Min.co.id | Trenggalek — Dua keping domino diletakkan. Pemain menatap susunan angka di meja, menghitung kemungkinan, sekaligus menahan diri agar tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Pemandangan seperti itu mewarnai Open Tournament Domino Orado (101) Piala Panglima TNI di Kodim 0806/Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (27/9/2026). Sebanyak 64 tim ikut bertanding dalam turnamen yang digelar memperingati HUT ke-81 TNI tersebut.
Bagi peserta, pertandingan bukan sekadar soal siapa yang paling cepat menyusun keping domino. Setiap keputusan membutuhkan konsentrasi, kemampuan membaca permainan, strategi, dan komunikasi dengan pasangan.
Satu tim terdiri dari dua atlet. Artinya, kemampuan individu saja tidak cukup. Pemain juga dituntut memahami pola permainan pasangan dan mengendalikan emosi ketika situasi di meja tidak berjalan sesuai harapan.
Di titik itulah domino mulai ditempatkan dalam sudut pandang berbeda: bukan hanya permainan yang biasa dimainkan untuk mengisi waktu, tetapi aktivitas yang membutuhkan kemampuan berpikir dan mental bertanding.
Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0806/Trenggalek Mayor Cpm Nur Yulianto mengatakan turnamen tersebut menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-81 TNI sekaligus membuka ruang untuk melihat potensi atlet domino di daerah.
“Kami sangat mendukung turnamen ini, semoga dapat memunculkan bibit atlet yang bisa membanggakan Trenggalek,” ujarnya.
Antusiasme peserta juga menjadi bagian penting dari perkembangan olahraga tersebut. Wakil Ketua Pengprov Olahraga Domino Nasional (ORADO) Jawa Timur Mulyadi mengatakan turnamen serupa digelar serentak di 18 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Menurutnya, domino sebagai cabang olahraga yang relatif baru mulai mendapat respons dari masyarakat.
“Animo masyarakat cukup tinggi dalam mengikuti kegiatan olahraga domino ini,” katanya.
Namun, menariknya justru bukan pada banyaknya peserta. Ada pertanyaan yang lebih jauh: apakah permainan yang selama ini lekat dengan aktivitas masyarakat itu bisa berkembang menjadi olahraga yang memiliki pembinaan dan jenjang kompetisi?
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek Agus Dwi Karyanto melihat ada sejumlah kemampuan yang dapat dilatih melalui permainan domino, mulai dari konsentrasi, daya ingat, pengendalian emosi hingga strategi.
“Permainan domino itu bagian dari olahraga. Di sini kita dilatih menjaga emosi dan meredam ego saat berpasangan. Selain itu, pemain harus mengingat kepingan yang sudah keluar, jadi ini melatih fungsi otak, kesabaran, dan strategi,” ujar Agus.
Pandangan tersebut membuka kemungkinan lebih luas. Jika potensi pemain terus ditemukan dan pembinaannya berjalan, domino tidak hanya berhenti pada turnamen antarkomunitas atau pertandingan terbuka.
Agus bahkan menyebut peluang pengembangan olahraga tersebut di lingkungan sekolah apabila terdapat potensi dari kalangan pelajar.
“Ini bagus untuk melatih mental bertanding, kepercayaan diri, dan konsentrasi mereka. Dalam pendidikan, bukan hanya knowledge yang penting, tetapi skill juga harus diolah,” katanya.
Bagi para peserta, hasil pertandingan tentu tetap menjadi tujuan. Tetapi bagi perkembangan olahraga domino, meja pertandingan hari itu bisa menjadi titik awal untuk melihat lebih jauh bagaimana sebuah permainan yang akrab di tengah masyarakat dapat berkembang menjadi olahraga dengan kemampuan, aturan, pembinaan, dan prestasi yang lebih terarah.
Sebab pada akhirnya, yang diuji di atas meja bukan hanya susunan keping domino. Ada konsentrasi, kesabaran, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan mengendalikan diri ketika pertandingan mulai menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang harus berhenti.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Pendim 0806/Trenggalek,Diolah Redaksi










Komentar