Min.co.id | Indramayu – Di sebuah rumah sederhana di Blok Sarban RT 09 RW 03, Desa Puntang, Kecamatan Losarang, deretan sepeda motor bekas tersusun rapi menunggu pemilik baru. Di balik kendaraan-kendaraan itu, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan perjuangan mempertahankan usaha di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Bagi Saheri (60), usaha jual-beli sepeda motor bekas bukan sekadar mata pencaharian. Selama lebih dari dua puluh tahun, bisnis tersebut menjadi tumpuan hidup sekaligus bukti bahwa bertahan sering kali menjadi pilihan terbaik ketika situasi ekonomi tidak selalu berpihak kepada pelaku usaha.
Saat ditemui Wartawan Min.co.id di lokasi usahanya, Kamis (6/8/2026), Saheri mengenang perjalanan bisnis yang dimulainya sejak tahun 2000. Kala itu, ia bersama seorang rekan membuka showroom sepeda motor merek Tossa yang cukup diminati masyarakat karena banyak dimanfaatkan sebagai kendaraan niaga.
Namun, perubahan kebutuhan pasar membuatnya mengambil langkah baru. Sekitar tahun 2006, ia memutuskan beralih ke bisnis jual-beli sepeda motor bekas. Keputusan tersebut diambil setelah melihat semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan kendaraan dengan harga yang lebih terjangkau.
“Dulu kami menjual motor baru. Setelah melihat kondisi pasar berubah, akhirnya saya fokus ke motor bekas. Sampai sekarang usaha ini masih saya jalankan,” tutur Saheri.
Sebagai daerah yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian, menurut Saheri, roda usahanya sangat dipengaruhi musim panen. Saat hasil panen melimpah, transaksi biasanya meningkat karena banyak warga memanfaatkan pendapatan mereka untuk membeli atau mengganti kendaraan.
“Kalau musim panen selesai, biasanya pembeli mulai ramai. Banyak petani membeli motor untuk kebutuhan bekerja atau mengganti kendaraan lama,” katanya.
Sebaliknya, ketika musim panen berlalu atau kondisi ekonomi sedang melemah, aktivitas jual-beli ikut melambat. Meski demikian, Saheri memilih tetap membuka usahanya setiap hari.
Baginya, mempertahankan kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar keuntungan sesaat. Prinsip itulah yang membuatnya bertahan melewati berbagai dinamika usaha selama puluhan tahun.
Sebelum dipasarkan, setiap sepeda motor yang masuk ke bengkelnya lebih dulu diperiksa secara menyeluruh. Tidak sedikit kendaraan yang datang dalam kondisi kurang layak sehingga memerlukan perbaikan pada bagian mesin, bodi, maupun komponen lainnya.
“Kalau ada yang rusak, kami perbaiki dulu. Kalau memang harus diganti, ya diganti supaya saat sampai ke tangan pembeli kondisinya benar-benar siap dipakai,” ujarnya.
Menurutnya, kepuasan pelanggan menjadi investasi jangka panjang yang tidak bisa diukur hanya dari nilai transaksi. Pelayanan yang baik dan kondisi kendaraan yang layak diharapkan membuat pembeli merasa aman dan kembali mempercayakan kebutuhannya di kemudian hari.
Di tengah perlambatan ekonomi yang masih dirasakan berbagai sektor usaha, kisah Saheri menjadi gambaran bagaimana pelaku usaha kecil terus beradaptasi agar tetap bertahan. Tidak ada strategi yang rumit. Ia hanya menjalankan usahanya dengan konsisten, menjaga kualitas barang, serta mempertahankan kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Bagi Saheri, setiap sepeda motor yang berhasil terjual bukan sekadar perpindahan kepemilikan sebuah kendaraan. Lebih dari itu, motor tersebut menjadi sarana bagi pembelinya untuk bekerja, mengantar hasil panen, menjalankan usaha, atau memenuhi kebutuhan keluarga.
Selama masih ada orang yang membutuhkan kendaraan dan masih ada kesempatan untuk bekerja dengan jujur, ia percaya usahanya akan terus memiliki harapan untuk bertahan.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Hasil liputan dan wawancara langsung dengan Saheri di Desa Puntang, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.










Komentar