Min.co.id | Indramayu – Sejak pagi, suara tawa dan semangat gotong royong terdengar di hamparan sawah Blok Jalan AMD 1, Desa Pegagan, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Kamis (23/7/2026).
Puluhan petani bersama unsur pemerintah turun langsung ke areal persawahan untuk melakukan gropyok hama tikus, menyusul meningkatnya serangan hama yang mengancam tanaman padi musim tanam kedua (cadon).
Kegiatan tersebut melibatkan Camat Losarang, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Losarang, Pemerintah Desa Pegagan, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Mulya, serta para petani setempat. Mereka menyisir pematang sawah dan memburu sarang tikus menggunakan alat pengasapan (fumigator) sebagai upaya menekan populasi hama.
Ketua Gapoktan Sumber Mulya, Karsa, mengatakan serangan tikus pada musim tanam kali ini tergolong cukup parah. Bahkan, sejumlah petani terpaksa menyemai benih hingga dua sampai tiga kali karena tanaman padi muda terus dirusak tikus.
“Keluhan petani hampir sama. Begitu padi mulai tumbuh, tikus langsung menyerang. Ada yang sampai mengulang penyemaian beberapa kali karena tanaman habis dirusak,” ujar Karsa.
Menurutnya, kegiatan gropyok tikus secara serentak menjadi salah satu cara yang dinilai efektif untuk menekan populasi hama sebelum kerusakan semakin meluas. Ia berharap langkah bersama tersebut mampu menyelamatkan tanaman padi hingga masa panen.
Kuwu Desa Pegagan, Sopyan, menjelaskan kegiatan itu digelar sebagai bentuk respons pemerintah desa terhadap keresahan para petani yang dalam beberapa pekan terakhir mengeluhkan meningkatnya serangan tikus.
“Kami memfasilitasi dan mengoordinasikan kegiatan ini karena banyak petani yang mengadu tanamannya rusak. Harapannya, populasi tikus bisa ditekan sehingga hasil panen musim ini tetap maksimal,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPP Kecamatan Losarang Hendri Dwi Prabowo melalui Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), Ali Mahfudin, menerangkan pengendalian dilakukan dengan metode fumigasi atau pengasapan menggunakan belerang yang ditiupkan ke dalam lubang-lubang sarang tikus.
Menurut Ali, metode tersebut lebih aman dibandingkan pemasangan kabel beraliran listrik yang kerap digunakan sebagian petani karena tidak membahayakan manusia maupun lingkungan sekitar.
“Alat emposan atau fumigator yang digunakan merupakan bantuan dari Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Jawa Barat. Cara ini cukup efektif untuk menekan populasi tikus di dalam sarangnya,” jelasnya.
Di sela kegiatan, Camat Losarang Encep Ria Setiadi menegaskan bahwa tikus tidak mungkin diberantas hingga benar-benar habis. Yang dapat dilakukan adalah mengendalikan populasinya agar tidak berkembang secara masif.
Ia juga mengajak petani mulai memanfaatkan musuh alami tikus, terutama burung hantu, sebagai solusi jangka panjang yang lebih ramah lingkungan.
“Kita tidak bisa memusnahkan tikus sepenuhnya, tetapi populasinya bisa dikendalikan. Ke depan saya berharap di setiap blok persawahan tersedia satu atau dua rumah burung hantu sebagai tempat berkembang biak predator alami tikus,” ujarnya.
Encep menambahkan, keberhasilan pengendalian hama sangat bergantung pada kekompakan seluruh petani. Menurutnya, gropyok tikus akan lebih efektif jika dilakukan secara serentak di seluruh wilayah pertanian, sehingga tikus tidak berpindah ke lahan lain.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, penyuluh pertanian, dan petani terus terjaga agar produktivitas pertanian meningkat sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
Penulis: Wiwin Hidayat
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara Langsung Camat Losarang,Kuwu Pegagan dan POPT










Komentar