Trebang Randu Kentir, Warisan yang Menolak Punah: Dede Jaelani Menjaga Denyut Budaya Indramayu dari Losarang

Min.co.id | Indramayu – Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus menggerus minat generasi muda terhadap seni tradisional, masih ada sosok yang setia menjaga nyala warisan budaya agar tidak padam ditelan zaman.

Sosok itu adalah Dede Jaelani Solichin, pendiri Sanggar Kesenian Asem Gede Losarang, yang sejak tahun 2009 konsisten menghidupkan kembali Tari Trebang Randu Kentir, salah satu kesenian khas Indramayu yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Tari Trebang Randu Kentir merupakan pengembangan dari Kesenian Trebang yang telah lama tumbuh dan berkembang di wilayah Kecamatan Losarang. Kesenian ini lahir dari perpaduan berbagai unsur budaya masyarakat, mulai dari tradisi lokal yang berakar pada kehidupan agraris, pengaruh kepercayaan masa lampau, hingga nilai-nilai Islam yang berkembang di wilayah Indramayu sejak abad ke-17.

Dalam perjalanan sejarahnya, Tari Trebang Randu Kentir mulai dikenal luas sekitar tahun 1970 melalui sentuhan kreatif seorang seniman bernama Cahya. Tarian tersebut mengangkat kisah rakyat tentang hanyutnya Nyi Dariwan di Sungai Cimanuk, sebuah cerita yang hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat dan menjadi bagian dari identitas budaya daerah.

Namun seiring berjalannya waktu, eksistensi kesenian tersebut sempat meredup. Kekhawatiran akan hilangnya warisan budaya itulah yang kemudian mendorong Dede Jaelani Solichin untuk kembali menghidupkan Tari Trebang Randu Kentir melalui Sanggar Kesenian Asem Gede Losarang.

Saat ditemui di sanggarnya, Dede menuturkan bahwa pelestarian kesenian tradisional bukan sekadar kegiatan seni, melainkan bentuk tanggung jawab moral kepada para pendahulu yang telah mewariskan kekayaan budaya kepada generasi saat ini.

“Kami berupaya mempertahankan Tari Trebang Randu Kentir agar tetap dikenal masyarakat, terutama generasi muda. Kesenian ini memiliki nilai sejarah, identitas budaya, dan pesan kehidupan yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Dede, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menampilkan pertunjukan sesekali. Dibutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan agar kesenian tradisional benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, Sanggar Kesenian Asem Gede secara rutin menggelar pelatihan tari bagi anak-anak hingga remaja. Materi pembelajaran disesuaikan dengan jenjang usia peserta, mulai tingkat sekolah dasar, SMP, hingga SMA sederajat.

Selain pelatihan rutin, sanggar juga melakukan pengembangan bentuk pertunjukan, penyusunan materi gerak tari yang lebih sistematis, serta sosialisasi kepada masyarakat agar kesenian ini tetap dikenal luas.

Upaya tersebut sejalan dengan program revitalisasi kesenian daerah yang pernah dilakukan Pemerintah Kabupaten Indramayu pada tahun 2011. Saat itu, berbagai kesenian tradisional, termasuk Tari Trebang Randu Kentir, didorong untuk kembali tumbuh dan berkembang sebagai aset budaya daerah.

Bagi Dede, menjaga kesenian tradisional berarti menjaga jati diri masyarakat. Ia meyakini bahwa kemajuan zaman tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan akar budaya sendiri.

“Kami berharap pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat terus memberikan dukungan. Kalau semua bergerak bersama, Tari Trebang Randu Kentir tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa berkembang dan dikenal lebih luas oleh generasi mendatang,” katanya.

Di tengah tantangan era digital, langkah yang dilakukan Sanggar Kesenian Asem Gede menjadi bukti bahwa budaya tidak akan pernah mati selama masih ada orang-orang yang bersedia merawatnya. Dari sebuah sanggar sederhana di Losarang, denyut Tari Trebang Randu Kentir terus berdetak, menjaga identitas Indramayu agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Penulis: Ade Nur
Editor: Redaksi Min.co.id
Sumber: Wawancara Langsung

Komentar

News Feed