Min.co.id | Sorong – Di tengah dinamika keamanan global yang terus berkembang, kesiapan prajurit tidak hanya ditentukan oleh kekuatan alutsista dan kemampuan fisik, tetapi juga oleh ketajaman analisis serta pemahaman terhadap berbagai ancaman yang dapat muncul kapan saja.
Kesadaran itulah yang mendorong Satuan Kapal Patroli (Satrol) Kodaeral XIV menggelar Round Table Discussion (RTD) bertema Perkembangan Lingkungan Strategis (Banglingstra) dan Peperangan Modern di Ruang VIP Gedung Serba Guna Frans Kaisiepo, Markas Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) XIV Sorong, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (25/6/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Bulan Profesi TNI AL tersebut menjadi ruang diskusi strategis bagi para perwira untuk memperkuat wawasan sekaligus menyamakan persepsi dalam menghadapi tantangan pertahanan maritim di wilayah timur Indonesia.
Dalam forum yang berlangsung penuh antusias itu, Asisten Intelijen (Asintel) Dankodaeral XIV Sorong, Kolonel Laut (P) Ahmad Yunus, S.E., hadir sebagai narasumber utama. Ia memaparkan berbagai perkembangan lingkungan strategis serta memetakan empat ancaman spesifik yang berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan di wilayah kerja Kodaeral XIV.
Menurutnya, setiap ancaman yang muncul harus diantisipasi melalui langkah-langkah konkret, terukur, dan adaptif agar kesiapan pertahanan tetap terjaga.
Di era modern saat ini, ancaman terhadap kedaulatan negara tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka. Perkembangan teknologi, perubahan geopolitik, hingga dinamika kawasan menuntut aparat pertahanan untuk memiliki kemampuan membaca situasi secara cepat dan tepat.
Sementara itu, narasumber kedua, Ir Opslat Kodaeral XIV Kolonel Laut (P) Adhi Nugroho, M.Tr.Opsla., membahas paradigma perang gerilya laut yang menjadi salah satu strategi penting dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman maritim modern.
Materi tersebut memberikan gambaran bagaimana peperangan masa kini tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan konvensional, tetapi juga membutuhkan kreativitas, kecepatan pengambilan keputusan, serta kemampuan memanfaatkan karakteristik wilayah perairan Indonesia yang luas dan strategis.
Suasana diskusi berlangsung dinamis. Para peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif bertukar pandangan dan pengalaman lapangan mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga keamanan laut Nusantara.
Bagi para prajurit TNI AL, forum seperti ini menjadi sarana penting untuk memperkaya wawasan sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi perubahan lingkungan strategis yang semakin kompleks.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Komandan KRI Bawal-875 Letkol Laut (P) Bayu Indra Wirawan, S.H., Komandan KAL Wayag Kapten Laut (P) Agus Arief Wibowo, Dantim 1 Denintel Kodaeral XIV, para perwira gabungan Mako Kodaeral XIV, serta unsur KRI jajaran Kodaeral XIV.
Lebih dari sekadar forum akademis, Round Table Discussion ini menjadi cerminan komitmen TNI Angkatan Laut untuk terus membangun sumber daya manusia yang profesional, adaptif, dan siap menghadapi tantangan pertahanan masa depan.
Di wilayah timur Indonesia yang berbatasan langsung dengan berbagai jalur strategis internasional, kesiapsiagaan prajurit menjadi benteng utama dalam menjaga kedaulatan negara. Karena itu, penguatan kapasitas intelektual dan pemahaman terhadap perkembangan lingkungan strategis menjadi bagian penting dari upaya menjaga laut Indonesia tetap aman, damai, dan berdaulat.
Melalui kegiatan ini, TNI AL menegaskan bahwa menjaga kedaulatan bangsa tidak hanya dilakukan di geladak kapal perang, tetapi juga melalui ruang-ruang diskusi yang melahirkan pemikiran, strategi, dan langkah antisipatif demi masa depan pertahanan Indonesia.
Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Dispen Kodaeral XIV TNI AL,Diolah Redaksi










Komentar