Min.co.id | Indramayu – Aroma gula merah yang meleleh berpadu dengan gurihnya parutan kelapa segar menyeruak dari sebuah lapak sederhana di Pasar Malam Mingguan Desa Jangga, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Sabtu (25/7/2026). Di tengah gempuran jajanan modern yang semakin digemari, Karminah tetap setia menjajakan aneka kue tradisional yang menjadi warisan kuliner Nusantara.
Di atas meja dagangannya tersusun rapi beragam jajanan khas seperti klepon, geblog, blencong, dongkal, cecek, hingga rumbah semanggen. Kue-kue itu tak hanya menawarkan cita rasa khas tempo dulu, tetapi juga menyimpan cerita tentang ketekunan seorang perempuan yang memilih bertahan menjaga tradisi.
Sudah lebih dari lima tahun Karminah berkeliling dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya di wilayah Kecamatan Losarang dan sekitarnya. Setiap sore hingga malam, ia membuka lapak dengan harapan masih ada masyarakat yang merindukan rasa jajanan tradisional.
“Saya sudah lebih dari lima tahun berjualan. Keliling buka lapak di setiap pasar malam dari sore sampai malam,” ujar Karminah.
Hari sebelumnya ia berjualan di Desa Manggungan. Kini, giliran Pasar Mingguan Desa Jangga menjadi tempatnya mencari rezeki.
“Kemarin di Desa Manggungan, sekarang di Desa Jangga,” katanya sambil tersenyum.
Bagi Karminah, menjual jajanan tradisional bukan sekadar mencari penghasilan. Ia percaya makanan-makanan khas itu masih memiliki tempat di hati masyarakat meski jumlah pembelinya tidak lagi sebanyak dulu.
Saat ditanya mengenai hasil penjualannya, Karminah hanya tersenyum.
“Alhamdulillah, lumayan, Mas. Namanya juga rezeki, sudah ada yang mengatur,” ucapnya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah berubahnya pola konsumsi masyarakat. Kehadiran makanan cepat saji, camilan kemasan, hingga aneka jajanan yang ramai dipromosikan melalui media sosial membuat minat terhadap makanan tradisional perlahan berkurang.
Meski demikian, ia mengaku masih memiliki pelanggan setia yang selalu mencari dagangannya setiap pasar malam digelar.
“Di setiap pasar malam ada pelanggan, Mas. Saya sudah kenal mereka,” tuturnya.
Karminah bahkan masih mengingat satu per satu pelanggannya. Baginya, kepercayaan adalah modal utama dalam berdagang.
“Pernah saya masih punya utang uang kembalian ke pelanggan. Saya sendiri yang mengingatkan dan mengembalikannya. Saya masih ingat, malah pelanggannya yang lupa,” katanya sambil tertawa.
Menurut Karminah, tidak sedikit pembeli yang datang bersama anak-anak mereka. Selain berbelanja, mereka ingin mengenalkan makanan tradisional kepada generasi muda yang kini lebih akrab dengan makanan modern.
“Makanan seperti ini jangan sampai hilang,” ujarnya.
Keberadaan pedagang seperti Karminah menjadi potret kecil bagaimana kuliner tradisional tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Di balik setiap butir klepon dan sepotong dongkal yang dijual, tersimpan semangat untuk menjaga cita rasa yang telah diwariskan turun-temurun.
Bagi Karminah, setiap pasar malam bukan hanya tempat berdagang, tetapi juga ruang untuk merawat budaya. Selama masih ada pembeli yang datang dan anak-anak yang mau mengenal jajanan tradisional, ia akan terus menggelar lapaknya dari desa ke desa.
Di tengah derasnya perubahan zaman, lapak sederhana milik Karminah menjadi pengingat bahwa warisan kuliner bukan hanya soal rasa, melainkan juga bagian dari identitas budaya yang patut dijaga agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Hasil wawancara langsung dengan Karminah dan hasil pantauan di Pasar Malam Mingguan Desa Jangga, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Sabtu (25/7/2026).







Komentar