Min.co.id | Nganjuk — Jalan menuju sawah, sekolah, pasar hingga fasilitas kesehatan yang sebelumnya harus ditempuh dengan memutar kini menjadi lebih singkat bagi warga Desa Genjeng, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Kehadiran Jembatan Garuda menjadi penghubung baru yang diharapkan mampu memangkas hambatan mobilitas sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Jembatan tersebut menjadi salah satu bagian dari ribuan Jembatan Garuda yang diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto secara serentak pada Kamis (13/6/2026). Peresmian nasional dipusatkan di Kali Cilodong, Desa Ridomanah, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, dan diikuti secara virtual dari sejumlah daerah.
Di wilayah Korem 081/Dhirotsaha Jaya (DSJ), Jembatan Garuda yang telah dibangun mencapai 67 titik, sementara tiga titik lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto menyampaikan perkembangan tersebut seusai mengikuti peresmian secara virtual dari lokasi Jembatan Garuda Desa Genjeng.
Menurut Untoro, pembangunan jembatan memiliki arti lebih dari sekadar menambah fasilitas fisik. Infrastruktur tersebut dibangun untuk menjawab persoalan akses yang selama ini dirasakan masyarakat, terutama warga di wilayah pedesaan.
“Banyak masyarakat yang sebelumnya harus memutar cukup jauh untuk menuju sawah, sekolah, pasar, atau fasilitas kesehatan. Dengan adanya jembatan ini, waktu tempuh menjadi lebih singkat, biaya transportasi berkurang, dan aktivitas ekonomi masyarakat menjadi lebih lancar,” ujar Untoro.
Memotong Jarak, Membuka Pergerakan Ekonomi
Bagi masyarakat yang setiap hari beraktivitas di sekitar lokasi, akses menjadi salah satu faktor penting. Jalur yang lebih pendek berarti waktu perjalanan dapat ditekan, sementara biaya transportasi juga berpotensi lebih ringan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh warga yang bepergian untuk kebutuhan sehari-hari. Akses yang lebih baik juga diharapkan mempermudah pergerakan hasil pertanian dan kegiatan ekonomi lainnya.
“Dengan akses yang semakin mudah, tentunya kita optimis hal ini akan mampu berdampak luas bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Untoro.
Jembatan Garuda di Desa Genjeng sendiri menjadi salah satu titik yang diharapkan dapat memperkuat konektivitas warga di wilayah Kecamatan Loceret.
Dalam jangka panjang, manfaat pembangunan tersebut akan sangat bergantung pada pemanfaatan dan pemeliharaan bersama. Infrastruktur yang telah dibangun membutuhkan perhatian agar tetap berfungsi dan dapat digunakan masyarakat secara berkelanjutan.
10 Titik Air Bersih Dibangun di Ngawi
Selain pembangunan jembatan, program nasional tersebut juga mencakup penyediaan ribuan titik sarana air bersih di berbagai daerah.
Di wilayah Korem 081/DSJ, sebanyak 10 titik air bersih telah dibangun dan seluruhnya berada di Kabupaten Ngawi.
Untoro menyebut penyediaan air bersih berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, terutama bagi wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan sumber air.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Setiap hari kita semua membutuhkan air bersih, baik untuk masak, mandi, mencuci, dan lain sebagainya. Sehingga kehadiran program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat,” tuturnya.
Peresmian di Desa Genjeng turut dihadiri Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, jajaran Forkopimda serta tokoh masyarakat.
Jika jembatan adalah tentang memperpendek jarak, maka air bersih adalah tentang memenuhi kebutuhan paling mendasar. Dua program tersebut kini menjadi bagian dari pembangunan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat di tingkat desa.
Bagi warga Genjeng, manfaat Jembatan Garuda pada akhirnya bukan diukur dari kemegahan saat peresmian, melainkan dari seberapa mudah mereka pergi ke sekolah, bekerja, bertani, berbelanja atau mendapatkan pelayanan kesehatan setelah akses penghubung itu hadir.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi min.co.id
Sumber:Korem 081/DSJ,diolah redaksi










Komentar