Min.co.id | Indramayu – Semerbak harum mawar, kenanga, dan melati tak hanya menjadi pelengkap dalam berbagai tradisi masyarakat Indramayu. Di balik rangkaian tiga bunga yang dikenal sebagai kembang telon itu, para leluhur menitipkan pesan kehidupan tentang rasa syukur, kebijaksanaan dalam memilih jalan hidup, hingga kehati-hatian dalam setiap ucapan dan perbuatan.
Di tengah perubahan zaman, makna filosofis kembang telon mulai jarang dipahami. Bagi sebagian orang, rangkaian bunga tersebut hanya dianggap sebagai pelengkap umba rampe dalam prosesi adat. Padahal, setiap helai bunga menyimpan nilai moral yang diwariskan turun-temurun sebagai pedoman menjalani kehidupan.
Budayawan sekaligus pelaku tradisi di Kabupaten Indramayu, Rawin, mengatakan kembang telon bukan sekadar hiasan, melainkan simbol yang digunakan para leluhur untuk menyampaikan ajaran hidup dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat.
“Kembang telon bukan hanya hiasan. Di dalamnya ada pitutur atau nasihat hidup. Leluhur kita menyampaikan ajaran melalui simbol-simbol yang mudah dipahami masyarakat,” ujar Rawin saat diwawancarai.
Mawar, Tentang Rasa Syukur dalam Perjalanan Hidup
Rawin menjelaskan, bunga mawar melambangkan kehidupan yang penuh warna. Dalam perjalanan hidup, setiap manusia akan mengalami kebahagiaan maupun kesedihan. Karena itu, manusia diajarkan untuk menerima setiap fase kehidupan dengan penuh rasa syukur dan keteguhan hati.
Menurutnya, tidak ada kehidupan yang selalu berjalan mulus. Ujian, kegagalan, maupun keberhasilan merupakan bagian dari proses yang membentuk karakter seseorang.
Kenanga, Simbol Kebijaksanaan Memilih Jalan Hidup
Berbeda dengan mawar, bunga kenanga mengandung filosofi tentang pilihan hidup. Dalam falsafah Jawa dikenal istilah arep mengkono, arep mengkenen, yang menggambarkan bahwa manusia selalu dihadapkan pada berbagai pilihan dalam menjalani kehidupannya.
Rawin menuturkan, setiap pilihan akan membawa konsekuensi. Oleh karena itu, manusia dituntut memiliki kebijaksanaan agar mampu menentukan arah hidup yang benar.
“Kenanga mengingatkan bahwa hidup selalu dihadapkan pada pilihan. Karena itu, setiap orang harus berpikir bijak sebelum menentukan langkah,” jelasnya.
Melati, Pengingat untuk Selalu Eling lan Waspada
Sementara itu, bunga melati dalam falsafah Jawa dikaitkan dengan istilah mila-lati. Makna tersebut menjadi pengingat agar manusia senantiasa berhati-hati dalam bersikap, berbicara, maupun bertindak.
Menurut Rawin, setiap ucapan dan perbuatan akan membawa konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, manusia diajarkan untuk selalu menjaga lisan, perilaku, serta menjauhi perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Melati mengajarkan kita untuk selalu eling lan waspada. Jangan sembarangan dalam perbuatan, karena semua ada balasannya. Itulah pesan moral yang diwariskan kepada generasi penerus,” tuturnya.
Warisan Budaya yang Tetap Relevan
Bagi Rawin, kembang telon menjadi bukti bahwa tradisi bukan sekadar menjaga bentuk upacara adat, melainkan juga merawat nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal kembang telon sebagai bagian dari perlengkapan tradisi, tetapi juga memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.
“Kalau maknanya dipahami, tradisi tidak lagi dipandang sebagai kebiasaan turun-temurun semata, tetapi menjadi sumber pembelajaran tentang bagaimana manusia hidup dengan rasa syukur, kebijaksanaan, dan tanggung jawab,” pungkasnya.
Melalui keharuman mawar, kenanga, dan melati, para leluhur seolah menitipkan pesan agar manusia senantiasa memilih jalan kebaikan, menjaga hubungan dengan sesama, serta menjalani kehidupan dengan hati yang bersih dan penuh kebijaksanaan.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara langsung dengan Rawin, budayawan dan pelaku tradisi Kabupaten Indramayu.










Komentar