KAI Logistik Bidik Pendapatan Rp568,4 Miliar pada 2029, Layanan Angkutan Rendah Emisi Jadi Andalan

Min.co.id | Jakarta — Industri logistik mulai menghadapi tuntutan baru. Pelanggan tidak hanya membutuhkan pengiriman barang yang efisien, tetapi juga data mengenai emisi karbon dari proses distribusi. Peluang inilah yang dibidik PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) melalui pengembangan layanan green freight service atau angkutan logistik berbasis pengelolaan emisi.

Perusahaan memproyeksikan pendapatan segmen angkutan multikomoditas tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 8,5 persen hingga mencapai Rp568,4 miliar pada 2029. Pengembangan green freight service disebut menjadi salah satu pendorong utama target pertumbuhan tersebut.

Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, mengatakan pengembangan layanan ini merupakan respons terhadap kebutuhan industri yang semakin memperhatikan transparansi emisi dan pelaporan keberlanjutan.

“Pelanggan membutuhkan data emisi dari penyedia jasa logistik untuk mendukung pengukuran jejak karbon, penyusunan laporan keberlanjutan, serta pencapaian target dekarbonisasi perusahaan,” ungkap Yuskal.

Layanan yang dikembangkan tidak hanya menghitung emisi dari perjalanan kereta api. Perusahaan juga menyiapkan pengukuran emisi dari operasional terminal serta distribusi first mile dan last mile, yakni pengangkutan barang dari dan menuju titik layanan kereta api.

Dalam pengembangannya, KAI Logistik mengacu pada metodologi yang relevan, termasuk standar ISO 14083 yang digunakan sebagai salah satu rujukan penghitungan dan pelaporan emisi gas rumah kaca dalam rantai transportasi.

Perusahaan juga merancang pelaporan emisi terintegrasi, konsultasi, rekomendasi mitigasi, serta dokumentasi upaya keberlanjutan pelanggan. Dengan data tersebut, pengguna jasa diharapkan dapat mengetahui sumber emisi dalam proses distribusi dan mempertimbangkan pilihan transportasi yang lebih efisien.

Salah satu inovasi yang disiapkan adalah konsep carbon-labelled freight, berupa informasi atau sertifikat emisi untuk setiap pengiriman. Saat ini, KAI Logistik telah memiliki kalkulator emisi untuk layanan pengiriman ant stasiun. Ke depan, pengukuran tersebut akan diperluas agar mencakup rangkaian distribusi, mulai dari transportasi truk, operasional terminal, hingga perjalanan kereta api.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan memperluas pasar angkutan multikomoditas. Selain layanan rendah emisi, KAI Logistik juga mengoptimalkan angkutan ekspor-impor dan membidik pelanggan baru.

Yuskal menyebut perusahaan ingin menyelaraskan pertumbuhan bisnis dengan kebutuhan pelanggan terhadap layanan logistik yang transparan, efisien, dan memperhatikan aspek lingkungan.

Dari sisi kinerja, angkutan kereta api kontainer KAI Logistik mencatat volume 2,5 juta ton sepanjang 2025, meningkat sekitar 8 persen dibandingkan 2,3 juta ton pada 2024. Sementara itu, hingga Triwulan III 2026, volume angkutan tercatat sekitar 2,3 juta ton.

Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran aktivitas bisnis kontainer perusahaan di tengah upaya memperluas layanan. Namun, target pendapatan Rp568,4 miliar pada 2029 tetap merupakan proyeksi perusahaan yang akan bergantung pada realisasi pertumbuhan pasar, akuisisi pelanggan, dan pengembangan layanan.

Pengembangan green freight service pada akhirnya tidak hanya diuji dari inovasi penghitungan emisi, tetapi juga dari konsistensi data dan manfaatnya bagi pelanggan. Transparansi pengukuran menjadi penting agar klaim logistik rendah emisi dapat dipertanggungjawabkan dan menjadi bahan pertimbangan nyata dalam pengelolaan rantai pasok.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: KAI Logistik,Diolah Redaksi

Komentar

News Feed