Min.co.id | Majalengka — Bagi orang tua, sekolah yang layak bukan soal gedung yang tampak baru. Yang lebih penting adalah anak bisa masuk kelas tanpa rasa khawatir, belajar dengan nyaman, menggunakan toilet yang layak, dan pulang dalam keadaan aman.
Itulah yang kini dirasakan sejumlah orang tua setelah sekolah-sekolah di Kabupaten Majalengka mendapat perbaikan melalui program revitalisasi satuan pendidikan. Namun di balik perubahan fisik tersebut, ada harapan yang lebih besar: perbaikan bangunan benar-benar terasa dalam keseharian anak ketika belajar.
Siti (42), warga Banjaran, mengaku lebih tenang melihat kondisi sekolah anaknya setelah mendapat perbaikan. Menurutnya, ruang belajar yang bersih dan fasilitas yang lebih memadai ikut membuat anak lebih nyaman berangkat ke sekolah.
“Sebagai orang tua tentu kami senang. Anak-anak sekarang lebih nyaman ke sekolah. Kalau ruang kelas bagus, bersih dan fasilitasnya memadai, kami juga merasa lebih tenang ketika anak belajar,” ujar Siti.
Hal serupa disampaikan Dedi (45), warga Palasah. Menurut dia, sekolah merupakan tempat yang menghabiskan sebagian besar waktu anak sehingga kondisi bangunan dan fasilitas tidak semestinya dipandang sebagai persoalan tambahan.
“Bagi kami orang tua, sekolah yang aman dan nyaman itu sangat penting. Anak-anak menghabiskan banyak waktu di sekolah. Kalau fasilitasnya baik, tentu kami lebih tenang dan anak juga bisa lebih fokus belajar,” katanya.
Program revitalisasi saat ini mencakup 130 sekolah, mulai dari PAUD, TK, SD hingga SMP. Perbaikan tidak hanya menyasar ruang kelas, tetapi juga toilet, ruang UKS, dan sejumlah fasilitas pendukung lainnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka H. Muhamad Umar Ma’ruf mengatakan perbaikan tersebut diarahkan untuk membuat lingkungan sekolah lebih layak sekaligus menunjang kegiatan belajar mengajar.
“Revitalisasi ini mencakup 130 sekolah. Pekerjaannya tidak hanya ruang kelas, tetapi juga toilet, UKS dan sarana pendukung lainnya. Kita ingin sekolah memiliki lingkungan yang lebih layak sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Bagi siswa, perubahan seperti ruang kelas yang lebih layak atau toilet yang lebih baik mungkin terlihat sederhana. Tetapi fasilitas tersebut digunakan setiap hari dan menjadi bagian dari pengalaman mereka selama berada di sekolah.
Karena itu, tantangannya tidak berhenti ketika pekerjaan pembangunan selesai. Fasilitas yang sudah diperbaiki tetap membutuhkan perawatan agar beberapa tahun ke depan tidak kembali mengalami kerusakan.
Dedi berharap persoalan pemeliharaan ikut menjadi perhatian setelah revitalisasi selesai.
“Setelah diperbaiki, tentunya harus sama-sama dijaga. Sekolah, siswa, guru dan masyarakat harus ikut merawat fasilitas yang sudah dibangun supaya manfaatnya bisa dirasakan dalam waktu yang lama,” katanya.
Di sisi lain, keterbatasan anggaran membuat seluruh kebutuhan sekolah tidak mungkin diselesaikan sekaligus. Pemerintah Kabupaten Majalengka menyatakan terus mengusulkan pembangunan maupun rehabilitasi sekolah kepada pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan APBD untuk memenuhi kebutuhan sarana pendidikan.
“Kalau hanya mengandalkan APBD, tentu tidak semua kebutuhan bisa diselesaikan sekaligus. Karena itu, kita terus mencari sumber dukungan lain, baik dari pemerintah pusat maupun provinsi,” kata Eman.
Menurut Eman, usulan pembangunan dan rehabilitasi disesuaikan dengan kondisi serta tingkat kebutuhan masing-masing sekolah. Pemerintah daerah juga melakukan pendekatan kepada pemerintah pusat dan provinsi agar kebutuhan sekolah yang belum tertangani dapat memperoleh dukungan.
“Target kita bukan hanya membangun gedung yang bagus, tetapi memastikan anak-anak Majalengka belajar di tempat yang aman, sehat dan nyaman,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menempatkan revitalisasi pada persoalan yang lebih luas. Gedung yang diperbaiki memang penting, tetapi kualitas pendidikan tidak berhenti pada dinding, atap, toilet atau ruang UKS.
Setelah bangunan selesai, pekerjaan berikutnya justru berada di ruang kelas: bagaimana fasilitas tersebut benar-benar mendukung guru mengajar, membuat siswa nyaman belajar, dan memberi rasa aman kepada seluruh warga sekolah.
Karena itu, bagi orang tua, ukuran keberhasilan revitalisasi bukan sekadar berapa sekolah yang selesai diperbaiki. Yang akan mereka lihat adalah apakah anak-anak semakin nyaman datang ke sekolah, lebih tenang mengikuti pelajaran, dan fasilitas yang dibangun hari ini tetap layak digunakan beberapa tahun mendatang.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Kominfo Kabupaten Majalengka, Diolah Redaksi








Komentar