Indonesia dan Iran Perkuat Kemitraan Ketenagakerjaan, Penyandang Disabilitas Jadi Perhatian Bersama

Min.co.id | Hyderabad, India – Di sela pertemuan para Menteri Ketenagakerjaan negara-negara BRICS, Indonesia dan Iran membuka ruang kolaborasi yang lebih luas untuk membangun dunia kerja yang inklusif. Tak hanya membahas peningkatan kualitas pelatihan vokasi, kedua negara juga menaruh perhatian pada perluasan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas serta penguatan sistem jaminan sosial ketenagakerjaan demi meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan bilateral Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli, dengan Menteri Koperasi, Ketenagakerjaan, dan Kesejahteraan Sosial Republik Islam Iran, Ahmad Meydari, di sela BRICS Labour and Employment Ministers’ Meeting (LEMM) di Hyderabad, India, Rabu (15/7/2026).

Dalam pertemuan itu, Menaker Yassierli menegaskan bahwa Indonesia menyambut baik peluang memperkuat kerja sama ketenagakerjaan melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik-praktik terbaik yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara.

“Kami meyakini terdapat potensi yang besar bagi Indonesia dan Iran untuk memperluas kolaborasi melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik-praktik terbaik yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujar Yassierli.

Salah satu fokus utama yang menjadi perhatian bersama adalah perluasan akses kerja bagi penyandang disabilitas. Indonesia dan Iran saling bertukar pandangan mengenai berbagai kebijakan yang mampu meningkatkan akses terhadap pelatihan, pengembangan keterampilan, serta kesempatan memperoleh pekerjaan yang setara dan inklusif.

Selain itu, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama di bidang pelatihan vokasi. Melalui program studi banding dan pertukaran pengetahuan, Indonesia dan Iran berkomitmen meningkatkan kualitas pelatihan kerja agar mampu menghasilkan tenaga kerja yang lebih kompeten, produktif, dan siap menghadapi kebutuhan dunia industri.

Penguatan sistem jaminan sosial ketenagakerjaan juga menjadi agenda penting dalam pembahasan. Indonesia mendorong adanya pertukaran pengalaman dalam penyusunan kebijakan maupun pengembangan program perlindungan sosial guna memperluas cakupan jaminan bagi para pekerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.

Pada kesempatan tersebut, Yassierli juga menyampaikan kesiapan Indonesia untuk berbagi pengalaman mengenai reformasi kebijakan ketenagakerjaan, pengembangan sumber daya manusia, pelatihan vokasi, hingga tata kelola pasar kerja.

“Kami berharap kementerian di kedua negara dapat menjajaki tindak lanjut yang konkret melalui pertukaran teknis, dialog antarpakar, serta program-program peningkatan kapasitas,” katanya.

Menurut Yassierli, pertemuan bilateral tersebut diharapkan menjadi langkah awal yang memperkuat hubungan Indonesia dan Iran melalui kerja sama nyata di bidang ketenagakerjaan. Kolaborasi itu diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas perlindungan pekerja, serta menghadirkan dunia kerja yang semakin inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Penulis: Redaksi 
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia,Diolah Redaksi

Komentar

News Feed