Ketika Sampah Tak Lagi Dibakar Sembarangan, Mahasiswa KKN-T UNMA Coba Hadirkan Incinerator di Mekarjaya

Min.co.id | Majalengka – Tumpukan sampah rumah tangga sering kali berakhir dengan cara sederhana: dibakar. Di tengah keterbatasan sarana pengelolaan sampah, praktik tersebut masih dilakukan sebagian warga Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Persoalan itu kemudian menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Majalengka (UNMA). Mereka mencoba menghadirkan alternatif melalui pembuatan incinerator untuk pengolahan sampah kering di Desa Mekarjaya.

Alat tersebut dibuat sebagai salah satu program kerja mahasiswa yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat selama pelaksanaan KKN-T.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-T Universitas Majalengka, Wulan Riyadi, S.E., M.Ak., mengatakan pembuatan incinerator merupakan upaya mahasiswa untuk merespons persoalan sampah yang ditemukan di lingkungan masyarakat.

“Pembuatan incinerator ini merupakan salah satu upaya mahasiswa KKN-T dalam memberikan solusi terhadap persoalan sampah yang ditemukan di masyarakat. Selain menyediakan sarana alternatif pengolahan sampah kering, program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Wulan, Kamis (20/8/2026).

Pembuatan incinerator dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari merancang alat, menyiapkan material, merakit hingga menyelesaikan bagian-bagian pendukungnya.

Setelah alat selesai, mahasiswa melakukan uji coba dengan menggunakan sampah kering untuk melihat kemampuan awal alat dalam proses pembakaran.

Dari pengamatan mahasiswa selama pengujian, proses pembakaran dapat berlangsung dan asap yang dihasilkan disebut relatif minim.

Hasil tersebut menjadi capaian awal bagi mahasiswa untuk memastikan alat yang mereka buat dapat berfungsi sesuai tujuan, yakni menjadi salah satu alternatif pengolahan sampah kering yang sudah tidak dapat dimanfaatkan.

Meski demikian, Wulan mengingatkan agar keberadaan incinerator tidak dipandang sebagai jawaban tunggal atas persoalan sampah.

Menurutnya, pengelolaan sampah yang berkelanjutan tetap harus dimulai dari sumbernya. Masyarakat perlu membiasakan pemilahan, mengurangi sampah, serta memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.

“Incinerator bukan satu-satunya solusi. Masyarakat tetap perlu memahami pentingnya memilah sampah, mengurangi sampah dari sumbernya, dan memanfaatkan kembali sampah yang masih bisa digunakan. Incinerator dapat menjadi salah satu alternatif untuk sampah kering yang sudah tidak dapat dimanfaatkan,” jelasnya.

Kehadiran alat tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat sekaligus mengurangi praktik pembakaran sampah secara terbuka dan individual.

Namun, keberlanjutan program menjadi tantangan berikutnya. Alat yang telah dibuat mahasiswa tidak akan banyak berarti apabila tidak diikuti perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.

Karena itu, pemanfaatan incinerator diharapkan berjalan bersamaan dengan edukasi mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah yang tepat.

Dengan pola tersebut, program KKN-T tidak berhenti pada pembangunan sebuah alat. Ada pekerjaan yang lebih panjang, yakni mendorong perubahan cara pandang masyarakat bahwa persoalan sampah tidak selesai hanya dengan memindahkan atau membakarnya.

Di Desa Mekarjaya, inovasi mahasiswa tersebut menjadi langkah awal untuk mencari jalan keluar dari persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat.

Dari sebuah alat sederhana, mahasiswa berharap tumbuh kesadaran yang lebih besar: sampah perlu dikelola sejak dari sumbernya, bukan sekadar dihilangkan dari pandangan.

Program tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi KKN-T Universitas Majalengka dalam menghadirkan gagasan yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat, sekaligus mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Penulis: Taufik Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Liputan Langsung

Komentar

News Feed