Min.co.id | Indramayu – Hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan sekadar penanda berakhirnya rangkaian kegiatan bagi 370 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Indramayu. Di Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Selasa (18/8/2026), penutupan MPLS justru menjadi awal perjalanan baru bagi anak-anak yang datang membawa cerita dan harapan dari keluarga masing-masing.
Di hadapan para siswa, Bupati Indramayu Lucky Hakim menutup rangkaian MPLS yang mengusung tema “Membuka Pintu Kesempatan, Menjemput Harapan.” Pesan yang disampaikan bukan hanya soal kegiatan sekolah, tetapi juga bagaimana kesempatan pendidikan dapat menjadi jalan bagi anak-anak untuk menatap masa depan.
Lucky mengatakan keberadaan SRT 1 Indramayu merupakan bagian dari upaya pemerintah memberikan akses pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga tidak seharusnya menjadi batas bagi seorang anak untuk memperoleh kesempatan belajar dan mengembangkan diri.
“Sekolah Rakyat ini harus aman dan nyaman bagi anak-anak. Jangan sampai ada perundungan, kekerasan. Kalau ada apa-apa jangan sungkan, cerita sama gurunya,” kata Lucky.
Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam perjalanan sekolah yang kini dihuni ratusan siswa. Lingkungan pendidikan, kata dia, bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga ruang bagi anak untuk tumbuh, membangun karakter dan merasa aman.
SRT 1 Kabupaten Indramayu saat ini memiliki 370 siswa, terdiri atas 270 siswa baru dan 100 siswa rintisan.
Dari 270 siswa baru, masing-masing 90 siswa berada pada jenjang SD, SMP dan SMA. Sementara 100 siswa rintisan terdiri atas 50 siswa jenjang SD dan 50 siswa jenjang SMP.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Sekolah Rakyat di Indramayu tidak hanya menyangkut satu jenjang pendidikan.
Bagi sebagian siswa, memasuki lingkungan sekolah baru berarti bertemu dengan guru, teman dan kegiatan yang sebelumnya belum mereka kenal. Bagi pihak sekolah, kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan untuk memastikan setiap anak memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.
Kepala SRT 1 Kabupaten Indramayu, Mardiani, mengatakan penyelenggaraan pendidikan tidak dapat berjalan hanya mengandalkan sekolah.
Menurutnya, dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Indramayu, diperlukan agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
“Dibutuhkan sinergi, dukungan, dan kolaborasi dari berbagai pihak, khususnya Pemkab, sehingga cita-cita untuk memberikan pendidikan yang bermutu, inklusif, dan berkeadilan dapat terwujud,” ujar Mardiani.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak menganggap berakhirnya MPLS sebagai berakhirnya proses belajar. Justru setelah mengenal lingkungan sekolah, siswa mulai memasuki rutinitas pendidikan yang sesungguhnya.
Belajar, disiplin, membangun karakter dan saling mendukung menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Perjalanan SRT tidak hanya menjadi pengalaman baru bagi siswa. Para guru juga dituntut menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
Anisa Istiqomah, guru SMP SRT 1 Indramayu, mengaku keberadaan Sekolah Rakyat memberikan pengalaman sekaligus tantangan tersendiri dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
Menurut Anisa, pendampingan terhadap siswa membutuhkan kesediaan guru untuk terus belajar, termasuk dalam membangun karakter anak.
“Selain membantu siswa bertumbuh, dengan adanya SRT yang mungkin lebih perlu bimbingan khusus, saya perlu belajar lebih banyak lagi, terutama dalam membangun karakter murid menjadi lebih baik lagi,” kata Anisa.
Ia berharap dukungan terhadap penyelenggaraan SRT terus berlanjut agar proses pendidikan dapat berjalan secara berkesinambungan.
Di antara ratusan siswa yang mengikuti MPLS, Bunga Aprilia, siswa kelas VII SMP SRT 1 Indramayu, mengaku menikmati kegiatan di sekolah.
Salah satu yang menarik perhatiannya adalah kegiatan Pramuka.
Bagi Bunga, pengalaman mengikuti kegiatan sekolah menjadi bagian dari proses mengenal lingkungan baru sekaligus membangun keberanian untuk berinteraksi dengan guru dan teman.
“Saya sangat suka kegiatan Pramuka. Guru-guru juga sangat membantu untuk belajar,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diperolehnya untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
Berakhirnya MPLS akhirnya bukan menjadi titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan pendidikan yang lebih panjang.
Di balik angka 370 siswa, ada anak-anak dengan latar belakang, kemampuan dan cita-cita yang berbeda. Tantangannya kini bukan sekadar memastikan mereka hadir di ruang kelas, tetapi bagaimana kesempatan pendidikan tersebut benar-benar dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berkarakter dan memiliki masa depan.
Karena bagi seorang anak, kesempatan untuk belajar mungkin terlihat sederhana.
Namun, bagi sebagian keluarga, kesempatan itu bisa menjadi awal dari perubahan besar.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Diskominfo Indramayu,Diolah Redaksi










Komentar