Min.co.id |Indramayu – Tak ada panggung megah. Tak ada rangkaian acara panjang. Malam itu, Balai Desa Rancahan, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, hanya dipenuhi lantunan tahlil, doa, dan hidangan sederhana.
Namun dari kesederhanaan itulah suasana kebersamaan justru terasa kuat.
Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, aparatur desa bersama masyarakat berkumpul di Balai Desa Rancahan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Peringatan yang digelar oleh Kuwu Rancahan, Titin, tersebut berlangsung tanpa kemeriahan berlebihan. Warga mengikuti tahlil bersama, kemudian duduk menikmati makanan yang telah disiapkan.
Usai doa, suasana berubah lebih cair.
Warga dan aparatur desa yang sebelumnya khidmat mengikuti tahlil mulai berbincang. Sebagian bercanda, sebagian lainnya menikmati hidangan sambil bertukar cerita.
Tidak ada jarak antara aparatur desa dan masyarakat.
Malam itu, balai desa seolah berubah menjadi ruang keluarga besar.
Bagi Titin, inti peringatan Maulid Nabi bukan terletak pada seberapa meriah acara digelar, melainkan pada nilai yang dibawa setelah kegiatan selesai.
“Kita buat sederhana saja, dengan tahlil dan makan bersama, yang penting kita bisa berkumpul dan memperingati Maulid Nabi,” ujar Titin.
Menurutnya, kegiatan keagamaan juga menjadi ruang untuk menjaga hubungan sosial. Kebersamaan antara aparatur desa dan masyarakat, kata dia, perlu terus dipelihara melalui berbagai kesempatan.
“Semoga kegiatan ini membawa keberkahan dan silaturahmi kita semua tetap terjaga,” katanya.
Di tengah berbagai kegiatan desa yang kerap identik dengan agenda pemerintahan, pertemuan sederhana seperti Maulid Nabi menghadirkan suasana berbeda.
Warga tidak datang untuk membahas program ataupun urusan administrasi.
Mereka datang untuk berdoa, makan bersama dan bersilaturahmi.
Justru dalam ruang yang sederhana itu, interaksi antara pemerintah desa dan masyarakat berlangsung tanpa sekat.
Tidak ada seremoni panjang yang menyita waktu. Setelah tahlil selesai, warga langsung menikmati hidangan bersama.
Kesederhanaan tersebut menjadi pilihan penyelenggara untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Peringatan Maulid Nabi di Desa Rancahan menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan tidak selalu harus dikemas dalam acara besar untuk menghadirkan makna.
Tahlil dan makan bersama menjadi cara sederhana untuk mempertemukan warga dalam suasana yang lebih akrab.
Bagi masyarakat, kesempatan berkumpul seperti itu memiliki arti tersendiri. Sebab, di tengah kesibukan masing-masing, ruang untuk duduk bersama dan berbincang tidak selalu mudah ditemukan.
Malam di Balai Desa Rancahan akhirnya tidak ditutup dengan kemeriahan.
Ia selesai dengan doa, hidangan sederhana, dan percakapan warga.
Tetapi justru dari kesederhanaan itu terselip pesan bahwa merawat kebersamaan tidak selalu membutuhkan biaya besar atau acara yang spektakuler.
Kadang, cukup duduk bersama, berdoa bersama, lalu makan dari hidangan yang sama.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara dengan Kuwu Rancahan, Titin








Komentar