Min.co.id | Indramayu – Suara gamelan mengalun dari halaman Kantor Pemerintah Desa Bongas, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, Selasa (18/8/2026). Warga berdatangan untuk menyaksikan pertunjukan seni. Namun, kali ini panggung yang mereka datangi tidak sekadar menawarkan hiburan.
Di balik dialog dan adegan para pemain sandiwara, terselip pesan tentang kemanusiaan: ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap keselamatan anak dan remaja serta mengenali bahaya perdagangan orang.
Pertunjukan Seni Sandiwara Anti Perdagangan Anak dan Remaja Indonesia (Senandi) tersebut digelar Yayasan Kusuma Bongas bersama Pemerintah Desa Bongas sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kesenian tradisional menjadi medium untuk menyampaikan pesan yang serius. Warga diajak menikmati cerita sekaligus menyimak kampanye moral tentang pentingnya melindungi anak dan remaja dari praktik perdagangan orang.
Bagi masyarakat Desa Bongas, cara seperti ini membuat pesan sosial terasa lebih dekat. Warga tidak hanya datang untuk mendengar penyuluhan, tetapi juga menikmati seni yang sudah akrab dengan kehidupan masyarakat.
Lurah Desa Bongas, Laci Suherman, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang dengan membawa nilai kemanusiaan di tengah rangkaian perayaan kemerdekaan.
“Ini kegiatan, intinya kegiatan kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Yayasan Kusuma Bongas yang bekerja sama dengan kita sebagai Pemerintah Desa,” ujar Laci.
Menurut Laci, rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di Desa Bongas telah berlangsung sejak 13 Agustus hingga 18 Agustus 2026. Sejumlah kegiatan melibatkan masyarakat, tokoh agama, pemuda, yayasan, hingga pihak terkait lainnya.
Rangkaian acara diawali dengan Tabligh Akbar pada 13 Agustus yang menghadirkan Umi Laila melalui kerja sama dengan Kantor Hukum Tirtayasa.
Sehari menjelang peringatan kemerdekaan, tepatnya 16 Agustus, warga kembali berkumpul dalam kegiatan karnaval yang dimeriahkan pentas seni Singa Depok Andi Putra 1.
Kemudian pada 17 Agustus pagi, jalan santai digelar dan diwarnai kegiatan sosial berupa pemberangkatan umrah dengan kuota 36 paket bagi masyarakat Desa Bongas.
Sementara pada 18 Agustus, panggung hiburan bergeser pada seni sandiwara. Kali ini, hiburan memiliki tujuan lain: menyampaikan sosialisasi mengenai bahaya perdagangan orang.
Laci menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang ikut memberikan dukungan sehingga rangkaian kegiatan dapat berjalan.
“Alhamdulillah, dengan kedermawanan mereka itu, seluruh rangkaian kegiatan di Desa Bongas dapat berjalan dengan lancar dan sukses,” katanya.
Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, Kuwu Desa Bongas, Kadir, mengingatkan bahwa perayaan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan.
Menurutnya, setiap 17 Agustus merupakan kesempatan untuk kembali mengingat sejarah panjang bangsa dan pengorbanan para pendahulu dalam merebut kemerdekaan.
“Kegiatan ini seyogyanya agar kita tidak lupa, bahwa kemerdekaan itu diperoleh tidak mudah, ada pengorbanan jiwa dan raga,” ungkap Kadir.
Generasi sekarang, kata dia, memang tidak mengalami langsung perjuangan merebut kemerdekaan. Namun, warisan tersebut memiliki konsekuensi berupa tanggung jawab untuk mengisinya melalui pekerjaan dan kontribusi yang bermanfaat.
“Sebagai generasi yang sekarang, tidak berjuang merebut kemerdekaan, warisan kemerdekaan itu harus kita manfaatkan dan kita isi dengan bekerja, ya, memberikan kontribusi bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” katanya.
Pesan tersebut menemukan bentuknya dalam panggung Senandi. Jika para pejuang dahulu mempertaruhkan tenaga dan nyawa untuk sebuah kemerdekaan, generasi hari ini menghadapi bentuk perjuangan yang berbeda: menjaga lingkungan sosial agar tetap aman dan melindungi kelompok yang rentan.
Anak-anak dan remaja menjadi bagian penting dalam pesan tersebut. Perdagangan orang bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga ancaman yang dapat merampas masa depan korban.
Karena itu, menghadirkan kampanye anti-perdagangan orang melalui seni menjadi cara lain untuk mengajak masyarakat lebih peka. Pesan disampaikan di tengah suasana perayaan, ketika warga berkumpul dan perhatian publik sedang tertuju pada berbagai kegiatan kemerdekaan.
Bagi Desa Bongas, kemerdekaan akhirnya memiliki banyak wajah. Ada karnaval, jalan santai, hiburan rakyat, kegiatan sosial, dan malam pesta kemerdekaan yang direncanakan menjadi penutup rangkaian kegiatan.
Namun ada pula pesan yang tidak boleh hilang setelah panggung dibongkar: bahwa kemerdekaan juga berarti memastikan anak-anak dan remaja dapat tumbuh tanpa ancaman perdagangan manusia.
Ketika suara gamelan berhenti dan warga kembali ke rumah masing-masing, cerita dari panggung sandiwara itu diharapkan tidak ikut berakhir.
Sebab, sebuah pertunjukan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi kesadaran untuk menjaga anak dan sesama dapat menjadi pesan yang jauh lebih panjang umurnya.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Peliputan dan wawancara langsung










Komentar