Min.co.id ~ Indramayu ~ Rumah untuk nelayan bukan lagi sekadar wacana. Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan 20 ribu unit rumah subsidi khusus bagi para pahlawan laut.
Melihat peluang besar ini, Bupati Indramayu Lucky Hakim langsung tancap gas. Saat meninjau lokasi Kampung Nelayan Sejahtera di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Rabu (9/5/2025), ia mengumumkan kesiapan penuh untuk membawa pulang sebanyak-banyaknya jatah rumah ke Indramayu.
“Nanti kita kejar,” tegas Lucky.
“Pengajuan kita siapkan sebanyak-banyaknya, dan saya yang langsung akan temui Pak Menteri Ara.”
Sebagai daerah pesisir, jumlah nelayan di Indramayu sangat besar. Namun banyak dari mereka yang hidup di rumah tidak layak, bahkan ada yang tinggal di tanah timbul, bantaran muara, atau mengontrak seumur hidup.
“Dari kecil sampai punya anak, hidup ngontrak terus. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Lucky prihatin.
Karena itu, program ini menjadi angin segar yang sangat dinanti. Tak sekadar bangunan, tapi harapan dan harga diri yang kembali dibangun.
Di lokasi Kampung Nelayan Sejahtera yang sedang dibangun, Lucky memastikan setiap detail berjalan dengan baik: dari rumah, masjid, hingga sentra UMKM dan zakat center. Semuanya di atas lahan hampir 1 hektare yang dibebaskan Pemkab Indramayu senilai Rp4,6 miliar.
Sebanyak 93 unit rumah dibangun dengan anggaran Kementerian Sosial RI, ditambah fasilitas pendukung dari Baznas RI. Tapi Lucky tak ingin berhenti di situ.
“Kita ingin jumlahnya ditambah. Kita akan terus koordinasi ke pusat,” ujarnya optimis.
Meski mengakui sulitnya menyiapkan lahan yang cocok untuk nelayan—karena mereka tak mau jauh dari laut Pemkab tetap berkomitmen. Lokasi akan dipilih dengan mempertimbangkan akses dan kenyamanan, agar tidak merenggut mata pencaharian nelayan.
“Kami akan cari yang paling cocok. Prinsipnya, kita ingin kualitas hidup mereka benar-benar naik,” kata Lucky.
Dengan semangat mengejar jatah 20 ribu rumah subsidi, Lucky Hakim menunjukkan bahwa di Indramayu, nelayan tak hanya jadi penonton pembangunan. Mereka juga bisa pulang ke rumah sendiri, bukan lagi ke kontrakan.
Dan semuanya dimulai dari satu niat: “Kita kejar!” (*)










Komentar