Di Balik Goresan Kuas Ki Tano, Bima Hadir Menjaga Nilai Luhur di Tengah Zaman Modern

Min.co.id | Indramayu – Di tengah derasnya arus budaya modern, Ki Tano memilih melawan lupa dengan cara yang sederhana melukis Bima di atas dinding. Setiap sapuan kuas bukan sekadar menghadirkan sosok kesatria pewayangan, tetapi juga menitipkan pesan tentang keberanian, kejujuran, dan keteguhan hati agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Aroma cat masih terasa saat seniman asal Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, itu berdiri di depan dinding yang perlahan berubah menjadi sebuah karya seni. Sesekali ia melangkah mundur untuk memperhatikan setiap detail lukisannya, memastikan sosok Bima tampil sesuai dengan makna yang ingin disampaikan.

Bagi Ki Tano, tokoh Bima dipilih bukan semata-mata karena dikenal sebagai kesatria yang gagah dan perkasa. Di balik sosoknya, Bima menyimpan filosofi kehidupan yang hingga kini masih relevan bagi masyarakat.

“Bima itu lambang keteguhan hati. Saat bertarung melawan naga, yang dilawan bukan hanya makhluk besar, tetapi juga hawa nafsu dan segala godaan dalam diri manusia,” tutur Ki Tano saat ditemui di sela-sela aktivitas melukisnya.

Dalam kisah pewayangan, Bima melakukan perjalanan mencari Tirta Prawitasari atau air kehidupan. Perjalanan tersebut dipenuhi berbagai rintangan, termasuk menghadapi naga raksasa di tengah samudra.

Menurut Ki Tano, kisah itu mengajarkan bahwa setiap manusia harus berani menghadapi ujian hidup, mengendalikan ego, serta menaklukkan hawa nafsu sebelum menemukan makna kehidupan yang sejati.

Pesan itulah yang ingin ia hadirkan melalui lukisan dindingnya. Baginya, mural bukan sekadar penghias ruang publik, melainkan media untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kepada masyarakat secara sederhana namun bermakna.

Di tengah derasnya pengaruh budaya modern, Ki Tano mengaku prihatin karena generasi muda mulai asing dengan cerita-cerita pewayangan. Padahal, menurutnya, warisan budaya tersebut menyimpan banyak pelajaran tentang kehidupan yang tetap relevan sepanjang masa.

Karena itu, ia memilih dinding sebagai kanvas. Tempat yang setiap hari dilalui masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Harapannya, siapa pun yang melihat sosok Bima akan terdorong untuk mengenal kisah dan filosofi yang terkandung di baliknya.

“Bagi saya, melestarikan budaya tidak harus selalu melalui pertunjukan wayang atau panggung besar. Dinding sederhana pun bisa menjadi ruang belajar yang mengingatkan kita bahwa keberanian, kejujuran, dan keteguhan hati adalah nilai yang tidak pernah lekang oleh zaman,” ujarnya.

Melalui karya-karyanya, Ki Tano berharap seni tidak hanya dipandang sebagai keindahan visual, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan warisan budaya leluhur. Sebab, selama masih ada yang mau bercerita melalui karya, nilai-nilai budaya akan tetap hidup dan terus menginspirasi masyarakat.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara langsung dengan Ki Tano, seniman asal Desa Pranti, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu.

Komentar

News Feed