Min.co.id | Surabaya — Di balik rangkaian kereta yang kelak melayani mobilitas masyarakat, ada proses panjang yang harus dilalui sebelum sarana tersebut siap digunakan. Salah satunya adalah pengiriman dari lokasi produksi menuju titik tujuan.
KAI Logistik merampungkan pengiriman delapan unit kereta rel listrik (KRL) produksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA dari Banyuwangi ke Stasiun Kalimas, Surabaya, pada akhir September 2026.
Pengiriman ini bukan sekadar memindahkan kereta dari satu kota ke kota lain. Dengan bobot setiap unit berkisar 29 hingga 37 ton, prosesnya membutuhkan perencanaan rute, armada khusus, serta koordinasi antarmoda agar muatan dapat tiba di tujuan sesuai kebutuhan proyek.
Bagi industri perkeretaapian nasional, kelancaran distribusi sarana produksi menjadi salah satu bagian penting dalam rantai pasok. Produk yang telah selesai dibuat di pabrik tetap membutuhkan dukungan logistik yang mampu menangani dimensi besar dan bobot berat sebelum melanjutkan tahapan berikutnya.
Direktur Pengembangan Usaha KAI Logistik, Aniek Dwi Deviyanti, mengatakan pengiriman delapan unit KRL tersebut menjadi bagian dari layanan project logistics yang dirancang untuk kebutuhan angkutan khusus.
“Pengiriman delapan unit KRL ini mencerminkan kapabilitas KAI Logistik dalam menyediakan solusi logistik untuk kebutuhan khusus. Kami berupaya memastikan sarana produksi dalam negeri dapat didistribusikan dengan penanganan yang tepat, sekaligus mendukung kelancaran rantai pasok industri perkeretaapian,” ujar Aniek.
Untuk menangani muatan berukuran besar tersebut, KAI Logistik menggunakan layanan project logistics melalui segmen bisnis KALOG Pro. Pengangkutan dilakukan dengan multi-axle trailer berkonfigurasi 12 gandar untuk perjalanan darat dan kapal Landing Craft Tank (LCT) untuk penyeberangan laut.
Rute pengiriman dimulai dari pabrik INKA di Banyuwangi menuju Pelabuhan LCM Ketapang. Dari sana, KRL dibawa melalui jalur laut ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Stasiun Kalimas.
Skema multimoda ini membutuhkan pengaturan yang cermat di setiap titik perpindahan. Selain kesiapan kendaraan pengangkut dan kapal, proses pemindahan muatan serta koordinasi operasional harus diperhitungkan sesuai karakteristik masing-masing unit.
Berdasarkan keterangan perusahaan, total maksimal muatan yang diinformasikan mencapai sekitar 296 ton. Besarnya bobot tersebut memperlihatkan bahwa pengiriman sarana perkeretaapian memerlukan metode penanganan berbeda dari pengiriman barang biasa.
Pengiriman delapan unit KRL ini menambah pengalaman KAI Logistik dalam menangani heavy cargo untuk kebutuhan industri perkeretaapian. Portofolio angkutan perusahaan mencakup lokomotif, gerbong, rangkaian light rail transit (LRT), rel, kereta Multi Tie Tamper (MTT), mobil KPJ, rangka jembatan, wesel, suku cadang, hingga ecer balas.
Beragamnya jenis muatan tersebut menuntut metode pengangkutan yang disesuaikan dengan dimensi, berat, dan kebutuhan teknis barang. Dalam proyek semacam ini, ketepatan perencanaan dan koordinasi menjadi faktor penting untuk mendukung kelancaran distribusi produk industri.
Aniek menyampaikan bahwa perusahaan akan terus memperkuat layanan KALOG Pro agar dapat menjawab kebutuhan pengiriman dengan karakteristik khusus, termasuk pengangkutan yang memerlukan kombinasi moda darat dan laut.
Ia berharap kemampuan tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pelanggan sekaligus memperkuat ekosistem industri perkeretaapian dan transportasi nasional.
Pada akhirnya, keberhasilan distribusi sarana produksi bukan hanya soal muatan yang sampai di tujuan. Kelancaran proses logistik juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan kegiatan industri dalam negeri.
Harapannya, kolaborasi antara produsen dan penyedia jasa logistik dapat terus berkembang sehingga produk perkeretaapian nasional memperoleh dukungan distribusi yang andal, terencana, dan sesuai kebutuhan. (red)









Komentar