Min.co.id | Indramayu — Di tengah dunia anak muda yang semakin akrab dengan musik modern dan hiburan digital, bunyi gamelan degung masih mendapat tempat di SMP Negeri 1 Gantar, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu.
Melalui kegiatan ekstrakurikuler, para siswa diajak mengenal alat musik tradisional Jawa Barat sekaligus belajar menjaga warisan budaya agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
Kegiatan yang melibatkan siswa kelas VII hingga IX itu menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkenalan langsung dengan kesenian Sunda. Mereka tidak hanya belajar mengenali bunyi instrumen, tetapi juga mendapat kesempatan mengembangkan minat dan bakat di bidang seni tradisional.
Salah seorang guru sekaligus pemain kendang, Eman Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai wadah bagi siswa yang tertarik mempelajari musik tradisional, khususnya gamelan degung.
“Tujuannya untuk melestarikan budaya Jawa Barat, supaya tidak hilang ditelan zaman dan tidak tergeser oleh budaya modern,” ungkap Eman saat ditemui di sela kegiatan ekstrakurikuler, Selasa (27/10/2026).
Menurut Eman, kesempatan mengikuti kegiatan ini terbuka bagi siswa dari seluruh tingkat kelas. Dengan begitu, pengenalan kesenian tradisional tidak hanya menjadi pengalaman bagi siswa tertentu, tetapi dapat diikuti oleh lebih banyak generasi muda di lingkungan sekolah.
Latihan dijadwalkan satu kali dalam sepekan, yakni setiap Rabu. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran didampingi guru seni yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Eman turut membantu karena memiliki ketertarikan terhadap kesenian tradisional.
“Kalau yang kompeten di bidang seni itu Bu Ai. Saya hanya membantu karena memang senang dengan kesenian ini,” tuturnya.
Seperangkat gamelan degung yang dimiliki sekolah menjadi sarana utama bagi siswa untuk mengenal instrumen dan mempelajari dasar-dasar permainan. Melalui latihan rutin, mereka mendapat kesempatan memahami karakter bunyi serta mengenal kekayaan musikal yang tumbuh dalam kebudayaan Sunda.
Eman menjelaskan, perangkat gamelan memiliki tingkatan kualitas, mulai dari standar hingga kualitas yang lebih tinggi. Perbedaan itu, antara lain, dapat dikenali dari karakter suara yang dihasilkan instrumen.
Meski peralatan yang tersedia masih tergolong standar untuk kebutuhan latihan sekolah, keberadaannya tetap memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara langsung. Dalam kegiatan seni, kesempatan untuk mencoba, berlatih, dan memahami instrumen menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
Ekstrakurikuler ini juga membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan di luar pelajaran kelas. Minat terhadap musik tradisional dapat tumbuh melalui pengalaman memainkan alat musik, berlatih secara teratur, dan mengenal nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Pelestarian kesenian tradisional tidak cukup hanya dengan mengenalkannya melalui buku atau penjelasan di ruang kelas. Generasi muda juga membutuhkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan kesenian tersebut agar dapat mengenal, memahami, dan menghargainya.
Di SMPN 1 Gantar, kegiatan gamelan degung menjadi salah satu upaya mengenalkan warisan budaya Jawa Barat kepada siswa sejak usia sekolah. Langkah ini diharapkan menumbuhkan kebanggaan terhadap kesenian daerah sekaligus menjaga agar musik tradisional tetap dikenal di tengah perubahan selera hiburan.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat terus berjalan secara konsisten, didukung ketersediaan sarana latihan dan pendampingan guru yang kompeten. Dengan dukungan tersebut, siswa tidak hanya mengenal gamelan degung, tetapi juga berpeluang mengembangkan keterampilan dan menampilkan kesenian tradisional dalam berbagai kegiatan sekolah maupun masyarakat.
Bagi pelestarian budaya, harapan terbesarnya bukan sekadar agar alat musik tetap tersimpan di sekolah. Lebih dari itu, gamelan degung diharapkan terus dimainkan, dipelajari, dan diwariskan oleh generasi muda.
Dari ruang latihan sederhana di sekolah, kecintaan terhadap budaya daerah dapat tumbuh. Sebuah langkah kecil yang diharapkan ikut menjaga agar warisan seni Sunda tetap hidup dan memiliki tempat di hati generasi penerus.(WH)






Komentar