Bukan Sekadar Pajang Karya, Pameran Literasi SMPN 1 Losarang Tantang Siswa Berani Berpikir dan Berkarya

Min.co.id | indramayu – Bel masuk sekolah baru saja terdengar ketika halaman UPTD SMPN 1 Losarang mulai dipenuhi karya dan aktivitas siswa. Buku, tulisan, gagasan, hingga berbagai hasil kreativitas dipajang dalam Pameran Literasi Talenta 2026, Rabu (19/8/2026).

Bagi para siswa, kegiatan tersebut bukan sekadar kesempatan memamerkan karya. Pameran menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa membaca dan menulis dapat menjadi pintu masuk menuju kreativitas, inovasi, serta keberanian menyampaikan gagasan.

Mengusung tema “Literasi Membangun Generasi Literat dan Smart”, kegiatan yang berlangsung di halaman ruang perpustakaan SMPN 1 Losarang itu menghadirkan berbagai karya literasi hasil siswa.

Guru pendamping kegiatan Talenta, Selvia Noviana, mengatakan seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil kreativitas siswa. Dari karya-karya tersebut nantinya akan dipilih 14 siswa untuk mewakili sekolah dalam ajang Tantangan Literasi Nusantara (Talenta) yang diinisiasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) Gareulis Jawa Barat.

“Semua karya yang dipamerkan semua berasal dari siswa-siswi kami, nantinya akan dipilih karya terbaik dari 14 orang siswa yang akan diikutsertakan pada lomba yang diadakan GLN,” ungkap Selvia saat ditemui di sela kegiatan.

Menurut Selvia, tantangan literasi di kalangan pelajar saat ini bukan hanya bagaimana membuat siswa mau membaca, tetapi juga mengajak mereka menemukan sumber pengetahuan yang lebih beragam.

Ia berharap siswa tidak menjadikan telepon pintar sebagai satu-satunya pintu untuk memperoleh informasi. Karya teman maupun kakak kelas juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan karya baru.

“Jadi anak-anak itu dituntut untuk bisa membuka dunia, mencintai lagi aktivitas membaca buku, menggalinya, juga karya literatur yang lain. Bukan saja dari smartphone, tapi karya dari teman atau kakak kelas. Dengan begitu mudah-mudahan dapat memicu keinginan untuk berkarya bagi yang lain,” lanjutnya.

Kepala UPTD SMPN 1 Losarang, Roenah, melihat kegiatan tersebut memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan era sebelumnya.

Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuat akses terhadap informasi dan pembuatan konten menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan teknologi tersebut menurutnya tidak boleh membuat kemampuan berpikir siswa justru melemah.

“Ya, sekarang ada teknologi AI, kita tidak bisa menolaknya secara penuh, tapi justru harus memanfaatkannya secara maksimal tanpa mengesampingkan kemampuan daya pikir,” kata Roenah.

Menurutnya, teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Sebaliknya, siswa perlu belajar memanfaatkannya secara bijak sembari tetap mempertahankan kemampuan berpikir, mengolah informasi, menciptakan gagasan, dan menghasilkan karya sendiri.

Pameran tersebut juga menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam mendukung program peningkatan kualitas generasi muda. Roenah mengatakan sekolah akan terus mendukung program yang mendorong siswa tidak hanya memiliki karakter yang baik, tetapi juga produktif dalam berkarya dan berinovasi.

“Kami tetap mendukung penuh setiap program pemerintah yang ada, apalagi yang bertujuan untuk mencetak generasi yang baik secara moral, juga dapat produktif dalam berkarya, berkreativitas dan berinovasi,” tegasnya.

Bagi SMPN 1 Losarang, tantangan sebenarnya justru muncul setelah kegiatan berakhir.

Pameran dapat menjadi pemantik, tetapi budaya membaca dan menulis membutuhkan kebiasaan yang dilakukan terus-menerus. Karena itu, Roenah berharap aktivitas literasi tidak hanya muncul ketika sekolah menggelar pameran atau perlombaan.

“Semoga konsistensi budaya literasi tetap terjaga di sekolah, sehingga aktivitas membaca dan menulis tidak berhenti selepas momen pameran berakhir, melainkan menjadi gaya hidup dan kebutuhan sehari-hari siswa,” katanya.

Ia juga berharap budaya literasi yang semakin kuat dapat berbanding lurus dengan peningkatan prestasi siswa.

Harapan tersebut menjadi penting karena literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Siswa juga perlu mampu memahami informasi, memilahnya, berpikir kritis, kemudian mengubahnya menjadi gagasan dan karya.

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan AI, kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar pelajar tidak hanya menjadi konsumen teknologi.

Pameran Literasi Talenta 2026 di SMPN 1 Losarang akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang menghasilkan karya terbaik. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi upaya menanamkan keberanian kepada siswa untuk membaca lebih banyak, berpikir lebih kritis, dan mencoba menuangkan pemikirannya dalam bentuk karya.

Dari halaman sekolah yang dipenuhi karya siswa itulah, budaya literasi diharapkan tidak berhenti sebagai pajangan sesaat, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang menemani siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan wawancara langsung di lokasi kegiatan

Komentar

News Feed