Min.co.id | Indramayu — Dentuman drum menggema di GOR Dharma Ayu, Indramayu, Minggu (27/9/2026). Langkah kaki bergerak serempak, alat musik dimainkan dalam irama yang terukur, sementara setiap kelompok berusaha mempertahankan kekompakan hingga penampilan berakhir.
Di mata penonton, itu mungkin sekadar pertunjukan marching band. Tetapi bagi para peserta, beberapa menit di atas arena merupakan hasil dari latihan panjang, kedisiplinan dan kerja sama yang tidak bisa dibangun dalam sehari.
Dari panggung Indramayu Drum and Marching Championship (IDMC) 2026 seri ketiga itulah talenta-talenta muda Indramayu mendapat ruang untuk ditempa.
Ajang yang berlangsung 26–27 September 2026 tersebut tidak hanya mempertemukan kelompok marching band untuk memperebutkan prestasi. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang bagi pelajar untuk menguji kemampuan, belajar berkompetisi dan membangun mental tampil di hadapan publik.
Sekitar 21 peserta ambil bagian dalam IDMC 2026. Peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten Indramayu, tetapi juga dari luar daerah, di antaranya Cirebon dan Kuningan.
Kategori perlombaan dibagi dalam beberapa divisi. Hari pertama diisi peserta SD lokal dan SMP lokal, sedangkan hari kedua menghadirkan divisi SMA Open dan divisi umum.
Di balik pembagian kategori tersebut, ada proses yang lebih panjang. Para peserta harus belajar menjaga tempo, mengikuti aba-aba, menyamakan langkah dan mempertahankan konsentrasi ketika berada di tengah tekanan perlombaan.
Karena itu, marching band tidak hanya menguji kemampuan memainkan alat musik.
Ia juga menguji seberapa kuat sebuah tim mampu bergerak sebagai satu kesatuan.
Ketua Pelaksana IDMC 3, Muhammad Aldi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan penyelenggaraan tahun ketiga yang digelar Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Kabupaten Indramayu di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Indramayu.
Menurut Aldi, IDMC menjadi salah satu ruang untuk memfasilitasi kegiatan ekstrakurikuler marching band yang berkembang di kalangan pelajar.
“Tujuannya untuk menciptakan sportivitas, mengembangkan serta memfasilitasi dan mewadahi ekstrakurikuler kegiatan marching band,” ujar Aldi.
Bagi peserta, kesempatan tampil seperti ini menjadi bagian penting dari proses belajar. Mereka tidak hanya mengejar nilai dari juri, tetapi juga belajar menerima hasil, menghargai peserta lain dan memperbaiki kekurangan untuk penampilan berikutnya.
Di sinilah nilai sebuah kompetisi tidak selalu bisa dilihat dari siapa yang berdiri sebagai juara.
Ada pengalaman yang dibawa pulang. Ada keberanian yang tumbuh setelah tampil di depan banyak orang. Ada kekompakan yang semakin teruji setelah menjalani latihan bersama.
Dan bagi Indramayu, proses tersebut berpotensi menjadi awal dari perjalanan atlet-atlet muda menuju arena yang lebih tinggi.
Aldi mengatakan, salah satu muara pembinaan PDBI adalah menyiapkan wadah bagi atlet yang nantinya dapat mewakili Kabupaten Indramayu dalam kompetisi olahraga tingkat provinsi.
“Muara akhirnya itu bisa PDBI menjadi sarana wadah untuk atlet nantinya yang akan dikirim ke Porprov mewakili Kabupaten Indramayu,” katanya.
Artinya, arena IDMC bukan hanya tempat untuk menentukan siapa yang tampil paling baik pada hari itu. Arena tersebut juga menjadi salah satu tempat untuk melihat siapa yang memiliki potensi untuk terus berkembang.
Namun, perjalanan menuju level yang lebih tinggi tentu tidak berhenti setelah kompetisi berakhir.
Talenta membutuhkan latihan yang konsisten, pembinaan berkelanjutan, fasilitas yang memadai dan kesempatan untuk kembali tampil. Tanpa itu, bakat yang muncul di satu perlombaan bisa saja berhenti sebagai sebuah penampilan sesaat.
Karena itu, keberlanjutan IDMC menjadi salah satu harapan penyelenggara.
Aldi berharap kejuaraan tersebut dapat terus digelar setiap tahun dengan konsep yang semakin berkembang dan semakin dekat dengan masyarakat.
Salah satu gagasan yang muncul adalah menghadirkan marching band dalam ruang publik melalui kegiatan seperti Car Free Night maupun pawai parade.
“Harapannya ke depan tentu saja bisa diselenggarakan setiap tahunnya. Nanti mungkin ada terobosan-terobosan terbaru, apakah lombanya di acara Car Free Night, pawai parade,” ujarnya.
Gagasan itu sekaligus membuka kemungkinan agar marching band tidak hanya dikenal ketika ada perlombaan. Masyarakat dapat melihat langsung bagaimana para pelajar berlatih, tampil dan menunjukkan kemampuan yang selama ini berkembang di lingkungan sekolah.
Sebab di balik seragam, drum dan barisan yang bergerak serempak, terdapat anak-anak muda yang sedang belajar banyak hal.
Mereka belajar disiplin ketika latihan dimulai. Belajar bertanggung jawab terhadap kelompok. Belajar mengendalikan diri ketika melakukan kesalahan. Dan belajar menerima bahwa sebuah kompetisi tidak selalu berakhir dengan kemenangan.
Dari GOR Dharma Ayu, dentuman drum IDMC 2026 pun meninggalkan makna yang lebih panjang dari sekadar hasil pertandingan.
Di atas panggung itu, talenta muda Indramayu tidak hanya tampil. Mereka sedang ditempa untuk melihat seberapa jauh kemampuan mereka bisa berkembang.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan Wawancara Langsung










Komentar