Min.co.id | Jakarta — Memahami teori di ruang pelatihan belum tentu membuat seseorang siap menghadapi pekerjaan sesungguhnya. Di tempat kerja, keterampilan diuji melalui peralatan, prosedur keselamatan, ketepatan kerja, dan persoalan teknis yang harus diselesaikan langsung.
Kesenjangan antara kemampuan lulusan pelatihan dan kebutuhan perusahaan itulah yang ingin dijembatani Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui skema pelatihan hibrid. Peserta akan belajar secara intensif di balai pelatihan pemerintah selama satu hingga dua bulan, kemudian melanjutkan pembelajaran melalui praktik kerja langsung di industri.
Program tersebut sedang diuji coba di Sumatera Selatan dengan melibatkan sejumlah perusahaan besar, yakni Bukit Asam, Pusri Palembang, dan Pertamina.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan hal itu saat menghadiri seminar nasional teknik Heating, Ventilating, Air Conditioning, and Refrigerating (HVACR) di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Tidak Berhenti pada Materi Pelatihan
Bagi pencari kerja, pengalaman praktik menjadi salah satu bekal penting untuk memasuki dunia industri. Kemampuan memahami materi perlu diikuti kecakapan menggunakan peralatan, mengikuti prosedur kerja, dan menyelesaikan tugas sesuai standar.
Melalui skema hibrid ini, pembelajaran di balai menjadi tahap awal sebelum peserta mengenal lingkungan kerja industri secara langsung.
Kemnaker menanggung biaya pelatihan, sementara peserta memperoleh sertifikat kompetensi secara gratis sesuai ketentuan program.
Yassierli mengatakan, pelaksanaan skema tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perusahaan, asosiasi profesi, dan perguruan tinggi. Keterhubungan itu diperlukan agar materi pelatihan tidak berjalan sendiri, tetapi sesuai dengan kebutuhan pekerjaan di lapangan.
Meski demikian, program ini masih dalam tahap uji coba di Sumatera Selatan. Hasil pelaksanaannya akan menjadi hal penting untuk melihat sejauh mana pola tersebut dapat diterapkan lebih luas.
Teknisi Pendingin Dibutuhkan, Keterampilan Tak Bisa Asal
Salah satu bidang yang disoroti Yassierli adalah HVACR, yang berkaitan dengan sistem pemanas, ventilasi, pendingin udara, dan refrigerasi.
Ketika suhu udara meningkat dan penggunaan perangkat pendingin meluas, kebutuhan terhadap teknisi yang mampu memasang serta merawat peralatan tersebut ikut menjadi perhatian.
Pekerjaan teknisi bukan sekadar membuat pendingin menyala. Pemasangan harus dilakukan secara tepat, termasuk memperhatikan sistem dan potensi kebocoran refrigeran yang dapat berdampak pada lingkungan.
Karena itu, tenaga terampil dibutuhkan untuk memastikan perangkat bekerja sesuai kebutuhan sekaligus mengurangi risiko akibat pemasangan yang tidak tepat.
Bagi masyarakat yang sedang mempertimbangkan pilihan keterampilan, bidang ini dapat menjadi salah satu jalur yang dipelajari. Namun, peluang kerja tetap bergantung pada kebutuhan perusahaan, kompetensi yang dikuasai, dan kualifikasi yang dipersyaratkan.
Modal Pelatihan Harus Berujung pada Kompetensi
Kemnaker memiliki 34 Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di berbagai daerah, dengan dukungan 1.627 instruktur kompeten.
Jaringan tersebut menjadi modal untuk menyiapkan tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri. Tantangan berikutnya adalah memastikan pelatihan tidak hanya menghasilkan peserta yang lulus, tetapi juga tenaga kerja yang benar-benar mampu menjalankan pekerjaan.
Bagi peserta, sertifikat dapat menjadi bukti kompetensi. Namun, kemampuan menerapkan pengetahuan, disiplin, keselamatan kerja, dan pengalaman praktik tetap menjadi bagian penting saat memasuki dunia kerja.
Di sisi lain, keterlibatan industri perlu memberi pengalaman belajar yang terarah, bukan sekadar menempatkan peserta di lingkungan perusahaan tanpa pembimbingan yang memadai.
Kesempatan Kerja Membutuhkan Lebih dari Sekadar Sertifikat
Pelatihan yang terhubung langsung dengan industri menawarkan pendekatan yang patut diperhatikan, terutama bagi pencari kerja yang membutuhkan keterampilan praktis. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau sertifikat yang diterbitkan.
Yang lebih penting adalah apakah peserta mampu menggunakan keterampilan itu untuk memperoleh pekerjaan, meningkatkan kemampuan, atau membuka usaha sendiri.
Bagi pemerintah, pekerjaan rumahnya adalah memperluas akses pelatihan dan memastikan program sesuai kebutuhan pasar. Bagi industri, keterlibatan dalam pelatihan perlu disertai gambaran kompetensi yang benar-benar dibutuhkan. Sementara bagi peserta, kesempatan belajar harus dimanfaatkan untuk menguasai keterampilan, bukan hanya menyelesaikan program.
Sebab, bagi orang yang sedang mencari pekerjaan, pelatihan baru benar-benar berarti ketika ilmu yang diperoleh dapat digunakan untuk membuka pintu penghidupan.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Biro Humas Kemnaker,Diolah Redaksi








Komentar