Distribusi Sawit Butuh Kepastian, KAI Logistik Catat 62 Ribu Ton CPO dan Bidik 200 Ribu Ton per Tahun

Min.co.id | Medan  — Di balik produksi minyak kelapa sawit yang menopang industri pangan, energi, dan berbagai produk kebutuhan sehari-hari, ada pekerjaan besar yang tak selalu terlihat konsumen  memastikan bahan baku berpindah dari sentra produksi ke tempat pengolahan dan distribusi tanpa hambatan.

Kebutuhan itulah yang coba dijawab PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) melalui layanan terintegrasi pra-purna angkutan Crude Palm Oil (CPO), yang sejak mulai diterapkan pada Mei 2026 telah mencatat volume sekitar 62 ribu ton hingga Triwulan III 2026.

Capaian tersebut menjadi pijakan perusahaan untuk memperluas layanan logistik komoditas sawit. Sepanjang Triwulan III 2026 saja, volume yang ditangani mencapai 33.782 ton. Ke depan, KAI Logistik membidik volume hingga 200.000 ton per tahun.

Target itu bukan sekadar mengejar kenaikan angka angkutan. Dalam industri komoditas yang bergantung pada kelancaran distribusi, keterlambatan pemindahan bahan baku dapat memengaruhi jadwal operasional dan menambah beban logistik. Karena itu, layanan yang menghubungkan proses sebelum dan sesudah perjalanan kereta menjadi salah satu upaya untuk membuat distribusi lebih terkoordinasi.

Direktur Pengembangan Usaha KAI Logistik, Aniek Dwi Deviyanti, mengatakan kebutuhan industri tidak berhenti pada pengangkutan barang. Kepastian proses distribusi secara menyeluruh juga menjadi bagian penting yang dibutuhkan pelanggan.

Menurut Aniek, integrasi layanan pra-purna angkutan CPO diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pelanggan sekaligus memperkuat peran perusahaan dalam rantai pasok nasional.

Dalam pelaksanaannya, layanan ini mencakup penyediaan armada truk, pengawalan, pemuatan, hingga pembongkaran. KAI Logistik juga menyediakan layanan purna angkutan melalui jaringan pipa dengan metode pumping di titik muat dan bongkar.

Dengan rangkaian proses yang dikelola dalam satu koordinasi layanan, pelanggan diharapkan lebih mudah mengatur perpindahan CPO tanpa harus mengoordinasikan setiap tahapan secara terpisah. Pola ini ditujukan untuk membantu meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga kelancaran distribusi.

Layanan tersebut menjangkau sejumlah stasiun di Sumatera Utara, yakni Rantau Prapat, Padang Halaban, Hengelo, Kisaran, Sei Bejangkar, Perlanaan, Tebing Tinggi, Dolok Merangir, Perbaungan, dan Sei Mangkei. Sementara itu, pembongkaran dipusatkan di Stasiun Belawan.

Jaringan ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan titik-titik distribusi komoditas sawit dengan layanan kereta api. Namun, manfaatnya bagi industri akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan operasional, ketepatan koordinasi, serta kemampuan layanan memenuhi kebutuhan pelanggan.

Selain efisiensi, kebersihan tangki menjadi aspek penting dalam penanganan CPO. KAI Logistik menyatakan telah menerapkan standar operasional pencucian tangki melalui metode steaming dan cleaning untuk mendukung kebersihan tangki serta menjaga kualitas dan keamanan proses pengangkutan.

Perusahaan juga menyebut telah memiliki Izin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP) untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sesuai ruang lingkup perizinan dan ketentuan yang berlaku.

Penguatan layanan tersebut berlangsung ketika industri sawit masih memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada April 2026 menyampaikan bahwa industri sawit berkontribusi sekitar 3,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Pada 2025, nilai ekspor sawit tercatat sekitar US$40 miliar dengan volume 38,84 juta ton.

Besarnya kontribusi itu menunjukkan bahwa kelancaran rantai pasok menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mendukung aktivitas industri. Pemerintah juga terus mendorong hilirisasi agar komoditas sawit dapat menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri, termasuk untuk kebutuhan pangan, industri, dan energi.

Dalam konteks tersebut, layanan logistik yang terintegrasi berpotensi membantu menghubungkan produksi dengan fasilitas pengolahan dan titik distribusi secara lebih teratur. Meski demikian, peningkatan efisiensi dan dampak ekonomi yang lebih luas tetap perlu ditopang oleh kinerja layanan yang konsisten serta kebutuhan nyata dari pelaku industri.

Aniek menyampaikan, KAI Logistik memandang integrasi pra-purna angkutan sebagai bagian dari upaya memperluas peran kereta api dalam ekosistem logistik, sekaligus menjawab kebutuhan industri terhadap layanan yang efisien, aman, dan andal.

Ke depan, perusahaan berharap target 200.000 ton CPO per tahun dapat dicapai melalui pengembangan layanan yang semakin terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan.

Harapannya, manfaat layanan tidak hanya dirasakan perusahaan melalui pertumbuhan bisnis, tetapi juga oleh pelaku industri yang membutuhkan kepastian distribusi. Pada akhirnya, rantai pasok yang lebih efisien diharapkan ikut memperkuat daya saing industri sawit dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: KAI Logistik, diolah Redaksi

Komentar

News Feed