Min.co.id ~ Indramayu ~ Sebuah babak baru dalam tata kelola desa berbasis data tercatat di Kabupaten Indramayu. Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, secara resmi dinobatkan sebagai Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) 2025, menjadikannya pionir dalam penerapan sistem data yang humanis dan transparan.
Predikat ini diberikan oleh tiga institusi strategis: Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), serta Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Indramayu. Penobatan ini bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk apresiasi atas praktik nyata Desa Krasak dalam membangun desa dengan fondasi data yang kuat.
Di balik kesuksesan ini berdiri sosok muda inspiratif, Kuwu Khaerul Isma Arif, yang mulai menjabat sejak usia 26 tahun dan kini, di usia 30, telah berhasil membawa transformasi nyata. Bagi Arif, data bukan sekadar angka ia adalah cermin realitas dan fondasi kebijakan.
“Kami percaya, kekuatan data adalah kunci pelayanan dan pembangunan desa yang lebih baik,” ujar Arif dalam Podcast Jendela IWO, Selasa (27/3/2025).
Salah satu gebrakan inovatif yang dilakukan adalah pemutakhiran data bulanan setiap tanggal 28, melibatkan Ketua RT dan perangkat desa yang telah dilatih khusus. Data yang dihimpun mencakup warga meninggal, pindah domisili, kelahiran, hingga warga yang berangkat ke luar negeri.
Data tersebut dipublikasikan secara terbuka melalui Papan Kependudukan di Balai Desa, menciptakan ekosistem transparansi yang jarang ditemukan di tingkat desa.
Tak hanya itu, pendataan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan Calon PMI telah dilakukan secara intensif sejak 2022. Langkah ini bertujuan mencegah praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sekaligus memastikan keselamatan dan kesejahteraan warganya yang bekerja di luar negeri.
“Kami aktif bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait untuk memastikan perlindungan maksimal bagi PMI,” ungkap Arif.
Data juga dimanfaatkan untuk menangani stunting, ibu hamil berisiko, tingkat pendidikan, hingga warga miskin ekstrem. Semua informasi itu menjadi landasan dalam merancang program yang benar-benar menyasar kebutuhan warga.
Bagi Arif, data adalah alat keadilan sosial menjadi jembatan antara kebijakan dan kebutuhan nyata masyarakat.
“Kami berharap data pendidikan, pengangguran, pertanian, hingga ekonomi rumah tangga juga bisa diperbarui terus agar desa benar-benar bisa hadir dalam kehidupan warganya,” imbuhnya.
Selain unggul dalam pengelolaan data, Desa Krasak juga menunjukkan kepedulian terhadap masa depan anak-anak mudanya. Berbagai pelatihan keterampilan vokasional seperti pengelasan, barbershop, tata boga, dan rias pengantin digelar untuk membekali generasi muda menjadi wirausaha mandiri.
“Anak muda jangan hanya jadi pencari kerja, tapi harus jadi pencipta peluang,” tegas Kuwu Arif.
Keberhasilan Desa Krasak menjadi Desa Cinta Statistik 2025 bukan sekadar prestasi administratif. Ini adalah manifestasi nyata dari kepemimpinan visioner, pemanfaatan teknologi informasi, dan kolaborasi masyarakat yang luar biasa.
Langkah-langkah ini diharapkan bisa menjadi inspirasi nasional bagi desa-desa lain dalam mewujudkan desa yang cerdas, inklusif, dan berbasis bukti.
“Data bukan hanya angka, tapi cahaya yang menerangi jalan pembangunan. Dan dari Desa Krasak, cahaya itu kini mulai bersinar ke seluruh penjuru negeri,” tutup Arif.(*)
Editor : Redaksi Min.co.id










Komentar