Bukan Sekadar Gapura, Gada-Gada KKN-T Jadi “Sapaan” bagi Mereka yang Masuk Pancaksuji

Min.co.id |  Majalengka – Bagi orang yang sudah mengenal Desa Pancaksuji, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, menemukan jalan masuk ke desa mungkin bukan perkara sulit. Namun bagi pendatang, satu persoalan sederhana bisa muncul  dari mana sebenarnya pintu masuk menuju desa?

Pertanyaan itulah yang sempat dialami mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Majalengka ketika pertama kali diterjunkan ke Desa Pancaksuji. Belum adanya penanda wilayah membuat mereka harus lebih dulu mencari dan memastikan akses menuju lokasi posko.

Pengalaman tersebut kemudian melahirkan sebuah gagasan sederhana. Mahasiswa KKN-T membuat Gada-Gada, sebuah penanda wilayah yang dipasang di titik perbatasan antara Desa Bongas dan jalan masuk menuju Desa Pancaksuji.

Bagi mahasiswa, benda itu bukan sekadar penunjuk arah. Mereka mencoba menjadikannya sebagai bagian dari wajah desa—sebuah tanda yang memberi tahu orang bahwa perjalanan mereka telah sampai di wilayah Pancaksuji.

Ketua KKN-T Desa Pancaksuji, Rusmar Dian Wahyudi, mengatakan ide tersebut muncul setelah mahasiswa melihat langsung kondisi di lapangan.

“Pada awal penerjunan, kami sendiri sempat mengalami kebingungan untuk menentukan arah menuju posko karena belum adanya plang penunjuk. Dari kondisi tersebut kemudian muncul gagasan untuk membuat Gada-Gada sebagai penanda wilayah Desa Pancaksuji,” ujar Rusmar.

Gagasan itu kemudian diwujudkan bersama anggota kelompok KKN-T dengan dukungan Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Nita Hernita, S.E., M.M.

Tidak ada proses instan dalam pembuatannya. Mahasiswa terlebih dahulu merancang bentuk, menyiapkan bahan seperti bambu, nampan rotan dan cat, kemudian merakit hingga melakukan pengecatan.

Setiap tahap dikerjakan secara gotong royong oleh anggota kelompok. Dari tangan mahasiswa, bahan-bahan sederhana tersebut kemudian berubah menjadi sebuah penanda yang memiliki fungsi praktis sekaligus membawa sentuhan identitas lokal.

Setelah selesai, Gada-Gada dipasang di titik yang dianggap strategis, yakni perbatasan antara Desa Bongas dan akses masuk menuju Desa Pancaksuji.

Kini, orang yang melintas menuju desa memiliki petunjuk yang lebih mudah dikenali. Kehadiran penanda tersebut setidaknya menjawab persoalan yang sebelumnya dialami mahasiswa sendiri: bagaimana mengenali pintu masuk menuju Pancaksuji.

Rusmar berharap keberadaan Gada-Gada tidak berhenti sebagai hasil kegiatan KKN yang kemudian ditinggalkan setelah mahasiswa kembali ke kampus.

“Harapannya, Gada-Gada ini tidak hanya menjadi penanda wilayah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas Desa Pancaksuji. Kami ingin meninggalkan sesuatu yang sederhana, tetapi bisa terus dimanfaatkan oleh masyarakat,” katanya.

Meski demikian, mahasiswa menyadari satu penanda tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan terkait akses dan identitas wilayah. Menurut Rusmar, masih diperlukan pembenahan lain, termasuk infrastruktur jalan, penerangan, serta pemeliharaan fasilitas secara berkelanjutan.

“Ini merupakan langkah awal. Ke depan tentu masih diperlukan berbagai upaya lain agar akses dan identitas wilayah Desa Pancaksuji semakin baik,” tuturnya.

Di situlah cerita Gada-Gada menjadi menarik. Sebuah benda yang dibuat dari bahan sederhana justru lahir dari pengalaman sehari-hari dan kebutuhan yang benar-benar ditemui di lapangan.

Bagi mahasiswa, KKN bukan hanya tentang datang ke desa, menjalankan program, lalu pulang membawa laporan. Ada persoalan kecil yang kadang luput dari perhatian, tetapi ternyata cukup berarti bagi warga dan orang yang datang dari luar.

Gada-Gada menjadi salah satu bentuk jawaban atas persoalan tersebut.

Ketika mahasiswa nantinya meninggalkan Pancaksuji dan kembali menjalani aktivitas di kampus, penanda itu tetap berdiri di tepi jalan. Ia menjadi semacam jejak kecil dari masa pengabdian mereka sebuah pesan sederhana bahwa pernah ada sekelompok mahasiswa yang mencoba melihat desa bukan hanya dari apa yang sudah tersedia, tetapi juga dari apa yang masih dibutuhkan.

Dan bagi setiap orang yang melintas setelahnya, Gada-Gada itu mungkin hanya sebuah penanda.

Namun bagi Desa Pancaksuji dan mahasiswa yang membuatnya, ia adalah sapaan pertama bagi siapa pun yang datang.

Penulis: Taufik Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Keterangan Ketua KKN-T Desa Pancaksuji, Rusmar Dian Wahyudi

Komentar

News Feed