Min.co.id | Jakarta — Bagi anak muda yang sedang belajar keterampilan kerja, kompetisi dunia bukan hanya soal membawa pulang medali.
Yang jauh lebih penting adalah apakah pengalaman bertanding dengan talenta dari berbagai negara bisa mengubah cara Indonesia menyiapkan tenaga kerja untuk masa depan.
Pertanyaan itu mengemuka setelah talenta vokasi Indonesia meraih sembilan penghargaan dalam WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026. Indonesia menempati peringkat 19 dari 49 negara dan wilayah peserta.
Sembilan penghargaan tersebut terdiri atas satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medal for Excellence.
Medali perak diraih Edsel Parama Mustapa pada bidang Software Applications Development. Dua medali perunggu masing-masing diraih Fatima Rani Al Husna Prameswara pada bidang Restaurant Service dan Rash Asyari Amyris Thalib pada bidang IT Network Systems Administration.
Sementara enam Medal for Excellence diraih Novanda Putra Widya Ardhi di bidang Electronics, Andi Ahmad Yusup di Web Technologies, Galang Zaki Arkana di Industrial Control, Reno Surya Permana dan Rouf Aufa Rifqi di Mechatronics, Togar Andreas Silaban di Refrigeration and Air Conditioning, serta Eka Anwar Fauzi di Automobile Technology.
Di balik daftar nama dan penghargaan itu ada proses panjang yang mungkin tidak terlihat publik.
Sebanyak 20 kompetitor Indonesia dikirim untuk bertanding dalam 17 bidang keahlian. Sebelum berangkat ke Shanghai, mereka menjalani seleksi dan pembinaan melalui sejumlah pusat pelatihan dan institusi pendidikan.
Salah satunya berlangsung di BBPVP Bekasi untuk bidang Refrigeration and Air Conditioning serta Electronics.
WSC ke-48 sendiri berlangsung pada 22–27 September 2026 di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok, dengan lebih dari 1.400 peserta.
Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan Sukro Muhab mengatakan kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi talenta Indonesia untuk menguji kemampuan secara langsung dengan peserta dari berbagai negara.
“Talenta vokasi kita berkompetisi dengan peserta dari berbagai negara dan menghadapi standar kerja serta penilaian yang berlaku di tingkat dunia,” ujar Sukro melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Selasa (29/9/2026).
Bagi masyarakat, capaian tersebut menarik bukan semata karena jumlah medalinya.
Yang lebih penting adalah apa yang bisa dipelajari Indonesia setelah kompetisi selesai.
Sebab, dunia kerja terus bergerak. Teknologi berubah, standar industri meningkat, dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan tidak berhenti pada kemampuan dasar. Ketelitian, kecepatan, presisi, penguasaan teknologi, hingga kemampuan menyelesaikan persoalan menjadi bagian dari kompetensi yang diuji.
WSC menjadi salah satu ruang untuk melihat seberapa jauh kemampuan peserta Indonesia ketika berhadapan langsung dengan standar tersebut.
Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan pengalaman dari kompetisi itu akan digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk pengembangan pelatihan vokasi di dalam negeri.
Ragam test project dan kriteria penilaian WSC Shanghai 2026 direncanakan menjadi bahan dalam pembaruan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Peralatan workshop di BBPVP/BPVP dan unit sekolah kejuruan juga disebut akan dimodernisasi.
Langkah tersebut menjadi penting karena prestasi seorang peserta tidak berdiri sendiri. Di belakangnya ada guru, instruktur, fasilitas praktik, kurikulum, teknologi, industri, dan sistem pembinaan yang ikut menentukan kualitas seorang talenta.
Kemnaker juga menyiapkan pola pembinaan yang lebih dini. Seleksi tingkat nasional direncanakan berlangsung satu tahun sebelum kompetisi, dengan koordinasi bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Persiapan juga diarahkan agar tidak hanya bertumpu pada Training Centre, tetapi turut mengembangkan Talent Innovation Hub (TIH).
Pada akhirnya, sembilan penghargaan dari Shanghai memang menjadi kabar positif bagi talenta vokasi Indonesia. Namun nilai terbesarnya justru akan terlihat setelah para peserta kembali ke tanah air.
Apakah pengalaman mereka akan masuk ke ruang kelas dan bengkel praktik? Apakah standar kompetisi dunia benar-benar diterjemahkan menjadi kualitas pelatihan yang lebih baik? Dan apakah semakin banyak anak muda Indonesia nantinya memiliki kesempatan memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri?
Di situlah keberlanjutan prestasi vokasi akan diuji.
Medali bisa dibawa pulang dalam satu koper. Tetapi pengetahuan, standar kerja, dan pengalaman dari kompetisi dunia seharusnya dibawa masuk ke sistem pendidikan dan pelatihan agar manfaatnya dirasakan lebih banyak anak muda Indonesia.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan,Diolah Redaksi










Komentar