Bukan Sekadar Cepat Dapat Kerja, Lulusan Vokasi Harus Punya Karakter dan Mampu Beradaptasi

Min.co.id | Jakarta – Dunia kerja berubah lebih cepat daripada kurikulum yang tidak pernah diperbarui. Teknologi berkembang, kebutuhan industri bergeser, sementara perusahaan semakin membutuhkan tenaga kerja yang bukan hanya bisa mengerjakan tugas, tetapi juga mampu belajar dan beradaptasi.

Di tengah perubahan tersebut, pendidikan vokasi dituntut tidak berhenti pada mencetak lulusan terampil. Kompetensi, karakter, kemampuan mengikuti perkembangan teknologi hingga manfaat lulusan bagi masyarakat menjadi bagian dari tantangan yang harus dijawab lembaga pendidikan vokasi.

Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Cris Kuntadi menyampaikan pandangan tersebut saat memberikan orasi ilmiah bertajuk “Nava Karya Dalam Nusa Diri: Transformasi SDM Vokasi Menuju Ketenagakerjaan Berkelanjutan” pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-9 Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Cris menyebut sedikitnya ada lima aspek yang perlu diperhatikan dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Kelimanya adalah kompetensi dan karakter, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, infrastruktur pembelajaran, tata kelola institusi, serta manfaat lulusan bagi dunia kerja dan masyarakat.

“Kita tidak cukup hanya mencetak lulusan yang terampil. Kita harus membentuk manusia yang memiliki integritas, disiplin, kompetensi, serta etos kerja yang kuat,” ujar Cris.

Cris menggunakan perumpamaan pohon untuk menjelaskan bagaimana pendidikan vokasi seharusnya dibangun.

Menurut dia, pohon yang kokoh tidak hanya bergantung pada batang dan ranting. Ada akar yang bekerja di bawah permukaan dan menjadi penopang utama agar pohon mampu bertahan.

Dalam pendidikan vokasi, akar tersebut dianalogikan sebagai kompetensi dan karakter.

Peserta didik tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis sesuai bidangnya. Mereka juga perlu memiliki integritas, tanggung jawab, disiplin, dan etika kerja yang menjadi bekal ketika memasuki lingkungan profesional.

Namun, fondasi tersebut harus dibarengi kemampuan untuk terus tumbuh.

Perubahan teknologi membuat keterampilan yang relevan hari ini belum tentu tetap relevan beberapa tahun mendatang. Karena itu, lulusan vokasi dituntut memiliki kemauan untuk terus belajar.

“Teknologi terus berubah. Oleh karena itu, lulusan vokasi harus memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat,” tutur Cris.

Kemampuan tersebut membutuhkan dukungan lingkungan belajar yang memadai. Infrastruktur pendidikan, baik berupa fasilitas fisik maupun teknologi digital, menjadi salah satu unsur yang menentukan kualitas proses pembelajaran.

Akses terhadap fasilitas pembelajaran yang baik juga diperlukan agar peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi dapat berlatih menggunakan teknologi dan peralatan yang mendekati kondisi dunia kerja sebenarnya.

Di luar ruang kelas dan laboratorium, kualitas lembaga pendidikan juga dipengaruhi bagaimana institusi tersebut dikelola.

Cris menempatkan tata kelola sebagai salah satu dari lima aspek penting pendidikan vokasi. Menurutnya, sumber daya pendidikan harus dikelola secara efektif dan bertanggung jawab dengan mengedepankan transparansi serta akuntabilitas.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan vokasi tidak semestinya hanya dihitung dari jumlah mahasiswa yang lulus.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dilakukan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan dan seberapa besar keberadaan mereka memberikan manfaat bagi dunia kerja maupun masyarakat.

“Ukuran keberhasilan pendidikan vokasi pada akhirnya bukan hanya berapa banyak lulusan, tetapi seberapa besar manfaat yang mereka berikan,” kata Cris.

Pandangan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi lembaga pendidikan vokasi untuk terus menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja tanpa mengabaikan pembentukan karakter.

Dalam momentum Dies Natalis ke-9, Cris berharap Polteknaker terus memperkuat kualitas pendidikan dan melahirkan lulusan yang mampu menghadapi perubahan ketenagakerjaan.

“Saya berharap Polteknaker dapat melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi, karakter, dan daya saing tinggi sehingga mampu berkontribusi dalam transformasi ketenagakerjaan Indonesia,” pungkasnya.

Sebab, di tengah dunia kerja yang terus bergerak, lulusan yang hanya mengandalkan keterampilan yang dimiliki hari ini berisiko tertinggal. Sebaliknya, mereka yang memiliki fondasi karakter kuat dan kemauan untuk terus belajar memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan.

Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Biro Humas Kemnaker,diolah redaksi

Komentar

News Feed