Dari Pelatihan Barista ke Dunia Kerja, 1.041 Penyandang Disabilitas Dilatih Kemnaker

Min.co.id | Bekasi — Bagi Muhammad Fahri, pemuda tunarungu berusia 21 tahun, pelatihan barista selama satu bulan menjadi langkah penting untuk memasuki dunia kerja.

Setelah menyelesaikan pelatihan, ia berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah kafe. Pengalaman itu membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran tidak menutup kesempatan seseorang untuk mengembangkan keterampilan dan memperoleh penghasilan secara mandiri.

Kisah Fahri menjadi gambaran manfaat pelatihan vokasi yang terus didorong Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bagi penyandang disabilitas. Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, sebanyak 1.041 penyandang disabilitas telah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan kementerian tersebut.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut sebagian besar alumni pelatihan telah bekerja maupun membuka usaha sendiri. Capaian ini dinilai menjadi dorongan untuk memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas agar memiliki keterampilan, memperoleh pekerjaan, dan membangun kemandirian ekonomi.

“Semoga bisa terus ditingkatkan sampai akhir tahun. Menurut saya, 1.041 ini satu capaian yang luar biasa karena kita ingin menghadirkan kesempatan yang sama kepada teman-teman disabilitas. Sebagian besar dari mereka sudah bekerja dan membuka usaha sendiri,” ujar Yassierli saat menghadiri Orientasi Peserta Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) Batch V Tahun 2026 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Jumat (16/10/2026).

Bagi penyandang disabilitas, akses terhadap pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan menjadi salah satu pintu menuju dunia kerja. Keterampilan yang diperoleh dapat menjadi modal untuk melamar pekerjaan, meningkatkan kemampuan profesional, atau merintis usaha mandiri.

Pengalaman Fahri memperlihatkan bagaimana pelatihan dapat membuka jalan menuju kesempatan tersebut. Setelah mengikuti pelatihan barista, ia tidak hanya membawa pulang pengetahuan baru, tetapi juga memperoleh peluang bekerja di lingkungan kafe.

“Manfaatnya, setelah mengikuti pelatihan, saya mendapatkan pekerjaan. Sekarang saya sudah bekerja di sebuah kafe,” ujar Fahri melalui penerjemah bahasa isyarat.

Pengalaman itu juga mendorong Fahri mengajak penyandang disabilitas lainnya, terutama sesama tunarungu, untuk mengikuti pelatihan vokasi sesuai minat dan kemampuan masing-masing.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkembang ketika akses pelatihan, lingkungan kerja, dan peluang berkarier terbuka secara setara.

Untuk memperluas akses tersebut, Kemnaker berencana membangun pusat pelatihan khusus penyandang disabilitas di Bekasi pada 2027.

Pusat pelatihan ini direncanakan menyediakan sejumlah program, antara lain layanan call center, teknologi informasi (IT), barista, dan menjahit. Ragam pelatihan tersebut diharapkan memberikan pilihan bagi peserta untuk mengembangkan kompetensi sesuai minat, kemampuan, serta kebutuhan dunia kerja.

Keberadaan pusat pelatihan khusus itu diharapkan tidak hanya menambah jumlah peserta yang mendapatkan keterampilan, tetapi juga memperkuat hubungan antara pelatihan dan kesempatan kerja nyata.

Yassierli berharap fasilitas tersebut dapat menjadi model pelatihan vokasi bagi penyandang disabilitas yang dapat dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.

“Kita ingin teman-teman disabilitas tersenyum dan pemerintah hadir untuk mereka,” kata Yassierli.

Capaian 1.041 peserta pelatihan menjadi langkah penting, tetapi upaya memperluas kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas masih perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Pelatihan perlu diikuti akses terhadap informasi lowongan kerja, lingkungan kerja yang inklusif, serta kesempatan untuk mengembangkan kemampuan setelah diterima bekerja. Bagi mereka yang memilih berwirausaha, keterampilan juga perlu didukung peluang usaha agar dapat berkembang secara mandiri.

Harapannya, rencana pembangunan pusat pelatihan pada 2027 dapat memperluas akses keterampilan sekaligus membuka jalan bagi lebih banyak penyandang disabilitas untuk memasuki dunia kerja.

Kisah Fahri menunjukkan bahwa kesempatan yang tepat dapat membawa perubahan nyata. Dengan pelatihan yang sesuai, dukungan yang memadai, dan kesempatan yang setara, penyandang disabilitas dapat mengembangkan potensi, membangun kemandirian ekonomi, dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan program bukan hanya diukur dari berapa banyak orang yang mengikuti pelatihan, melainkan juga dari seberapa banyak peserta yang mampu memperoleh pekerjaan, mengembangkan usaha, dan menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Biro Humas Kemnaker,Diolah Redaksi

Komentar

News Feed