Min.co.id | Trenggalek — Ketika sumur di rumah tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, air bersih bukan lagi sekadar kebutuhan rutin. Bagi warga Dusun Ngegong, Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan, pasokan air menjadi sesuatu yang harus ditunggu di tengah kemarau panjang.
Kondisi itu dirasakan sedikitnya 45 kepala keluarga (KK). Sejumlah sumur warga dilaporkan mengering sehingga persediaan air untuk kebutuhan sehari-hari semakin terbatas.
Pada Minggu (27/9/2026), harapan itu datang melalui distribusi 4.000 liter air bersih yang disalurkan Babinsa Jatiprahu Koptu Gunawan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek.
Warga yang telah menyiapkan bak penampungan dan galon kemudian menerima air yang didistribusikan langsung ke lokasi. Bagi masyarakat yang sedang menghadapi keterbatasan sumber air, setiap wadah yang terisi menjadi tambahan persediaan untuk menghadapi hari-hari berikutnya.
Koptu Gunawan mengatakan distribusi tersebut dilakukan karena kemarau panjang berdampak terhadap ketersediaan air di lingkungan warga.
“Sebanyak 4.000 liter air bersih kami distribusikan untuk 45 KK warga Dusun Ngegong. Kemarau yang panjang membuat banyak sumur warga mengering sehingga kebutuhan air bersih menjadi sulit dipenuhi,” ujarnya.
Persoalan air bersih di tengah musim kemarau sebenarnya bukan hanya tentang berapa liter air yang bisa didatangkan dalam satu kali distribusi. Yang lebih penting adalah bagaimana kebutuhan warga tetap terpenuhi ketika sumber air di sekitar rumah mulai kehilangan cadangannya.
Bantuan kali ini setidaknya memberikan pasokan sementara bagi warga Dusun Ngegong. Air tersebut digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari masyarakat yang terdampak kekeringan.
Antusiasme warga terlihat dari wadah-wadah yang telah disiapkan sebelum air tiba. Bak penampungan dan galon menjadi tempat untuk menampung pasokan yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Penyaluran air oleh Babinsa bersama BPBD juga menunjukkan bahwa persoalan kekeringan membutuhkan respons langsung ketika sumber air warga mulai tidak mampu memenuhi kebutuhan.
Namun, selama kemarau masih berlangsung, kebutuhan itu tentu belum berhenti. Ketika air dalam bak penampungan kembali berkurang dan sumur belum juga terisi, pertanyaan warga akan kembali pada hal yang sama: dari mana mereka mendapatkan air untuk kebutuhan hari berikutnya?
Karena itu, distribusi 4.000 liter air bukan sekadar kegiatan bantuan. Bagi 45 KK di Dusun Ngegong, air yang datang adalah bagian dari upaya bertahan menghadapi kemarau yang belum sepenuhnya berakhir.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Rilis,Diolah Redaksi










Komentar