Min.co.id | Indramayu – Musik mulai terdengar, sejumlah warga berkumpul, lalu gerakan tangan dan kaki mengikuti irama. Tidak ada ruang khusus ataupun perlengkapan olahraga yang mewah. Di lingkungan warga Desa Rancamulya Blok Desa, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, aktivitas sederhana itu justru menjadi ruang bagi para lansia untuk tetap bergerak dan bersosialisasi.
Di tengah kegiatan tersebut, ada Roaniah yang berdiri di depan peserta. Sejak 2016, perempuan asal Desa Rancamulya itu aktif mengajarkan senam kepada masyarakat. Jauh sebelumnya, ia sudah lebih dulu mengenal senam sebagai hobi sejak 2011.
Perjalanan Roaniah menjadi instruktur tidak berlangsung secara instan. Ia mengawalinya dengan rutin mengikuti berbagai kegiatan senam. Dari pengalaman tersebut, ketertarikannya berkembang hingga akhirnya ia mulai belajar mengajarkan gerakan kepada orang lain.
Pengalamannya sebagai instruktur bahkan sempat membawanya mengajar senam di Jakarta. Setelah kembali ke Indramayu, kegiatan tersebut dilanjutkan di lingkungan tempat tinggalnya.
Kini, Roaniah mengajak warga bergabung dalam kelompok senam yang diberi nama Lansia Gaul.
Nama kelompok itu sengaja dibuat santai. Sebab, menurut Roaniah, kegiatan olahraga tidak harus berlangsung dengan suasana kaku. Para peserta bisa berolahraga sekaligus bercengkerama dan menikmati waktu bersama warga lainnya.
Tak Punya Sanggar, Manfaatkan Ruang yang Ada
Kegiatan Lansia Gaul biasanya digelar di lingkungan permukiman warga. Tidak adanya sanggar khusus tidak menjadi hambatan. Ruang yang tersedia dimanfaatkan sebagai tempat berolahraga bersama.
Jenis latihan yang diberikan pun disesuaikan dengan kemampuan peserta. Selain aerobik, Roaniah mengajarkan body language (BL) dan senam kreasi.
Penyesuaian gerakan menjadi penting karena sebagian peserta merupakan warga lanjut usia. Intensitas latihan tidak dipaksakan, sehingga peserta dapat mengikuti sesuai kemampuan fisiknya.
“Dari tahun 2011 saya sudah ikut senam, kemudian mulai mengajar tahun 2016. Sampai sekarang masih senang mengajar karena bisa ikut olahraga sekaligus mengajak warga supaya tetap aktif,” ujar Roaniah.
Bagi Roaniah, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas olahraga. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat warga yang sebelumnya jarang berolahraga mulai bersedia ikut bergerak.
Aktivitas bersama itu juga membuka ruang interaksi antartetangga. Setelah berolahraga, warga dapat berbincang dan bersosialisasi dalam suasana yang lebih santai.
Tidak Ada Tarif, yang Penting Warga Mau Bergerak
Hal lain yang membuat kegiatan tersebut berbeda adalah soal biaya. Roaniah tidak menetapkan tarif khusus bagi warga yang mengikuti senam.
Jika ada peserta yang memberikan uang, pemberian tersebut bersifat sukarela dan tidak ditentukan besarannya.
“Saya tidak mematok biaya. Seikhlasnya saja. Yang penting warga mau ikut senam, badan tetap bergerak dan kita bisa sama-sama menjaga kesehatan,” katanya.
Bagi Roaniah, ukuran keberhasilan kegiatan bukan pada berapa banyak uang yang terkumpul, melainkan seberapa banyak warga yang mau meluangkan waktu untuk bergerak.
Ia berharap kelompok Lansia Gaul dapat terus berjalan dan semakin banyak warga yang bergabung. Menurutnya, bertambahnya usia tidak semestinya membuat seseorang berhenti melakukan aktivitas fisik yang sesuai dengan kemampuannya.
Dari sebuah hobi yang dimulai 15 tahun lalu, Roaniah kini menemukan cara sederhana untuk berbagi dengan lingkungan. Senam yang awalnya menjadi aktivitas pribadi berubah menjadi kegiatan bersama—mengajak warga bergerak, bertemu, tertawa, sekaligus menjaga kebugaran.
Di tengah kesibukan sehari-hari, mungkin itulah yang membuat kegiatan Lansia Gaul tetap bertahan: bukan karena tempatnya istimewa, melainkan karena ada kemauan untuk berkumpul dan bergerak bersama.
Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara dengan Roaniah, instruktur senam Desa Rancamulya, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu






Komentar