Min.co.id | Lumajang – Masa depan Indonesia tidak hanya dibangun melalui gedung-gedung megah, tetapi dimulai dari ruang bersalin, ketika seorang bayi menghirup napas pertamanya dengan didampingi tangan-tangan penuh kasih seorang bidan. Dari sanalah harapan menuju Generasi Emas Indonesia 2045 mulai dipahat.
Pesan penuh makna itu disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Stadion Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/7/2026).
Di hadapan para bidan yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak, Dewi Natalia menegaskan bahwa profesi bidan memiliki peran strategis yang jauh melampaui tugas membantu persalinan. Menurutnya, bidan merupakan pendamping keluarga yang turut menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak awal kehidupan.
“Kesiapan Generasi Emas 2045 tidak lahir di istana yang megah, tetapi lahir di kamar bersalin dan disambut dengan sentuhan lembut tangan-tangan bidan. Sehat tidaknya mereka 20 tahun lagi ditentukan oleh bidan hari ini,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa pentingnya keberadaan bidan dalam memastikan setiap anak memperoleh awal kehidupan yang sehat. Mulai dari masa kehamilan, proses persalinan, hingga tumbuh kembang balita, bidan menjadi sosok yang hadir mendampingi keluarga dalam setiap tahapan penting.
Dewi Natalia mengatakan, tantangan pembangunan kesehatan saat ini membuat peran bidan semakin luas. Mereka bukan hanya tenaga kesehatan yang menangani persalinan, tetapi juga menjadi penggerak edukasi kesehatan, pendamping keluarga, pengelola data kesehatan masyarakat, hingga mitra pemerintah dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.
“Bidan bukan hanya penolong persalinan. Bidan adalah pemimpin kesehatan di desa, pemimpin data, dan pemimpin edukasi,” ujarnya.
Melalui implementasi 10 Program Pokok PKK, Pemerintah Kabupaten Lumajang berkomitmen memperkuat sinergi bersama Ikatan Bidan Indonesia dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Kolaborasi tersebut mencakup pendampingan kehamilan sehat, peningkatan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, pemenuhan gizi balita, hingga edukasi kesehatan keluarga yang berkelanjutan.
Menurut Dewi Natalia, membangun generasi unggul tidak mungkin hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, pemerintah, organisasi profesi, kader PKK, hingga masyarakat luas agar setiap ibu dan anak memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal.
Ia juga mengingatkan bahwa profesi bidan kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan sosial, perkembangan teknologi kesehatan, hingga tuntutan peningkatan kualitas pelayanan.
Namun, menurutnya, persoalan yang jauh lebih besar justru akan terjadi apabila masyarakat di pelosok desa kehilangan akses terhadap pelayanan bidan.
“Tantangan bidan ke depan memang berat, tetapi seberat-beratnya tantangan bidan, lebih berat lagi jika di desa tidak ada bidan desanya,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk memberikan dukungan kepada para bidan agar dapat terus menjalankan tugas kemanusiaannya dengan maksimal.
“Mari kita bergandengan tangan, jangan biarkan bidan berjuang sendiri. Ikut menjaga perjuangan bidan berarti ikut menjaga keselamatan ibu dan bayi, sekaligus menjaga masa depan Generasi Emas Indonesia 2045,” pungkasnya.
Bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang, memperkuat peran bidan bukan sekadar program kesehatan, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas manusia Indonesia. Sebab, setiap bayi yang lahir sehat hari ini adalah harapan besar bagi masa depan bangsa di tahun 2045.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Infopublik,Diolah Redaksi










Komentar