Merajut Asa ke Korea, Haji Wandi Dampingi Generasi Muda Indramayu Menempuh Jalur Resmi Pekerja Migran

Min.co.id | Indramayu – Di sebuah rumah sederhana di Blok Sukamelang, Desa Karangmulya, Kecamatan Kandanghaur, harapan puluhan anak muda untuk mengubah masa depan terus tumbuh setiap hari.

Mereka datang membawa mimpi yang sama, bekerja di Korea melalui jalur resmi dengan bekal keterampilan, disiplin, dan kemampuan bahasa yang terus diasah.

Suasana itulah yang terlihat saat wartawan berbincang dengan Haji Wandi, Minggu (20/7/2026).

Baginya, setiap calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berhasil berangkat bukan sekadar memperoleh pekerjaan, tetapi juga membawa harapan baru bagi keluarganya.

Menurut Haji Wandi, masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru mengenai proses penempatan PMI ke Korea. Salah satunya anggapan bahwa kelulusan peserta sepenuhnya ditentukan oleh Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).

Padahal, jelasnya, lembaga pelatihan hanya bertugas mempersiapkan peserta melalui pembelajaran bahasa, pembentukan karakter, pembinaan kedisiplinan, serta pendampingan administrasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara keputusan diterima atau tidaknya calon pekerja merupakan kewenangan perusahaan atau pengguna tenaga kerja di Korea setelah melalui proses seleksi.

“Kami hanya mempersiapkan peserta sesuai prosedur yang berlaku. Keputusan diterima atau tidak merupakan kewenangan perusahaan atau pihak pengguna tenaga kerja di Korea setelah melalui proses seleksi,” ujar Haji Wandi.

Saat ini, sekitar 30 peserta tengah mengikuti pelatihan secara rutin. Selama enam hari dalam sepekan, mulai Senin hingga Sabtu pukul 08.00–15.00 WIB, mereka mempelajari bahasa Korea, budaya kerja, etika profesi, kedisiplinan, hingga kesiapan mental sebelum memasuki dunia kerja.

Menurut Haji Wandi, kemampuan berbahasa hanyalah salah satu syarat. Yang tidak kalah penting adalah sikap disiplin, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, serta kemauan belajar yang tinggi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar selalu mengikuti mekanisme penempatan PMI melalui jalur resmi pemerintah serta memilih lembaga pelatihan maupun perusahaan penempatan yang memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan perlindungan kepada calon pekerja migran sejak proses pelatihan hingga penempatan di luar negeri.

Selain itu, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya ataupun pihak-pihak yang menjanjikan keberangkatan secara instan tanpa prosedur resmi.

“Kalau peserta sudah lolos seleksi tetapi belum berangkat, bukan berarti ada masalah. Jadwal keberangkatan biasanya menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dari perusahaan di korea. Karena itu peserta harus bersabar menunggu prosesnya,” katanya.

Mengenai biaya, Haji Wandi menjelaskan bahwa peserta di lembaga yang dikelolanya dikenakan biaya administrasi operasional sebesar Rp3.700.000 sesuai ketentuan yang berlaku di lembaga tersebut. Apabila peserta belum berhasil lolos seleksi, mereka tetap diperbolehkan mengikuti pembinaan dan pelatihan kembali tanpa dikenakan biaya pelatihan tambahan hingga siap mengikuti seleksi berikutnya.

“Kalau belum berhasil lolos, mereka tetap bisa belajar lagi sampai siap mengikuti seleksi berikutnya.

Kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak yang benar-benar memiliki tekad bekerja di korea untuk terus meningkatkan kemampuannya,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan mengenai pembiayaan maupun mekanisme pelatihan dapat berbeda di setiap lembaga pelatihan sesuai ketentuan masing-masing.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) bersama instansi terkait terus mengimbau masyarakat agar menggunakan jalur penempatan resmi, memverifikasi informasi melalui kanal pemerintah, serta menghindari penggunaan jasa calo atau pihak yang menawarkan keberangkatan tanpa prosedur yang sah. Upaya tersebut dilakukan untuk memberikan perlindungan maksimal kepada calon pekerja migran sekaligus mencegah terjadinya penempatan secara nonprosedural.

Bagi Haji Wandi, keberhasilan seorang peserta bekerja di Korea merupakan kebahagiaan tersendiri karena membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan keluarga dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.

“Kesempatan bekerja di korea terbuka bagi siapa saja yang mau belajar, disiplin, mengikuti seluruh prosedur yang berlaku, dan tidak mudah tergiur janji-janji yang tidak jelas.

Dengan persiapan yang baik, saya berharap semakin banyak generasi muda Indramayu yang mampu meraih masa depan yang lebih baik melalui jalur yang resmi dan aman,” pungkasnya.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara dengan Haji Wandi

Komentar

News Feed