Min.co.id | Jakarta – Di balik setiap upaya penyelamatan pasien HIV/AIDS, terdapat peran besar tenaga kesehatan yang tidak hanya bertugas mengobati, tetapi juga memberikan harapan, edukasi, dan perlindungan bagi generasi masa depan.
Komitmen itulah yang kembali ditegaskan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan melalui penyelenggaraan Workshop Provider Initiated Testing and Counseling (PITC) dan Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT) yang berlangsung di Auditorium Prof. Dr. Rasmin Rasjid, Lantai 8 RSUP Persahabatan, Selasa (23/6/2026).
Sebanyak 42 tenaga kesehatan mengikuti pelatihan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan dalam deteksi dini HIV, pencegahan penularan dari ibu ke anak, serta peningkatan kualitas pelayanan yang lebih manusiawi dan bebas stigma.
Kegiatan dibuka oleh Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Persahabatan, dr. Andi Yussianto, S.H., M.Epid, serta menghadirkan sejumlah narasumber dan praktisi berpengalaman dari Tim EPIC dan Suku Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Di tengah perkembangan ilmu kedokteran yang semakin maju, HIV/AIDS masih menjadi tantangan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Bukan hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga dalam membangun kesadaran masyarakat agar berani melakukan pemeriksaan sejak dini dan mendapatkan layanan kesehatan tanpa rasa takut maupun diskriminasi.
Melalui pelatihan ini, para peserta dibekali pemahaman komprehensif mengenai konsep dasar HIV/AIDS, perkembangan tata laksana terkini, hingga teknik komunikasi dan konseling yang efektif kepada pasien serta keluarga.
Program Provider Initiated Testing and Counseling (PITC) menjadi salah satu strategi penting dalam mendeteksi HIV lebih cepat melalui inisiatif tenaga kesehatan. Dengan deteksi dini, peluang pasien untuk mendapatkan pengobatan yang tepat dan mempertahankan kualitas hidup menjadi jauh lebih besar.
Sementara itu, program Prevention of Mother to Child Transmission (PMTCT) berfokus pada upaya mencegah penularan HIV dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan, persalinan, maupun menyusui.
Bagi banyak keluarga, program ini menjadi harapan agar anak-anak dapat lahir sehat dan terbebas dari risiko infeksi HIV.
Selain memperkuat kompetensi teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pasien serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Tenaga kesehatan didorong untuk menjadi garda terdepan dalam menghapus stigma dan diskriminasi yang masih kerap dihadapi oleh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Dengan komunikasi yang baik dan pendekatan yang empatik, pasien diharapkan merasa lebih nyaman untuk menjalani pemeriksaan, pengobatan, dan pendampingan secara berkelanjutan.
RSUP Persahabatan menilai bahwa keberhasilan pengendalian HIV/AIDS tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat dan teknologi medis, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.
Melalui workshop ini, rumah sakit berharap seluruh peserta mampu menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperoleh dalam praktik pelayanan sehari-hari sehingga dapat mendukung target nasional pengendalian HIV/AIDS.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik dan data kesehatan, terdapat kehidupan manusia yang membutuhkan kepedulian, perlindungan, dan kesempatan untuk hidup lebih sehat tanpa stigma.
Karena setiap langkah deteksi dini yang dilakukan hari ini dapat menjadi harapan baru bagi masa depan yang lebih sehat bagi ibu, anak, dan seluruh masyarakat Indonesia.
Penulis: Achmad Suharya
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Humas RSUP Persahabatan ,Diolah Redaksi









Komentar