Debit Irigasi Menyusut, Petani Indramayu Minta Kepastian Air Musim Tanam

Min.co.id | Indramayu – Kekhawatiran akan terbatasnya pasokan air pada musim tanam (MT) kedua tahun 2026 mendorong perwakilan petani dari lima kecamatan di wilayah barat Kabupaten Indramayu menggelar audiensi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Pertemuan berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Kandanghaur, Senin (27/7/2026).

Audiensi tersebut dihadiri perwakilan petani dari Kecamatan Sukra, Patrol, Bongas, Anjatan, dan Kandanghaur. Turut hadir para camat, sejumlah kuwu, Anggota DPR RI Komisi V Daniel Mutaqien Syafiuddin, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Taufik Hidayat, serta jajaran DKPP Kabupaten Indramayu dan BBWS Citarum.

Dalam pertemuan itu, para petani menyampaikan keresahan atas menurunnya debit air irigasi yang dinilai dapat mengganggu musim tanam kedua. Mereka meminta kepastian mengenai ketersediaan air agar dapat menentukan langkah yang tepat dalam mengelola lahan pertanian.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Kepala BBWS Citarum, Abdul Goni Majdi, menjelaskan bahwa kebutuhan irigasi wilayah barat Indramayu dipasok melalui Bendung Salamdarma yang bersumber dari Sungai Cipunegara serta mendapat suplai tambahan dari Saluran Induk Tarum Timur.

Menurutnya, kondisi pasokan air saat ini memang sedang terbatas karena kebutuhan di sepanjang Saluran Tarum Timur, mulai dari Kabupaten Karawang hingga Subang, sedang berada pada tingkat yang tinggi.

“Kebutuhan di sepanjang Tarum Timur, dari Kabupaten Karawang hingga Subang, saat ini memang sedang maksimal sehingga pasokan yang sampai ke Salamdarma relatif terbatas,” ujar Abdul Goni.

Ia menjelaskan, debit air yang tersedia saat ini berada di kisaran 26 meter kubik per detik (m³/detik). Untuk membantu memenuhi kebutuhan irigasi, BBWS juga menambah suplai dari Bendungan Sadawarna sekitar 3 m³/detik.

Namun berdasarkan laporan di lapangan, debit air yang diterima pada pagi hari hanya sekitar 14 m³/detik.

“Ini menjadi pertanyaan bagi kami. Informasinya memang ada pengambilan air melalui pompa di sepanjang aliran, tetapi apakah jumlahnya sebesar itu masih perlu kami telusuri. Kami akan melakukan pengecekan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab berkurangnya debit air tersebut,” jelasnya.

Pernyataan itu mendapat tanggapan dari salah seorang perwakilan petani. Ia berharap pemerintah memberikan kepastian mengenai kemampuan penyediaan air selama musim tanam agar petani tidak mengalami kerugian.

“Kalau memang kondisi air tidak memungkinkan untuk musim tanam, kami berharap ada kepastian. Dengan begitu kami bisa menyampaikan kepada para petani agar tidak memaksakan tanam padi yang justru berisiko merugi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala DKPP Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto, menjelaskan bahwa luas lahan pertanian di wilayah barat Indramayu mencapai sekitar 24.000 hektare yang memperoleh pasokan air melalui Saluran Kandanghaur, Eretan, Anjatan, dan Sukra yang bersumber dari Bendung Salamdarma.

Menurut Sugeng, kondisi debit air saat ini memang berada di bawah kondisi normal.

“Debit yang kami pantau saat ini sekitar 14 meter kubik per detik untuk memenuhi kebutuhan sekitar 35 ribu hektare lahan, yang meliputi sekitar 11 ribu hektare di wilayah Compreng, Kabupaten Subang, dan sekitar 24 ribu hektare di Kabupaten Indramayu. Kondisi ini tentu belum mencukupi,” katanya.

Ia menegaskan DKPP bersama BBWS Citarum akan terus berkoordinasi untuk mengoptimalkan suplai tambahan dari Bendungan Sadawarna sekaligus menelusuri penyebab menurunnya debit air di sepanjang saluran irigasi.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi V Daniel Mutaqien Syafiuddin meminta seluruh pihak mengedepankan sinergi dalam menyelesaikan persoalan tersebut tanpa saling menyalahkan.

“Saya menghimbau seluruh pihak agar segera mencari solusi terbaik sesuai harapan petani. Jangan saling menyalahkan, tetapi bangun sinergi agar persoalan ini bisa diselesaikan bersama,” tegas Daniel.

Audiensi tersebut menghasilkan komitmen bersama antara DKPP Kabupaten Indramayu dan BBWS Citarum untuk memperkuat koordinasi, melakukan penelusuran terhadap penyebab menurunnya debit air, serta mengoptimalkan langkah-langkah teknis guna memenuhi kebutuhan irigasi pada musim tanam kedua.

Bagi ribuan petani di wilayah barat Indramayu, kepastian pasokan air bukan sekadar persoalan teknis pengairan. Air menjadi penentu keberhasilan musim tanam sekaligus sumber penghidupan ribuan keluarga yang menggantungkan harapan pada hasil panen. Karena itu, para petani berharap solusi yang dibahas dalam audiensi segera diwujudkan agar musim tanam dapat berjalan optimal dan produktivitas pertanian tetap terjaga.

Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Hasil audiensi petani dengan DKPP Kabupaten Indramayu dan BBWS Citarum, serta wawancara langsung dengan narasumber.

Komentar

News Feed