Min.co.id |Bantul – Memiliki ijazah belum selalu cukup untuk mendapatkan pekerjaan. Di tengah persaingan mencari nafkah, kemampuan yang bisa langsung digunakan di tempat kerja atau dikembangkan menjadi usaha sendiri menjadi bekal yang semakin penting.
Kebutuhan itulah yang coba dijawab melalui Program Pelatihan Vokasi Nasional di Satuan Pelayanan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Satpel PVP) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 96 peserta mengikuti pelatihan dengan pilihan tujuh bidang keterampilan, mulai dari desain grafis, menjahit, dan mengolah makanan hingga memperbaiki sepeda motor serta memasang instalasi listrik.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli meninjau kegiatan tersebut pada Rabu (7/10/2026). Para peserta disiapkan untuk meningkatkan peluang memasuki dunia kerja maupun merintis usaha mandiri.
Tujuh Pilihan Keterampilan, dari Komputer hingga Teknik Las
Pelatihan di Bantul mencakup bidang yang beragam. Peserta bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mempelajari desain grafis dan aplikasi perkantoran tingkat lanjut. Sementara itu, bidang Garmen Apparel membekali peserta dengan keterampilan menjahit pakaian dan menggunakan mesin industri.
Bagi yang tertarik pada usaha makanan, tersedia pelatihan tata boga dengan materi pengolahan makanan dan bakery. Bidang tata kecantikan mencakup tata rias dan penataan rambut.
Pilihan lainnya adalah otomotif, khususnya servis sepeda motor konvensional dan injeksi; teknik las manufaktur dengan metode SMAW; serta teknik listrik dan refrigerasi, termasuk instalasi penerangan dan keterampilan teknisi pendingin udara atau AC.
Beragamnya bidang tersebut memberi peserta pilihan untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bidang pekerjaan yang ingin ditekuni.
Namun, keterampilan yang diperoleh tetap perlu diikuti latihan, ketekunan, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pengguna jasa atau perusahaan.
Keterampilan Bisa Menjadi Jalan Masuk ke Dunia Kerja
Bagi pencari kerja, pelatihan bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu sebelum memperoleh pekerjaan. Keterampilan praktis dapat menjadi modal untuk menghadapi proses seleksi, menjalankan tugas teknis, atau menawarkan jasa secara mandiri.
Hal serupa berlaku bagi pekerja yang ingin meningkatkan kemampuan maupun orang yang berencana beralih profesi. Mereka membutuhkan kesempatan belajar agar tidak hanya bergantung pada pengalaman atau keterampilan yang dimiliki sebelumnya.
Yassierli mengatakan pemerintah memfasilitasi peningkatan keterampilan melalui proses skilling, upskilling, dan reskilling agar kompetensi angkatan kerja lebih sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Ia juga mengajak masyarakat, terutama generasi muda yang sedang mencari pekerjaan atau ingin berganti bidang pekerjaan, memanfaatkan program pelatihan vokasi gratis yang disediakan pemerintah.
Meski demikian, mengikuti pelatihan tidak otomatis menjamin seseorang langsung diterima bekerja. Hasilnya akan sangat bergantung pada kemampuan yang dikuasai, kebutuhan pasar, dan upaya peserta memanfaatkan keterampilan setelah pelatihan selesai.
Kesempatan Belajar Perlu Diikuti Informasi yang Jelas
Bagi masyarakat yang tertarik mengikuti program serupa, informasi mengenai pendaftaran, ketersediaan kuota, dan pilihan kejuruan dapat diperiksa melalui platform resmi SIAPkerja pada menu Skillhub.
Pembaca dapat mengakses portal resmi Kemnaker untuk mencari informasi layanan ketenagakerjaan dan menelusuri menu pelatihan Skillhub. Ketersediaan program dan persyaratan perlu diperiksa kembali karena dapat berbeda menurut lokasi dan gelombang pelatihan.
Memilih kejuruan sebaiknya tidak hanya mengikuti bidang yang sedang populer. Calon peserta juga perlu mempertimbangkan minat, kemampuan, kebutuhan tenaga kerja di daerahnya, serta peluang untuk mengembangkan usaha setelah menguasai keterampilan tertentu.
Ukuran Keberhasilan Ada Setelah Pelatihan Berakhir
Pelatihan vokasi di Bantul memperlihatkan bahwa persiapan memasuki dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Kemampuan teknis juga perlu diasah agar seseorang memiliki bekal untuk menghadapi kebutuhan pekerjaan yang terus berubah.
Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan yang dipelajari benar-benar dapat digunakan setelah program selesai. Akses terhadap informasi lowongan, pengalaman praktik, jejaring usaha, dan peluang memulai usaha akan ikut menentukan manfaat yang dirasakan peserta.
Bagi 96 peserta di Bantul, pelatihan ini menjadi salah satu tahapan untuk menyiapkan langkah berikutnya. Mereka tidak hanya dituntut menyelesaikan pembelajaran, tetapi juga perlu membawa keterampilan itu ke dunia kerja atau mengembangkannya menjadi sumber penghasilan.
Sebab, keberhasilan pelatihan bukan semata-mata ketika peserta menuntaskan kelas, melainkan ketika keterampilan yang dipelajari bisa digunakan untuk membuka jalan menuju pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Biro Humas Kemnaker,Diolah Redaksi








Komentar