besar dengan sastra dan teater, yakni menjadi bahasa universal untuk menyampaikan kritik dan nilai kemanusiaan.

Melalui gaya surealisme yang sarat simbol, Ray mengangkat beragam persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari ketidakadilan sosial, budaya pencitraan, lunturnya nilai kemanusiaan, kerusakan lingkungan, hingga memudarnya identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi digital.

Di setiap goresan kuasnya, Ray sengaja menghadirkan simbol-simbol visual yang terbuka untuk dimaknai. Ia tidak ingin lukisannya menjadi karya yang menggurui, tetapi menjadi ruang refleksi yang memberi kebebasan kepada publik untuk membaca dan menafsirkan sesuai pengalaman masing-masing.

Menurutnya, masyarakat saat ini hidup di era yang dipenuhi informasi instan, tetapi justru semakin kehilangan ruang untuk berpikir mendalam dan kritis.

“Kita hidup di zaman yang penuh informasi, tetapi sering kehilangan kedalaman dalam memahami realitas. Banyak hal penting tenggelam oleh sensasi dan kepentingan sesaat. Keresahan itu yang saya coba rekam melalui karya-karya lukisan,” ungkapnya.

Meski sarat dengan kritik sosial, Ray menegaskan bahwa karya-karyanya tidak pernah dimaksudkan untuk menyerang pihak tertentu. Baginya, seni adalah cermin yang mengajak semua orang, termasuk dirinya sendiri, untuk melakukan introspeksi.

“Kritik dalam seni bukan untuk menyerang seseorang. Kritik adalah cara mengajak kita semua bercermin. Saya sendiri termasuk bagian dari masyarakat yang juga perlu terus belajar memperbaiki diri,” katanya.

Di balik aktivitasnya sebagai budayawan, Ray juga menyimpan harapan besar agar seni dapat lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia ingin seni tidak hanya hidup di ruang-ruang galeri atau pameran eksklusif, tetapi hadir di tengah publik sebagai media pendidikan, ruang diskusi, sekaligus sarana membangun kesadaran budaya.

“Saya berharap seni tidak hanya hadir di galeri atau ruang-ruang eksklusif. Seni harus bisa hadir di tengah masyarakat, menjadi media pendidikan, ruang diskusi, dan sarana membangun kesadaran budaya,” ujarnya.

Saat ini, sejumlah lukisan tengah ia rampungkan untuk kebutuhan pameran tunggal maupun pameran bersama yang direncanakan berlangsung pada akhir tahun 2026. Melalui karya-karya tersebut, Ray ingin membuktikan bahwa seni bukan sekadar soal keindahan visual, tetapi juga tentang keberanian menyuarakan nurani dan merekam denyut kehidupan manusia.

Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, Ray Mengku Sutentra memilih berdiri di depan kanvas, menggenggam kuas, dan terus mengingatkan bahwa budaya, kritik, dan kemanusiaan tak boleh hilang ditelan waktu.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi
Sumber: Hasil wawancara dan dokumentasi di kediaman Ray Mengku Sutentra, Desa Cikedung, Kabupaten Indramayu.

Komentar

News Feed